Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
Saepudin Zohri tersenyum mengenang kejayaan tarian rudat puluhan tahun silam. Saat itu, pelatih tari rudat ini tak berpikir jika perkembangan zaman akan membuat perubahan minat masyarakat. Akses hiburan yang cepat dan gaya hidup milenial yang berkembang pesat.
“Tari rudat kian tergerus zaman. Anak muda sekarang sudah tidak tertarik lagi,” kata Zohri.
Puluhan tahun lalu, ia membuat kelompok rudat tunas harapan Aik Dewa. Pada 2012, nama itu berubah menjadi kelompok rudat Al-Guri. Saat itu, peminatnya masih tinggi. Jam tayang mereka juga masih baik. Al-Guri selalu diundang mengisi setiap acara budaya, dan perayaan hari-hari besar islam.
Namun belakangan, terutama sejak gempa 2018, mereka tak pernah tampil kembali. Hal itu tentu membuatny Zohri dilanda resah. Sebab jika tak kunjung muncul, maka lambat laut, bahkan tak butuh waktu lama, rudat akan sepenuhnya dilupakan.
Karena itu, ia mulai berinisiatif melestarikan kesenian tradisional khas suku Sasak itu dengan melatih anak usia dini. “Saya juga melatih di SD dan SMP,” jelasnya.
Zohri menegaskan, ia tidak ingin rudat mati oleh perkembangan zaman. Syukurnya, hal tersebut direspons baik Pemerintah Desa Aik Dewa Mahmud. Menurutnya, tak hanya sepi peminat, rudat juga jadi kian tak dikenal oleh generasi Z.
Kata Mahmud, karena itulah dibutuhkan langkah-langkah pembinaan dan promosi. “Kami sendiri sudah menyiapkan langkah-langkah promosinya dengan para pengurus Rudat Al-Guri," ucapnya.
Langkah yang disiapkan salah satunya adalah membaut event khusus rudat. Hal tersebut diharapkan dapat menggaungkan nama rudat kembali. Setelah itu, pihaknya juga akan membuat pelatihan dan pembinaan kepada anak-anak setempat untuk memperkenalkan tarian tersebut.
Sebenarnya upaya tersebut sudah direncanakan sudah lama. Namun dua tahun belakangan keinginan tersebut terkendala pandemi Covid-19. “Semoga tahun mendatang, kita bisa segera melaksanakannya,” jelas Mahmud. (*/r5)
Editor : Administrator