LombokPost – Cuaca panas tidak hanya membuat tubuh cepat berkeringat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan pola makan dan asupan cairan agar kondisi tubuh tetap bugar saat beraktivitas.
Ahli Gizi RSUD Provinsi NTB Siti Utami Sulasty, S.Gz., M.Gz., RD mengatakan, cuaca panas bukan alasan untuk mengurangi frekuensi makan. Meski nafsu makan terkadang menurun, kebutuhan energi dan zat gizi tubuh tetap harus dipenuhi.
“Pilih makanan dengan zat gizi seimbang, tetapi porsinya tidak terlalu berat. Buah, sayuran, dan makanan berkuah juga dapat membantu menambah asupan cairan,” ujar Ami, sapaannya.
Menurutnya, masyarakat juga perlu membiasakan minum air secara teratur dan tidak menunggu hingga merasa sangat haus. Terlebih bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan dan mengeluarkan keringat dalam jumlah cukup banyak.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan, masyarakat dapat mengonsumsi buah dan sayuran yang memiliki kandungan air tinggi. Di antaranya semangka, melon, jeruk, pepaya, nanas, mentimun, dan tomat.
Selain memberikan cairan, bahan makanan tersebut juga mengandung vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh.
Sementara kebutuhan elektrolit, terutama kalium, dapat diperoleh dari pisang, jeruk, kentang, sayuran hijau, serta kacang-kacangan.
“Untuk natrium, sebenarnya bisa diperoleh dari makanan sehari-hari. Penggunaan garam tetap secukupnya, tidak berlebihan,” jelasnya.
Baca Juga: Sikap Berkelas Andrew Robertson Terkait Kasus 114 Dakwaan Manchester City
Ami juga mengingatkan masyarakat agar membatasi konsumsi minuman tinggi gula, alkohol, serta kafein secara berlebihan ketika cuaca panas. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga hidrasi.
Minuman dengan kandungan gula tinggi kurang ideal jika dijadikan pengganti air putih. Begitu juga konsumsi kafein dalam jumlah tinggi yang tidak dianjurkan menggantikan kebutuhan cairan tubuh.
Sementara alkohol dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui urine dan mengganggu respons tubuh terhadap panas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi maupun gangguan akibat paparan panas.
Namun, kebutuhan cairan juga harus disesuaikan dengan aktivitas. Bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan seperti pedagang, kurir, petani, maupun pekerja konstruksi, asupan cairan perlu mendapat perhatian lebih.
“Pekerja luar ruangan perlu makan sebelum bekerja, membawa air minum, dan minum secara teratur sebelum merasa haus,” katanya.
Untuk aktivitas sedang di lingkungan panas selama kurang dari dua jam, kebutuhan minum perlu dilakukan secara berkala. Pada aktivitas yang membuat seseorang berkeringat selama beberapa jam, minuman dengan elektrolit seimbang dapat dipertimbangkan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.
Baca Juga: Efek Kasus Manchester City, Manchester United Mulai Hitung Potensi Kerugian Finansial
Selain cairan, pola makan pekerja juga harus mencukupi kebutuhan energi. Menu sebaiknya tetap terdiri dari sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam komposisi seimbang.
Ami menyebut beberapa kesalahan yang masih sering dilakukan masyarakat saat cuaca panas. Di antaranya menunggu haus baru minum, mengganti air putih dengan minuman manis, melewatkan waktu makan, serta mengonsumsi kopi atau minuman manis secara berlebihan.
“Minum teratur, makan seimbang, pilih buah dan sayur yang mengandung banyak air atau makanan berkuah, serta sesuaikan cairan dengan aktivitas dan produksi keringat,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh gejala akibat panas. Pusing, lemas, sakit kepala, mual, kram, kebingungan, hingga penurunan kesadaran perlu diwaspadai.
Jika gejala tersebut muncul, aktivitas sebaiknya segera dihentikan dan tubuh dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Pada kondisi berat, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis.
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Lombok Post