Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
Sekitar pukul 16.00 Wita, anak-anak yang belajar mengaji dan menghafal Alquran berdatangan ke rumah tahfidz milik Ustad Akhyarosidi. Di teras rumahnya, ayah tiga anak yang akrab disapa Akhyar itu menyambut muridnya dengan hangat. Anak-anak itu dengan takzim menyalami guru ngajinya. “Laki-laki di teras, perempuan di dalam,” kata Akhyar pada Lombok Post.
Rumah Tahfidz yang didirikannya pada 2020 lalu berada di lingkungan Bagik Longgek Timur, Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong. Seperti namanya, lokasi Darul Quran itu memang berada di rumahnya sendiri. Ia mulai memberanikan diri membuka tempat sendiri setelah keluar dari salah satu tempat belajar menghafal Alquran di Selong.
Kata Akhyar, saat itu ia merasa beberapa metode yang menurutnya harus diterapkan tidak bisa lagi diterapkan di tempat sebelumnya. “Dari pada target tidak terpenuhi, saya memulai sendiri. Meskipun mulai dari rumah sendiri,” jelasnya.
Mungkin karena itu jugalah namanya rumah tahfidz. Karena lokasinya benar-benar di rumah. Muridnya sendiri belum bisa lebih dari 30 santri. Tapi walaupun ruang yang dimilikinya saat ini sangat terbatas, bukan berarti target yang ditawarkan rendah. Karena itulah yang selama ini terbukti membawa orang tua menyerahkan putra-putrinya ke rumah tahfidznya Akhyar.
Dengan suaranya yang fasih melafalkan tajwid, Akhyar menerangkan, dalam enam bulan anak dipastikan khatam ikra’. “Anak yang belajarnya cepat bisa sampai lima bulan. Sementara yang kemampuannya sangat rendah saya bisa pastikan paling lama 9 bulan,” jelasnya.
Sementara untuk program tahfidz, ia menargetkan tiga sampai lima juz dalam satu tahun. Menurut Akhyar, tentu hal itu tidak mudah. Karena tantangan mengajarkan anak sangat besar. Butuh kesabaran berlapis-lapis dengan metode yang terus dikembangkan. Ia menerangkan, selama ini banyak orang tua yang memindahkan anaknya ke rumah tahfidz miliknya karena merasa metode yang ia terapkan sangat mudah dicerna anak.
Berbicara iuran bulanan, ia mematok Rp 100 ribu per anak. Menurut Akhyar, jumlah itu sebenarnya tidak sesuai dibanding tenaga yang dibutuhkan. Karena satu pengajar maksimal menangani 10 anak. Namun ia tak ingin menaikkan tarif tersebut. Karena niat rumah tahfidz tak hanya dari materi. “Insyaallah, apa yang kami lakukan ini berkah,” ujarnya. (*/r5) Editor : Administrator