Tembolak menjadi ikon dari Kota Mataram. Bangunan yang merupakan pembatas wilayah antara Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat ini terinspirasi dari bentuk tudung saji. Meski menjadi landmark Kota Mataram, para perajinnya lebih banyak berada di wilayah Lombok Timur. Salah satunya di Desa Peresak, Kecamatan Sakra. Berikut ulasannya
SUPARDI, Lombok Timur
Jejeran daun lontar terlihat di sepanjang jalan di Desa Peresak. Tersusun dan dijemur rapi di tali-tali yang digantung di depan rumah warga. Ada yang masih berupa pelepah. Ada juga yang sudah terpotong.
Di Desa Peresak, sebagian warganya merupakan perajin tembolak. Pembuatan tudung saji khas Suku Sasak di desa ini bahkan sudah eksis sangat lama. Dari penuturan M Nasir, warga desa sudah membuat tembolak sejak masa penjajahan Jepang di Indonesia.
”Saya di usia 10 tahun, sudah bisa buat tembolak,” kata pria yang pada tahun ini genap berumur 50 tahun.
Keterampilan tangan membuat tembolak diwariskan secara turun temurun. Nasir sendiri mengaku tembolak yang dihasilkannya sekarang, tak lepas dari kebiasaan ia melihat ayah maupun kakek dan neneknya saat membuat tembolak.
”Sempat juga diajarkan sama kakek dan nenek,” ujarnya.
Saat Lombok Post berkunjung, Nasir terlihat sedang menghaluskan batang bambu. Bambu inilah yang akan digunakan sebagai dasar untuk membuat tembolak. Di sekeliling Nasir, berserakan daun lontar dan tali rafia, serta peralatan lain untuk membuat tembolak.
Dengan cekatan, tangan Nasir membentuk pola tembolak menggunakan bambu. Ia kemudian memainkan paku, yang merupakan jarumnya, untuk menjahit kepala tembolak yang telah dilapisi daun lontar dan menyambungnya dengan bagian bawah dan tengah. Setelah itu, tembolak akan di cat menggunakan warna merah.
Nasir menyebut untuk membuat satu tembolak membutuhkan waktu selama 4 hari. ”Bagian tubuh tembolak ini ada dua lapisan. Lapisan luar itu sebelumnya juga sudah diberikan warna menggunakan pewarna makanan dan satu lapisan tidak menggunakan warna,” bebernya.
Tembolak yang sudah jadi, akan dijual ke sejumlah pasar, seperti di Sakra dan Paok Motong. Dalam seminggu biasanya terjual sebanyak 80 biji tembolak, berukuran besar maupun kecil.
Tembolak ukuran kecil biasanya dijual dengan kisaran harga Rp 15 ribu hingga 20 ribu per biji. Jika diambil Borongan atau kodi, harganya menjadi Rp 250 ribu. Sementara tembolak besar, dibanderol paling mahal Rp 30 ribu atau satu kodi seharga Rp 300 ribu.
Meski bermunculan tudung saji modern, eksistensi tembolak khas Suku Sasak tetap terjaga. Terlihat dari masih aktifnya perajin tembolak, tidak saja di Desa Peresak tapi juga di Desa Kabar di Kecamatan Sakra.
Tembolak yang dihasilkan dari kreasi warga dua desa tersebut bahkan bisa terjual hingga ke Pulau Bali dan Sumbawa. Terutama di momen tertentu, seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, maupun Isra Miraj, permintaan tembolak dipastikan naik.
”Satu pelanggan bisa beli sampai dua kodi. Itu bukan buat dijual lagi, tapi dipakai sendiri,” ungkapnya.
Dibandingkan dengan tudung saji modern, tembolak diakui Nasir memiliki keunikan tersendiri. Selain bisa menjaga makanan dari hinggapan lalat dan kotoran, Tembolaq ini juga bisa membuat aroma makanan tetap terjaga dan tidak mudah basi.
Nah, menjelang Maulid Nabi yang jatuh pada 28 September mendatang, kata Nasir, perajin biasanya mulai sibuk membuat tembolak. Namun, tidak tahun ini. Sebagian perajin meninggalkan jarum paku, daun lontar dan bambu mereka di rumah. Kemudian memilih untuk turun ke ladang-ladang dan menjadi buruh tembakau.
Meski hanya sebagai buruh tembakau, uang yang diperoleh rupanya lebih banyak dibandingkan membuat tembolak. ”Ini bersamaan dengan musim panen tembakau. Upahnya lebih banyak. Bikin tembolak sekarang juga dianggap sebagai pekerjaan sampingan saja,” jelasnya.
Selain soal perajin yang kian berkurang, eksistensi tembolak juga dihadapkan pada bahan baku. Yang disebut Nasir terus berkurang. Karena itu, ia berharap pemerintah bisa ikut memperhatikan kelestarian pohon lontar, yang merupakan salah satu bahan baku penting dalam pembuatan tembolak.
”Tidak bisa pakai daun lain. Hanya bisa lontar saja,” tandas Nasir. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa