ALI ROJAI, Mataram
SEBAGIAN warga Lingkungan Gontoran Barat, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya beternak sapi. Lingkungan yang berada di ujung timur Kota Mataram dikenal sebagai daerah yang sebagian warganya masih memelihara sapi.
Saat koran ini berkunjung ke salah satu lingkungan di Kelurahan Bertais ini, terdapat kandang sapi kelompok. Kandang yang ukurannya cukup luas terdapat puluhan sapi yang dipelihara masyarakat. Zainal Abidin, seorang peternak waktu itu terlihat sibuk memberi makan empat ekor sapi miliknya yang ditaruh di kandang tersebut. “Kebetulan jam istirahat kerja makanya ke kandang,” kata Zainal, sapaan karibnya.
Pada awal mewabahnya virus PMK, sapi yang ada di kandang ini hampir semuanya terjangkit. Ada yang sudah sembuh. Ada juga yang belum. Zainal menuturkan, pada awal pandemi virus PMK para peternak panik. Pasalnya, tiba-tiba di bagian mulut sapi ada luka-luka. “Kayak sariawan,” singkatnya.
Kondisi ini membuat sapi tidak mau makan. Bahkan rumput yang biasanya menjadi makanan kesukaan tidak mau dimakan. “Kalau rumput yang tua tidak mau dimakan. Jadi kita kasih rumput yang masih muda biar lebih lembek,” terang bapak dua anak ini.
Selain memilih makanan, Zainal juga memberikan ramuan herbal yang diraciknya sendiri. Dia memberikan minuman serbuk terbuat dari gula merah campur kunyit. Selain itu, luka-luka di bagian mulut dan kaki disemprotkan minyak telon campur air. “Alhamdulillah, sekarang luka-luka sudah sembuh,” tutur pria 42 tahun ini.
Dia membeberkan, virus PMK menjadi ancaman bagi peternak. Karena secara tiba-tiba lidah sapi pecah-pecah yang membuat tidak ada nafsu makan. Meski begitu kata dia, gejala yang ditimbulkan pada virus PMK tidak berlangsung lama. Setelah diberikan ramuan herbal yang terbuat dari gula merah dan kunyit kondisi sapi mulai membaik. “Kondisi parahnya selama dua hari karena tidak ada nafsu makan,” jelas bapak dua anak ini.
Sebagai peternak, Zainal tidak menampik cukup panik melihat kondisi sapinya yang tiba-tiba sakit. Karena sebelumnya sapi yang dipeliharanya dalam kondisi sehat. Meski kondisi sapinya sakit tidak terlintas untuk menjual. Sebab, jika dijual dalam kondisi sakit harganya pasti murah. “Kalau jual sakit sama halnya kita kasih minta,” tutur pria asal Gontoran ini.
Satu ekor sapi ukuran besar biasanya dijual dengan harga Rp 25 juta. Dia tidak pernah ke pasar ternak untuk menjual sapi , melainkan para pembeli yang datang ke kandang. “Di kandang ada orang khusus yang mendatangkan pembeli,” tutur dia.
Menjadi peternak bukan pekerjaan utama bagi Zainal. Peternak ini hanya pekerjaan sampingan dan cukup menjanjikan. Sebagai buruh kasar di salah satu perusahaan di lingkungan tempat tinggalnya dia selalu menyempatkan diri mencari pakan untuk sapi yang dipeliharanya. “Jam tujuh pagi kita sudah ada di sawah sabit rumput. Sapi ini duluan sarapan dari pada saya,” kelakarnya.
Usai mencari rumput, Zainal berangkat kerja. Siang dan malam dia kembali datang ke kandang untuk memberi makanan kepada sapi yang telah dipeliharanya bertahun-tahun ini. “Yang paling besar (sapi) sudah empat anaknya. Ini anaknya yang keempat,” pungkasnya. (*/r3) Editor : Administrator