ALI ROJAI, Mataram
SERABI. Nama makanan tradisional khas Lombok. Kuliner yang bahan dasarnya tepung beras itu tidak hanya dijumpai di Kota Mataram, namun juga daerah lain. Kuliner satu ini banyak diburu masyarakat karena rasanya gurih dan manis.
Bahan pembuatan serabi pada umumnya sama. Yakni menggunakan tepung beras dan gula aren. Namun soal rasa beda-beda. Tergantung proses pembuatan.
Seperti Serabi Laklak yang dibuat Sri Surianingsih masih menggunakan cara tradisional. Dipanggang diatas tungku tanah dengan menggunakan kayu bakar. “Aromanya lebih harum dipanggang di tungku tanah dan kayu bakar,” kata Sri, sapaan karibnya pada bazar usaha mikro kecil dan menangah (UMKM) di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, Sabtu (19/3) lalu.
Perempuan asal Labuhan Lombok, Lombok Timur menjual Serabi Laklak bertahun-tahun. Nama Laklak menurutnya memiliki arti nambah lagi. Jadi kata dia, siapapun yang mencoba kuliner khas Lombok akan ketagihan.
Serabi ini memiliki dua varian rasa, yakni asin dan manis yang diberi campuran gula aren sangat cocok menemani saat santai bersama keluarga. Disajikan saat hangat rasanya lebih nikmat. Aroma khas yang ditimbulkan dari kayu bakar yang memanaskan cetakan serabi dari tanah liat membuat rasanya begitu nikmat.
Banyaknya peminat Serabi Laklak di perkotaan membuka dia membuka cabang di beberapa tempat. Dalam sehari dia menghabiskan 25 sampai 30 kilogram tepung beras untuk pembuatan Serabi Laklak. “Sekarang kita punya tiga cabang,” tutur perempuan yang kini tinggal di wilayah Ampenan ini.
Pada momen MotoGP dia tidak mau ketinggalan ambil bagian. Bazar UMKM diadakan Pemkot Mataram di Lapangan Sangkareang dimanfaatkan betul untuk menjajakan makanan khas tradisional ini. Dia ingin Serabi Laklak bisa dikenal lebih luas masyarakat dari luar daerah seperti nama Sirkuit Mandalika sekarang ini yang lagi booming. “Nama Serabi Laklak paling tidak juga bisa dikenal lebih luas lagi,” ujarnya.
Sri ingin setiap ada pameran atau bazar, pemerintah bisa mengakomodir pelaku UMKM. Dia ingin memfamiliarkan kuliner tradisional khas Lombok ini. Kedepan dia berharap Lombok bisa lebih maju dan terkenal dengan destinasi wisatanya. Banyaknya orang berkunjung0 ke Lombok menjadi kesempatan pelaku UMKM menjajakan produknya. “Kami ingin Serabi Laklak menjadi kuliner yang ngangenin,” tutur Sri.
Untuk Serabi Laklak sendiri per butir dijual dengan harga Rp 10 ribu. Serabi yang ukurannya cukup besar didalamnya ada gula aren yang membuat rasanya begitu nikmat dan manis. Sri tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan pada pembuatan Serabi Laklak. “Yang kita pakai gula aren murni,” cetusnya.
Saat ini bahan baku untuk pembuatan serabi mulai merangkak naik. Kendati demikian pihaknya tetap menjajakan serabi dengan mengurangi porsinya. Misalnya, dalam satu cetakan yang bahannya untuk sepuluh biji dikurangi menjadi delapan biji. “Porsinya yang kita kurangi,” tuturnya.
Kuliner Serabi Laklak bisa ditemukan di Pasar Cemara dan Abian Tubuh, Kota Mataram setiap harinya. Selain di Kota Mataram, Sri juga membuat cabang di Praya, Lombok Tengah untuk kuliner tradisional satu ini. “Ada karyawan di masing-masing cabang. Kita buatkan dulu bahan-bahannya di rumah,” pungkasnya. (*/r3)
Editor : Administrator