FATIH KUDUS JAELANI, Lombok Timur
SABTU siang yang mendung. Udara dingin di Desa Sapit menusuk hingga ke tulang. Jalan kecil dengan aspal seadanya dipenuhi lalu lalang pendaki yang datang dan pulang. Desa tua yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu sepenuhnya menyuguhkan keindahan. Ada puncak bukit Pal Jepang menjulang ditutupi kabut tebal dari kejauhan. Ada terasering di samping kiri dan kanan jalan yang menawan.
Di tengah hilir mudik para pendaki, Didik Kurniawan, Sekretaris Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit tengah sibuk merekap data pengunjung. Lelaki 24 tahun itu mengaku kelimpungan dengan data yang berseliweran. “Pendakian sampai Agustus nanti sudah penuh,” kata Didik pada Lombok Post.
Pengunjung ke Bukit Pal Jepang seperti sebuah ledakan bom atom. Selalu penuh semenjak pertama kali dibuka pada 20 Juni lalu. Di mana waktu itu merupakan hari pertama dibukanya pintu pariwisata oleh Dispar Lotim yang merujuk pada surat edaran Dispar Provinsi.
Sejak saat itu, bukit Pal Jepang selalu dipenuhi pendaki. Dengan perhitungan 150 orang per dua hari satu malam. Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit mematok tarif Rp 15 ribu per orang. Dari karcis saja, mereka mendapatkan Rp 2,2 juta semalam. Ditambah parkir Rp 10 ribu per motor. Dengan penghasilan kotor tersebut, hitung saja, berapa yang mereka dapatkan dalam satu bulan dengan total 3.550 pengunjung.
“Alhamdulillah, rasanya seperti hujan setelah dilanda kemarau berbulan-bulan,” terang Didik.
Seolah seperti berkah di tengah wabah. Dampak pandemi Covid-19 yang membuat para pelaku usaha pariwisata terhimpit secara ekonomi kini sudah mulai terbantukan. Tak hanya para pelaku usaha pariwisata, Didik mengatakan, 135 pemuda di desanya bisa bekerja. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang tak tahu harus mengerjakan apa karena diliburkan. Selain itu, hasil pertanian masyarakat juga ludes terjual pada para pendaki. Beberapa pedagang juga membuka lapak di area parkir pendakian.
“Semua sangat merasakan dampaknya,” jelasnya.
Pemuda Desa Sapit rata-rata bisa mendapat Rp 500 sampai 600 ribu per bulan dari hasil berjaga. Belum lagi penghasilan-penghasilan lainnya, seperti porter, guide, dan berbagai jenis jasa pendakian lainnya.
Pertama Terapkan Booking Online
Meski setiap hari camping ground bukit Pal Jepang sesuai kapasitas yang diterapkan selalu penuh, tetap ada saja pengunjung yang mengurungkan niat untuk datang. Atau mungkin terkendala oleh satu dan lain hal. Di sisi lain, pihaknya juga tegas menolak mereka yang datang tanpa mengenakan masker.
Kata Didik, kendati di satu sisi wisata minat khusus pendakian menjadi pilihan kebanyakan orang, aturan menerapkan protokol kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri. Apalagi yang mereka tangani adalah ratusan manusia dengan berbagai keterbatasan pengelola.
“Karena itu dari awal kami melakukan sistem booking online. Jadi tidak ada istilah beli tiket di lokasi,” jelasnya.
Sistem booking online memudahkannya untuk mendata pengunjung. Mulai dari nama, alamat, dan jumlah. Dari sana, Didik bisa mengetahui kebanyakan pengunjung yang datang dari Mataram dan Lobar.
“Hampir 50 persen lebih dari sana,” terangnya.
Tapi meski namanya sistem booking online, bukan berarti Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit sudah memiliki aplikasi khusus. Sembari tersenyum, Didik mengatakan, pesannya via whatsapp. Ya, kata online tidak harus memiliki aplikasi. Meski saat ini pihaknya tengah menyiapkan anggaran untuk membeli aplikasi khusus untuk itu.
Dari sistem booking online juga, ia bisa mendapat feedback dari para pengunjung. Kata Didik, inilah yang membuat pengunjung semakin banyak berdatangan. Sampai-sampai, di pertengah Juli lalu, ia sudah menutup booking sampai pertengahan Agustus mendatang.
“Saya belum tahu apakah nanti akan menerima atau tidak,” ujarnya.
Justru Baru Dibuka
Berbeda dengan bukit-bukit lainnya, Pal Jepang tidak dibuka kembali. Melainkan memang untuk pertama kalinya dibuka. Kata Didik, dibukanya pendakian ke bukit Pal Jepang merupakan penantian yang lama. “Kami sudah mulai mempersiapkan bukit ini sejak 2016 lalu,” jelasnya.
Pembukaan dilakukan oleh Pokdarwis. Namun saat itu, ia tak bisa langsung membuka pendakian. Meski jalur dan segala persiapan lainnya telah dimatangkan. Untuk hal tersebut, Ketua Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit Jannatan Firdaus menerangkan, Desa Sapit adalah desa tua bersejarah yang masyarakatnya masih memegang erat adat budaya mereka.
Karena itu, ia butuh sebuah lembaga yang dapat menjadi benteng warga saat desa itu dihujani oleh pendatang. Jangan sampai tanah-tanah dikapling orang asing dan masyarakat jadi penonton di rumah sendiri.
“Pada 2017, kami membuat Lembaga Masyarakat Adatnya,” jelas Jannatan.
Namun lembaga adat saja tidak cukup. Saat ingin dibuka 2018 lalu, gempa bumi melanda. Bencana itu menutup pintu terbukanya Bukit Pal Jepang. Hal serupa terjadi di 2019.
“Ternyata inilah saatnya. Di tengah pandemi yang berdampak besar bagi keberlangsungan hidup para pelaku usaha pariwisata di desa ini,” sambung Didik.
Apa yang dilakukan? Pada saat Covid-19 mulai merebak di Lotim pada Maret lalu, saat semua orang diminta berdiam diri di rumah, mereka justru naik ke atas bukti untuk membersihkan area camping ground. Rasanya seperti sudah mengetahui akan adanya minat wisatawan yang membeludak ke wisata pendakian.
Mengenai hal itu, Didik menerangkan, sebagai anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia, ia mendapat informasi tentang akan adanya tren tersebut. Meski saat itu tak mudah untuk meyakinkan para pemuda untuk bekerja membersihkan bukit, tapi ia memiliki keyakinan tentang hasil yang akan didapatkan. (*/r6)
Editor : Administrator