Rasanya, kata dia, tidak kalah dengan asalnya di Rembiga Kota Mataram. Kalau tidak percaya, dipersilakan datang langsung ke Dapur Lombok di bundaran pintu masuk Lombok International Airport (LIA). Daging sapi yang digunakan, daging-daging pilihan.
Tidak mengandung zat kimia berbahaya sedikit pun. Sehingga mampu bertahan selama tiga hari. Yang terpenting, dikukus atau dipanasin lagi. Bagi yang belum pernah merasakannya, dipastikan nambah lagi.
Lombok Post, diberikan kesempatan untuk mencoba. Ternyata, benar-benar maknyus. Rasa daging sapi nya empuk dan lunak. Kemudian rasa bumbu nya, benar-benar mengundang selera makan. Per tusuk Sate Rembiga itu dijual Rp 5 ribu. Harga tersebut, sebanding dengan rasa.
Dia ingin, nama Sate Rambiga semakin dikenal luas, tidak saja oleh warga Lombok. Tapi, Nusantara. Harapannya, bagi pencinta kuliner yang datang berlibur ke Pulau Lombok, pertama kali yang dicari adalah Sate Rembiga. Sama seperti nama Ayam Taliwang.
“Menu yang satu itu juga kami siapkan,” cetus Wildan sembari tersenyum. Boleh-boleh saja Ayam Taliwang merupakan kuliner khas Sumbawa. Tapi, di Lombok juga ada. Bedanya, racikan bumbu. Di Lombok terasa pedas.
Selain itu, ayam yang digunakan, ayam-ayam pilihan. “Menu-menu lain ada juga. Semua bernuansa khas Dapur Lombok,” tambah Manager Dapur Lombok Tahrir Alwi.(dss/r3) Editor : Baiq Farida