Jangan mencoba narkoba. Apapun jenisnya. Dampaknya sangat berbahaya. Menghancurkan moral, ekonomi, sosial, dan keluarga. Mantan pecandu narkoba menjadi bukti pernah merasakannya. Berikut ceritanya.
====
Delapan tahun lalu, Mursidin menjadi pemuda tangguh. Dia menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi swasta di NTB. Jurusannya teknik Informatika.
Sambil kuliah, pria asal Desa Taman Ayu, Gerung, Lombok Barat (Lobar) juga bekerja. Menjadi kontraktor. Proyek yang dipegangnya cukup banyak. Kantongnya selalu terisi full.
Hingga dua tahun kuliah, dia meminang kekasihnya ke pelaminan. Rejekinya sebagai pekerja kontraktor tak surut. ”Waku itu saya bisa beli rumah, mobil, dan menafkahi keluarga,” kata Mursidin.
Sayangnya, pergaulan kampus merusaknya. Pertama kali ditawarkan narkoba oleh rekan kampusnya. ”Coba kamu pakai ini (narkoba), rasanya bikin kamu lebih fresh, kuat, dan percaya diri,” cerita Mursidin mengingat tawaran rekannya saat pertama kali mencoba narkoba.
Dia termakan rayuan temannya. Akhirnya dicoba. Pertama kali menggunakan dia tak merasakan apapun. ”Kalau masalah rasa sih biasa saja,” ungkapnya.
Namanya juga pergaulan, akhirnya berkali-kali diminta mencoba. Hingga tiga kali diberikan secara gratis. ”Setelah itu, diminta mengeluarkan uang sharing dan akhirnya harus mengeluarkan uang sendiri,” ceritanya.
Saat menggunakan narkoba yang dirasakan hanya halusinasi. Pikirannya itu macam-macam. ”Berkhayal jadi orang ganteng, kita merasakan itu. Karena wajar kita sedang berhalusinasi. Ya, lebih percaya diri lah,” ujarnya.
Setelah beberapa bulan menggunakan narkoba jenis sabu secara rutin, pria kelahiran 27 Mei 1987 itu masuk dalam fase pecandu. Satu hingga empat hari dia bisa menghabiskan sabu-sabu hingga satu gram. ”Per gram sabu saat itu harganya saya beli Rp 1,4 juta,” ingatnya.
”Sekarang per gram harganya Rp 2 juta,” bebernya.
Tak terasa, kecanduan narkoba membuatnya hancur. Mobil dan rumahnya dijual. Perusahaan yang dibangun bersama istrinya bangkrut. ”Semua saya jual. Semua itu gara-gara narkoba,” ungkapnya.
Efeknya ke rumah tangga. Hubungannya dengan keluarga menjadi renggang. Hampir berpisah karena setiap hari harus bertengkar.
Stress melanda. Pemasukan kantong yang tak seperti dulu terenggut gara-gara narkoba menambah beban pikiran. ”Rumah tangga saya berantakan,” ingatnya.
Syukur ada keluarganya yang masih peduli. Mereka menasihatinya. ”Saya diminta untuk berhenti mengkonsumsi narkoba,” bebernya.
Bagaimana tidak, semua barang berharga sudah hilang. Semua gara-gara narkoba. ”Sejak itu saya merenungi diri saya,” ujarnya.
Mursidin lalu berupaya mengurangi pemakaiannya. Mulai bawaannya ingin selalu tidur. ”Sehari saya tidak pakai, tiga hari saya tidur makan saja kerjaannya,” kata dia menceritakan yang dialaminya.
”Muka saya mulai pucat. Bawaannya lemas,” bebernya.
Dia menceritakan, badannya serasa remuk. Kepala pusing, bahkan nafsu makan berkurang. ”Masih dibayang-bayangi rasa penyesalan. Seperti rasanya ingin mati,” ujarnya.
”Saraf saya diserang. Jadi berpikir seperti ada orang yang ingin mencabut nyawa datang menghampiri. Begitu halusinasi yang saya rasakan,” ungkapnya.
Sehingga, dia dirujuk ke rumah sakit. Dia mendapatkan perawatan medis selama tiga hari. ”Selama itu saya tidur saja,” jelasnya.
Karena, dokter menganggap sarafnya diserang, sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Disitu dirawat intensif. ”Di rumah sakit itu saya mendapatkan perawatan psikolog,” ungkapnya.
