Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika SDN 1 Rensing Raya Jadi Sekolah Penggerak di Sakra Barat, Lotim

Rury Anjas Andita • Rabu, 14 Juni 2023 | 18:00 WIB
PASAR PANCINGAN : Dandim 1620/Loteng Letkol CZI Prastiwanto, saat berfoto bersama di objek wisata pasar pancingan di Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah, Minggu (3/2) lalu.
PASAR PANCINGAN : Dandim 1620/Loteng Letkol CZI Prastiwanto, saat berfoto bersama di objek wisata pasar pancingan di Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah, Minggu (3/2) lalu.
PROGRAM sekolah penggerak sebagai salah satu upaya pemerintah menguji coba kurikulum merdeka mendatangkan manfaat yang besar bagi SDN 1 Rensing Raya di Desa Rensing Raya, Kecamatan Sakra Barat. Tak hanya siswa dan orang tua murid juga komite sekolah yang merasakan perubahannya, namun juga mereka, para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ di sana.

----

Bangunan sekolah ini berada di tengah perkampungan warga Desa Rensing Raya, Kecamatan Sakra Barat. Tak terlalu mudah untuk menemukan letaknya. Apalagi jika yang bertamu adalah orang yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Rensing Raya. Karena di tengah kampung, luas lahannya juga tidak besar. Begitu juga dengan bangunan yang dimiliki. Lantas apa yang membuat sekolah ini dinyatakan layak menjadi sekolah penggerak?

Di ruang gurunya yang tidak besar, koran ini menemui Hj Sulhaini. Dia adalah kepala SDN 1 Rensing Raya yang sudah menjadi guru negeri sejak tahun 1988. Setelah menyambut hangat kedatangan Lombok Post, Sulhaini menerangkan, SDN 1 Rensing Raya merupakan satu dari dua sekolah dasar di Kecamatan Sakra Barat yang terpilih mengikuti program sekolah penggerak tahun 2022.

Sulhaini kemudian menceritakan bagaimana ia menyimpan baik proses seleksi yang berkesan dan hampir tak terlupakan. Mulai dari tahap awal berupa seleksi tulis dan wawancara, sampai dinyatakan terpilih dan sudah hampir satu tahun menjalankannya.

Di Sakra Barat, ada 15 sekolah yang mendaftarkan diri. Lalu yang lulus seleksi ada dua sekolah. Pertama SDN 1 Rensing Raya, satunya lagi SDN 3 Sukarara. “Saat itu banyak sekolah yang berharap tidak lulus karena menganggap beban menjadi sekolah penggerak ini besar,” kata Sulhaini.

Sebenarnya guru yang beberapa tahun lagi akan purna tugas itu tak terlalu yakin dengan informasi tentang sekolahnya yang lulus seleksi tersebut. Sebab dibanding sekolah lain, siswanya tidak banyak, yakni hanya 108 anak. Tapi belakangan, ia mengetahui jika jumlah siswa, letak geografis, bangunan fisik sekolah, dan sarana prasarana bukan menjadi faktor penilaian utama dalam seleksi program tersebut. Kata Sulhaini, bahkan ada juga sekolah penggerak yang siswanya hanya 38 anak.

Bayangan awal tentang beban berat menjadi sekolah penggerak yang menumpuk di pikirannya juga lambat laut terurai dan hilang oleh bimbingan dan pendampingan yang diberikan si empunya program. “Ya, ternyata kita dibimbing, diberi pelatihan, didampingi, dan ada lokakarya, juga bantuan operasional sekolah kinerja sebagai sekolah penggerak yang jumlahnya disamaratakan dengan seluruh sekolah penggerak. Jadi bukan berdasarkan jumlah siswa seperti BOS reguler,” jelasnya.

Hj Salmah, guru kelas VI SDN 1 Rensing Raya mengamini apa yang disampaikan Sulhaini. Ia menjelaskan, salah satu yang terasa berbeda dari kurikulum merdeka adalah adanya mata pelajaran bahasa Inggris untuk kelas 1 dan 4 sebagai fokus sasaran program di tahun pertama.

Selain itu, program sekolah penggerak menuntut guru menggunakan teknologi. Jika sebelumnya apa-apa yang berbau teknologi menjadi tugas operator sekolah, sekarang 8 orang guru di sana sudah berteman akrab dengan teknologi. “Setidaknya tugas operator berkurang. Sekarang kita bisa buat materi ajar dan juga laporan menggunakan aplikasi di komputer sendiri,” jelasnya.

Tentu perubahan di tahun pertama tidak langsung sampai membuat mereka mahir dan sempurna. “Pasti bertahap. Yang terpenting dan membuat kami senang adalah ada dorongan dan keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya,” terang Salmah. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#sekolah penggerak #SDN 1 Rensing Raya