Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Produksi Cilok Merecon Ngangak Bisa Habiskan 650 Kilogram Adonan Sehari

Baiq Farida • Rabu, 15 Februari 2023 | 17:30 WIB
Proses produksi Cilok Merecon Ngangak Kapek, Gunungsari, Lombok Barat, pekan lalu. (Nurul/Lombok Post)
Proses produksi Cilok Merecon Ngangak Kapek, Gunungsari, Lombok Barat, pekan lalu. (Nurul/Lombok Post)
Pagi itu Marisa bersiap untuk berangkat ke Pasar Kebon Roek sambil membawa catatan belanja dan resep cilok yang hendak dibuatnya. Ia pun berangkat dengan beberapa pekerja laki-laki ke pasar untuk menggiling bahan cilok merecon ngangak. Beberapa jam kemudian tepatnya pukul 10.30 Wita, wanita berhijab ini tiba di rumah yang juga menjadi tempatnya produksi.

----------------------------------------

Waktu itu tujuh orang pekerja telah mempersiapkan barang alat untuk produksi dan kompor. Marisa dan pekerjanya pun menurunkan ratusan kilogram adonan cilok dari kendaraan yang digunakannya. Beberapa pekerja perempuan menyiapkan ember untuk menempatkan adonan sesuai dengan varian rasa cilok yang akan disiapkan. Beberapa varian rasa cilok yang disiapkan seperti jamur, telur puyuh, mercon, keju, urat, tahu bakso, dan siomay bakso.

Para pekerja mulai menyiapkan air panas untuk memanaskan adonan cilok. Cekatan, tangan-tangan pekerja ini begitu cepat membentuk cilok, tak berapa lama ribuan cilok siap. Tepat pukul 11.00 Wita satu persatu reseler datang membeli cilok darinya.

Rata-rata cilok yang dibeli setiap reseler mulai dari Rp 100 ribuan. Tak berapa lama puluhan reseler datang sampai menunggu di halaman kosong depan rumah produksi cilok merecon ngangak.

Marisa dan pekerja terus membuat adonan cilok sampai pukul 17.00 Wita. Hingga beberapa reseler terakhir dilayani kurang lebih membeli cilok Rp 500 ribuan. Itulah rutinitas keseharian Marisa.

Dia pun baru memiliki waktu bercerita dengan Koran ini sehabis Shalat Magrib. ”Modal awal dulu usaha saya ini buat satu hingga dua kilogram cilok. Usaha ini saya pilih karena senang cilok,” katanya.

Saat itu ia hanya menjual langsung cilok di pinggir jalan, depan rumahnya. Bahkan saat itu belum tahu caranya berjualan daring di medsos. Dirinya sempat menyewa lokasi berjualan di pondok. Namun belakangan dia tidak sanggup membayar biaya sewa, sehingga memilih berjualan di rumah. ”Usaha saya ini semuanya modal nekat, dengan ikhtiar ingin mengubah nasib saya. Karena saya berasal dari keluarga yang broken home,” tambahnya.

Saat itu jualan memang kurang konsisten. Kadang jualan kadang tidak. Bahkan ada momen, saat awal usaha bakso ciloknya sering rusak. Hingga akhirnya ia pun menemukan resep mandiri untuk pengolahan adonan cilok yang pas. ”Saya meracik langsung untuk semua adonan dan sambal cilok,” jelasnya.

Menjalankan bisnis ini tidak semulus yang dibayangkan. Bahkan dirinya pernah berulang kali tertipu reseller yang tidak membayar ciloknya. Hal ini pun dirasakan sebagai bagian perjalanan menjalankan usaha selama ini. ”Beberapa kali juga pernah saya rasakan hal mistis yang membuat hasil produksi saya rusak yang tidak masuk akal dan saya alami sendiri. Ini masih awal-awal usaha saya jalani,” terangnya.

Saat itu pun pekerja yang bantu merupakan keluarga terdekat sebanyak tiga orang. Kini pekerja yang ikut dengan dirinya menjadi 11 orang. Adonan harian 450 kilogram itu bila pemesanan yang sepi. Sedangkan pemesanan untuk yang ramai bisa mencapai 650 kilogram. ”Biasanya bulan puasa ramai orang cari camilan,” jelasnya.

Diceritakan, dirinya sempat kesulitan untuk sekadarmembeli paket data. Hingga akhirnya dia mencoba memanfaatkan kuota seadanya dari paket data yang dimilikinya untuk mulai mempromosikan cilok ini. Apalagi saat pandemi kala itu tidak bisa jualan di luar. Promosi pun dilanjutkan di medsos yang dimiliki. ”Penjualan saat pandemi  justru meningkat beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

”Dalam satu hari saya habiskan telur puyuh bisa 4.000 butir, keju 4 kg, jamur kering 2 kg, daging kelas dua habis 70 kg. Sedangkan ayam 210 kg.  Untuk bumbu sendiri bisa tiga kali lipat dari bumbu cilok pada umumnya saya habiskan,” tambahnya.

 

Dari usahanya  ini, dia sudah bisa memberangkatkan ibunya umrah. Juga bisa beli tanah untuk dibangun rumah. ”Kuncinya usaha itu harus berani, sabar, konsisten dan harus tetap dijalankan,” imbuhnya.

Dirinya sebagai wanita jelas harus bisa membagi waktu antara peran ibu tiga orang anak dengan usaha yang dijalankan. ”Alhamdulillah anak-anak sudah paham kondisi saat ini,” jelasnya. (nurul hidayati/r9)

  Editor : Baiq Farida
#UMKM NTB #Cilok Merecon