HAMDANI WATHONI, Mataram
Atrium Lombok Epicentrum Mall (LEM) sejak Sabtu pukul 10.00 Wita lebih ramai dari biasanya. Meski baru mulai dibuka, mal terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sudah ramai dikunjungi warga. Maklum, weekend pengunjung mal ini memang lebih ramai dibanding hari biasa.
Namun bukan hanya karena weekend saja pengunjung mal ini lebih ramai. Tetapi juga karena diadakannya Mataram Pearl Festival yang digelar oleh Persatuan Pedagang dan Pengrajin Mutiara Lombok (Pearl) NTB.
"Ini merupakan kegiatan yang ketiga kami laksanakan. Mataram Pearl Festival tahun ini diikuti tenant dari kriya, fashion dan kuliner," jelas Ketua Pearl NTB H Fauzi.
Total ada 15 tenant mutiara dan lima tenant kuliner. Acara ini juga dirangkai dengan berbagai kegiatan. Mulai dari fashion show Sasambo antar OPD, Lomba Tahfidz untuk anak-anak serta yang lainnya. Tak heran sejak pagi hingga petang atrium LEM begitu ramai.
Mataram Pearl Festival ini juga dilaksanakan agar bisa menjadi salah satu ikon Kota Mataram. Mengingat pada tahun 2022, Mataram menjadi juara I Anugerah Desa Wisata Indonesia kategori sovenir terbaik. Dimana, mutiara Sekarbela menjadi salah satu sovenir yang paling diincar wisatawan ketika berkunjung ke Kota Mataram. Kemudian dari Kemenkumham, dikeluarkan sertifikasi terkait mutiara Lombok. Sehingga tidak bisa diklaim daerah lain jika ada mutiara yang karakteristiknya sama dengan mutiara Lombok.
"Kami berterima kasih kepada Pemkot Mataram yang telah memberikan ruang dan dukungan untuk mendukung pasar mutiara di tingkat nasional maupun internasional," ucap H Fauzi.
Pemilihan lokasi Mataram Pearl Festival di LEM tahun ini dinilai juga sangat tepat. Karena pengunjung yang datang bisa melihat langsung produk mutiara di tenant yang telah disiapakan.
Sementara Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menyampaikan jika festival ini merupakan upaya Pemkot Mataram memfasilitasi para pebisnis mutiara di Mataram. "Ini menjadi salah satu upaya bagi pengusaha mutiara agar punya ruang memamerkan produk mereka. Selain dengan upaya secara manual dan teknologi informasi," ucap Mohan.
Ia menyampaikan jika kreativitas menjadi hal yang dibutuhkan dalam menghadapi revolusi industri. Kompetisi menjadi keniscayaan. Namun ini memacu kita untuk memaksimalkan produk mutiara.
Ia menyebut khusus Mutiara Lombok memiliki keistimewaan. Meskipun ada beberapa daerah yang juga menghasilkan mutiara seperti Maluku, Papua, namun wisatawan Nusantara maupun Mancanegara menyukai mutiara Lombok. "Maka kami di Pemkot Mataram berusaha memfasilitasi dan menjembatani agar para pengusaha bisa mengenalkan produk mereka agar ada ruang bisnis bagi mereka," lanjutnya.
Ia berharap Mataram Pearl Festival bisa memberi manfaat bagi pedagang mutiara dan menjadi salah satu upaya mendorong perekonomian Kota Mataram.
Sementara Ketua Dekranasda Kota Mataram Hj Kinastri Roliskana juga dalam talk show memaparkan sejumlah materi dan diskusi bersama para perajin mutiara. Ia mendorong agar para perajin lebih kreatif dan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan fashion yang ada.
"Desain kerajinan mutiara yang kita produksi kami harapkan memiliki ciri khas. Misalnya yang ada kekhasan dengan Kota Mataram menara Tembolak, gerbang Sangkareang, atau yang lainnya," pintanya.
Kemudian perajin juga diminta kreatif dengan menyesuaikan dengan selera remaja saat ini. "Misalnya kreatif khas yang ala-ala Korea. Ini kan sedang digandrungi para remaja. Maka bagaimana agar sesuai dengan kebutuhan selera kekinian itu juga harus diperhatikan," tambahnya.
Yani, owner Sakura Mutiara yang menjadi salah satu peserta Mataram Pearl Festival mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan ini. Selain bisa mengenalkan produknya, beberapa barang yang dipamerkan juga cukup banyak terjual. "Tadi pagi-pagi sudah ada yang beli ibu-ibu yang datang ke sini," syukurnya. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post