Setelah keluar dari RSJ, Mursidin memberanikan diri datang ke Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menjalani rehab. Setelah menjalani tes, dia termasuk golongan pecandu berat. ”Akhirnya, saya direhabilitasi di Lido, Bogor, Jawa Barat,” ungkapnya.
Di lokasi itu dia mendapatkan pembinaan khusus. Dia berbaur langsung bersama dokter kesehatan, psikolog, dan para pecandu narkoba level berat lainnya. “Dilokasi itu saya diberikan pembelajaran dan pelatihan khusus,” ujarnya.
Dia mendapatkan pelatihan untuk mendapatkan mempersiapkan diri berbaur dengan masyarakat. ”Kita dibina agar menjadi lebih baik,” kata dia.
Beberapa bulan rehabilitasi dan dibina di Bogor, Mursidin lebih percaya diri. ”Semenjak peristiwa pahit yang saya rasakan itu membuat saya berjanji tidak akan menyentuh narkoba lagi,” ikrar Mursidin.
Setelah sehat, Mursidin membuat organisasi khusus untuk melawan narkoba. ”Saya membuat organisasi. Namanya, GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba),” jelasnya.
Dia bertekad menjadi relawan pegiat anti narkoba untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang bahayanya narkoba. ”Saya ini yang sudah menjadi korban. Paling tidak jangan sampai ada korban yang lain,” harapnya.
Menggunakan narkoba itu membuat orang menjadi melarat, sakit, dan sekarat. ”Jangan sekali-kali menggunakannya,” pesannya.
Mursidin mengatakan, selama dia bergelut menjadi relawan anti narkoba, sudah ada 10 orang pengguna yang diserahkan ke BNN untuk menjalani rehabilitasi. ”Sebenarnya ada 10 orang lagi yang akan kita usulkan untuk menjalani rehab. Tetapi, karena Covid-19, rehabilitasinya tertunda,” ungkapnya.
BNN Rangkul Mantan Pecandu Jadi Agen Pemulihan
Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB terus berupaya memutus rantai pengguna narkoba. Selain melakukan penindakan, mereka juga memberikan kesempatan kepada para pengguna untuk melakukan rehabilitasi. ”Khusus untuk rehabilitasi ini, kita bekerjasama dengan mantan para pecandu,” kata Kepala BNN NTB Brigjen Pol Sugianyar.
Mereka menjadi agen pemulihan bagi para pengguna narkoba yang lain. Nantinya, mereka yang menjadi relawan mengajak rekan-rekannya untuk menjalankan rehabilitasi. ”Kita berikan mereka pembinaan agar terhindar dari penggunaan narkoba,” bebernya.
Dia mengingatkan, tidak ada istilah sembuh bagi pengguna narkoba. Tetapi, mereka bisaaa pulih. ”Para pengguna itu tetap memiliki hasrat untuk terus menggunakan narkoba,” ujarnyaa.
Keinginannya itu yang harus diurungkan. Caranya, mengajak mereka agar melakukan kegiatan positif dan lain sebagainya. ”Kalau masih dipengaruhi faktor lingkungan yang terdapat para penggunanya dengan bebas menggunakan narkoba, bisa saja dia terjangkit, meskipun sudah direhabilitasi,” ujarnya.
Untuk itu, mereka juga butuh dukungan dari keluarga, lingkungan sekitar, dan rekan-rekannya. “Paling tidak orang terdekat harus mendukungnya agar tidak menggunakan narkoba,” ungkapnya.
Mengikuti rehabilitasi di BNN tidak dipungut biaya. Rahasia pribadi terjamin. Tidak bakal dipidana apabila tidak terlibat jaringan pengedar atau bandar. ”Silakan datang ke kami. Kalau ada sanak keluarga atau rekan yang terjangkit menjadi pengguna datang saja ke kami. Semua gratis,” kata dia.
Dari data yang dicatat BNN, 90 persen pengguna menggunakan narkoba jenis sabu. Sisanya jenis narkoba lainnya. ”Penggunaanya didominasi remaja. Bahkan pelajar,” ungkapnya.
Itu bukan saja menjadi tugas BNN. Melainkan perang terhadap narkoba itu harus digaungkan bersama. Masyarakat, instansi pemerintah, kepolisian, TNI, dan seluruh stakeholder lainnya harus bersatu padu melawan narkoba. ”Ayo kita perangi narkoba,” pesannya. (arl/r2)
Editor : Redaksi Lombok Post Online