HAMDANI WATHONI, Mataram
"Di luar sana masih banyak pasangan yang telah menikah bertahun-tahun namun belum juga dikaruniai anak," kata dr Hj Eka Nurhayati, Sp.OG-KFER yang mengampu program penanganan infertilitas di RSUD Kota Mataram.
Menurutnya, infertilitas merupakan masalah yang menerpa suami istri yang tak kunjung mendapatkan momongan. Kondisi ini diartikan sebagai gangguan sistem reproduksi yang ditandai dengan kegagalan pasangan suami istri untuk mendapatkan kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seks tanpa kontrasepsi.
Program hamil merupakan serangkaian prosedur untuk membantu pasangan yang ingin memiliki keturunan. Menanti kehamilan bisa menjadi hal yang mendebarkan. Rata-rata wanita di usia produktif bisa langsung hamil setelah 4-6 bulan menikah. Banyak juga yang berhasil hamil setelah satu tahun menikah, asalkan hubungan seks rutin dilakukan tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
Namun saat momongan yang dinantikan belum juga hadir setelah lebih dari satu tahun, maka pasangan disarankan konsultasi ke tenaga ahli. Ini penting sebagai salah satu ikhtiar untuk mendapatkan momongan.
Salah satunya bisa berkonsultasi ke dr Hj.Eka Nurhayati Sp.OG-KFER. Ia merupakan satu-satunya konsultan fertilitas endokrinologi reproduksi di NTB. "Saat memutuskan untuk menjalani program hamil, ada banyak langkah yang harus dilakukan sampai mencapai kehamilan," paparnya.
Langkah pertama, pasangan diharuskan berkonsultasi perihal masalah ketidaksuburan. Dokter akan menanyakan perihal siklus menstruasi dan frekuensi hubungan seksual. Selanjutnya, beberapa tes yang mungkin dilakukan antara lain tes darah, pemeriksaan hormon, analisis sperma, USG dan lain sebagainya.
Tujuannya untuk mengetahui apakah ada gangguan yang menyebabkan infertilitas. Tes kesuburan pada pria dan wanita berbeda jenisnya. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyarankan untuk dilakukan pengobatan sebelum program kehamilan dimulai.
Pemeriksaan infertilitas, lanjutnya, harus dilakukan suami istri mengingat infertilitas bisa terjadi karena faktor pria, wanita, atau keduanya.
"Pada wanita akan dilakukan pemeriksaan infertilitas dasar seperti USG transvaginal untuk melihat adakah kelainan pada alat reproduksi, lalu pemeriksaan hormon jika diperlukan, dan juga pemeriksaan HSG (histerosalpingografi) untuk mengevaluasi adakah penyumbatan pada saluran telur," jelas dokter yang bertugas di RSUD Kota Mataram ini.
Sementara untuk pria, akan dilakukan analisis sperma untuk menilai kualitas dan kuantitas sperma. Yang tak kalah penting dalam menjalani program kehamilan ialah harus sabar dan tidak mudah patah semangat mengingat terapi kadang harus dilakukan bertahap dan membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil.
"Suami dan istri juga harus saling memberikan dukungan," pungkas perempuan yang juga istri Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra itu. (*/r3) Editor : Administrator