HAMDANI WATHONI, Mataram
Keringat mereka belum kering saat Lombok Post mendatangi TPU Karang Medain, siang kemarin (3/8). Empat orang duduk di atas pemakaman. Salah satunya adalah Lalu Alimudin, penggali kuburan TPU Karang Medain.
Hari itu baru saja berlangsung pemakaman salah satu warga. Lalu Alimudin duduk berempat tak jauh dari lokasi warga yang telah melangsungkan pemakaman.
"Sebenarnya delapan orang. Tapi ada yang masih buka baju masih keringetan di belakang," terangnya.
Udin sapaannya adalah orang yang paling lama dan setiap saat berada di TPU Karang Medain. Ia sudah 30 tahun lebih menjadi penjaga TPU merangkap tukang gali kubur. Ia merasakan, semenjak pandemi jumlah pemakaman terus meningkat.
Dulu, sebelum pandemi Covid-19 melanda, jumlah pemakaman rata-rata di bawah 30 dalam sebulan. Saat ini, rata-rata pemakaman per bulan di atas 30 jenazah. Bahkan bisa dua kali lipatnya seperti jumlah pemakaman Bulan Juli lalu.
"Kemarin pas saat pemakaman Camat Ampenan, bahkan ada enam pemakaman dalam sehari," tuturnya.
Tidak hanya pemakaman biasa, tetapi juga pemakaman jenazah pasien Covid-19 dilakukan di TPU Karang Medain. "Banyak jenazah yang Covid-19 itu dibawa ke sini. Ya kita bantu," jelasnya.
Ia mendapat informasi jika jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus. Karena ketika orang meninggal dunia, maka virus juga dikabarkan tak bisa menular lagi. Sehingga ini mengurangi kekhawatiran untuk penularan. Ia pun tak ragu membantu petugas pemakaman Covid-19 dari rumah sakit.
Semenjak pandemi, jenazah warga diceritakan Udin seolah tak ada hentinya datang ke TPU Karang Medain. Saking banyaknya pemakaman selama pandemi, Udin sampai harus menambah personel penggali kubur.
Ia mengajak beberapa warga sekitar untuk menggali kubur tentu dengan upah sebagai mana mestinya. "Per liang lahat hitungannya itu Rp 200 ribu. Ya itu nanti di bagi berapa orang temannya gali," ungkap pria tiga anak tersebut.
Dengan meningkatnya jumlah pemakaman, penghasilan Udin bertambah. Namun tak signifikan. Karena ia membaginya dengan beberapa orang rekannya. "Kalau sendiri nggak bisa saya tangani," cetusnya. Ada sekitar delapan orang termasuk dirinya yang kini bertugas menggali kubur. "Kadang juga beranam atau berempat. Tergantung banyaknya permintaan," cetusnya.
Ukuran panjang liang lahat di TPU Karang Medain 180 sentimeter dengan lebar 80 sentimeter. "Khusus jenazah pasien Covid-19 itu lebih panjang sekitar 2 meter 10 senti," sambungnya.
Chandra, salah satu rekan Udin mengaku menjadi penggali kubur sebagai pekerjaan tambahan. Karena ia melihat Udin butuh tambahan rekan untuk menggali kubur. "Sekalian biar dapat nilai ibadah. Biar kita juga tetap ingat mati," terang pria yang kesehariannya menjadi Satpam di Unram tersebut.
Chandra mengaku tingginya kebutuhan warga untuk menggali liang lahat membuat pengelola TPU Karang Medain kewalahan. Sehingga mereka harus bisa memanajemen waktu agar pemakaman bisa sesuai dengan permintaan warga. "Mana yang cepat akan dimakamkan, itu yang duluan kita gali kuburannya," jelasnya.
Satu liang lahat bisa membutuhkan waktu tiga jam. "Kadang kalau dikebut bisa dua setengah jam," tandasnya. (*/r3)
Editor : Administrator