----
Enam bilik kosong menunggu pengunjung di Happy Net. Dari enam bilik tersebut, yang masih memiliki perangkat komputer hanya dua bilik. Sisanya ada yang hanya menyisakan papan ketik, layar, dan ada juga bilik yang kosong melompong. Jadi gudang. Tempat tikus berkeliaran.
“Awas, ada ular di sana!” kata karyawan Happy Net Rizal Sa’roni mencandai penulis koran ini.
Candaan yang dilontarkan pemuda yang akrab disapa Ijank itu berdasarkan kondisi bilik yang sudah bertahun-tahun tak digunakan lagi. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan apa yang ia temui saat pertama kali bekerja di Happy Net pada sekitar 2016 lalu.
“Dulu kita punya 17 bilik. Setiap hari semuanya terisi. Bahkan orang sampai antre,” kenangnya.
Tarifnya Rp 3 ribu per jam. Setiap jam, suara bel penanda waktu pengguna yang habis tak pernah berhenti berdering. Sebanyak 17 bilik yang selalu ramai dengan perkiraan waktu buka hampir 24 jam tanpa hari libur. Jika dihitung, hasilnya bisa mencapai sekitar Rp 1,3 juta per hari. Itu dari tarif internet saja. Belum menghitung biaya print out, dan biaya kebutuhan pengguna lainnya yang bervariasi setiap harinya.
Pengguna jasa warnet saat itu sangat variatif. Penggunaannya juga bermacam-macam. Dari mengerjakan tugas kuliah, bermedsos, main game online, sampai dengan yang ingin ngedate mesra di dalam bilik.
Soal ini jangan ditanya. Dari kamera CCTV, tak jarang Ijank menemukan pengguna yang memanfaatkan bilik di pojokan untuk bermesraan dengan pasangannya.
Hari-hari sibuk dan penuh keuntungan itu sayangnya tak bertahan lama. Kata Ijank, kehadiran voucher internet menjadi awal mula redupnya bisnis warnet. “Mulai terasa sangat sepi pada tahun 2018. Saat itu orang dengan mudah bisa membeli voucher,” jelasnya.
Lambat laun, kunjungan pengguna semakin berkurang. Remaja yang main game online bisa main bareng di kafe-kafe yang menyediakan wifi gratis dengan harga makan dan minum yang terjangkau. Kemudahan mendapatkan gawai juga pemuda dan remaja masa kini juga menguatkan keruntuhan warnet.
Hingga pada awal 2019 sampai saat ini, Happy Net tinggal nama. “Kalau sekarang, buat bayar jaringan internet saja tidak cukup. Kita bertahan karena hanya nama kita masih Happy Net,” jelas Ijank. (fatih/r5) Editor : Rury Anjas Andita