Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
Di pagi Sabtu yang cerah, ibu-ibu kader Posyandu Keluarga Cahaya Kasih mengadakan pertemuan. Mereka berkumpul di pos terpadu yang berada di rumah Ketua PKK Desa Moyot, Kecamatan Sakra. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan kunjungan Wakil Gubernur NTB Hj Siti Rohmi Djalilah yang direncanakan hari ini.
Persiapan yang dilakukan bukan memoles yang tidak ada menjadi ada agar nampak baik di mata wagub. Tapi merapikan kembali perubahan data terkini. “Saat ini ada 53 balita dan 3 tiga ibu hamil,” kata Ketua Posyandu Cahaya Kasih Dewi Sartika pada penulis koran ini.
Kelebihan posyandu yang dinakhodai Dewi ini adalah ia sudah bertransformasi dari posyandu konvensional menjadi posyandu keluarga. Tidak hanya berubah nama, tapi juga pelayanan. Mulai dari jumlah kader yang bertambah dari 5 ke 8, sampai dengan sistem pelayanan prima yang diberikan.
Tanpa ketangguhan ibu-ibu Kader, transformasi posyandu ini tak akan bisa berjalan sesuai harapan. Sumarni, salah seorang kader posyandu senior di sana menerangkan, kendati sudah mengalami perubahan, tetap saja masih banyak kendala yang dihadapi oleh para kader. “Kendala ini terjadi pada posyandu secara umum di Lotim,” terangnya.
Kendala tersebut berupa masih minimnya SDM kader. Tidak sedikit kader yang lulusan SD. Menurut Sumarni, perkembangan dunia kesehatan yang sudah serba digital saat ini membutuhkan SDM yang mumpuni. Kader yang jenjang pendidikannya rendah akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan perkembangan tersebut. Materi yang didapatkan pada pengembangan kapasitas juga akan cukup sulit diterima. “Kalau tidak sarjana, seharusnya minimal lulusannya SMA,” jelasnya.
Kendala lainnya adalah, belum adanya gedung khusus Posyandu. Menurutnya, selama puluhan tahun menjadi kader, lokasi posyandu selalu berpindah-pindah sesuai dengan pergantian Ketua PKK Desa. Ia berharap, dengan adanya gedung khusus posyandu yang permanen, pelayanan juga bisa ditingkatkan.
Namun tantangan besar lainnya adalah ada pada diri sendiri. Kata Dewi Sartika, ibu-ibu kader memiliki tanggung jawab mengurus rumah tangga. Seringkali hal itu menjadi persoalan ketika mereka disibukkan oleh pekerjaan menjadi kader. “Kadang dapat keluhan juga dari suami,” ujar Dewi.
Tapi mereka tetap bertahan. Karena sudah mendapat kebahagiaan dan kepuasaan ketika dapat melayani warga. Mereka senang, karena ada aktifitas. Dibanding jika harus berdiam diri di rumah. Namun mereka bukan pahlawan super. Dengan beban kerja yang terbilang tidak ringan, mereka juga berharap mendapatkan insentif bulanan yang layak.
“Sekarang dapatnya Rp 165 ribu per bulan. Itu pun syukurnya luar biasa,” terang Dewi. (*/r5)
Editor : Administrator