Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Perlu Modal Besar, Barang Bekas Bisa Disulap Jadi Peralatan

Lombok Post Online • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 14:54 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Di tangan orang-orang kreatif, berbisnis pertanian tidak selalu tentang modal besar dan lahan luas.

Namun pekarangan rumah yang sempit dan barang-barang bekas di sekitar rumah juga bisa dijadikan modal utama.

Seperti yang dilakukan oleh Muji Juherwin Founder Tekinofarm warga Dusun Lilir, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, sukses budi daya berbagai sayur-mayur menggunakan sistem hidroponik di pekarangan rumahnya yang seluas hanya beberapa meter.

“Sebelum pakai sistem hidroponik, saya dulu menanam sayur di tanah di pekarangan, kita buat bedengan menggunakan plastik,” terang Muji Juherwin, Jumat (29/8).

Diceritakan, setelah berhasil menanam berbagai sayur-sayuran di tanah, ia mencoba beralih menggunakan sistem hidroponik.

Namun karena keterbatasan modal, ia hanya membeli tiga pipa sebagai instalasi untuk menanam sayur.

Sementara meja hidroponik dibuat menggunakan bahan-bahan bekas di sekitar rumahnya, mulai dari bambu dan kayu-kayu bekas untuk menempatkan pipa talang atau media tanam.

“Bahan-bahannya saya pungut. Kemudian saya tanam kangkung. Alhamdulillah berhasil. Dari hasil penjualan kangkung itu saya kumpulkan untuk beli tiga pipa talang lagi, sehingga instalasi milik saya semakin meningkat, ”bebernya.

Dari enam pipa instalasi itu, ia kembali berhasil mengembangkan hidroponik miliknya. Dan kini ia sudah memiliki enam meja hidroponik, di mana-mana masing-masing meja disisi enam pipa instalasi.

Menariknya, hidroponik yang dikembangkan tidak menggunakan listrik pada umumnya. Namun ia memanfaatkan panel surya dan baterai. Hal ini untuk mengantisipasi listrik padam secara tiba-tiba yang akan berdampak terhadap tanaman. Karena sistem hidroponik sangat bergantung pada air.

“Panel Suryanya kita beli di online, karena ini lebih irit listrik. Saya bergelut di usaha hidroponik ini sejak tahun 2018,” jelasnya.

Diakui pembuatan hidroponik untuk kangkung sebelumnya hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu, ia berhasil mengembangkan berbagai jenis sayuran menggunakan sistem hidroponik. Mulai dari selada, pakcoy, seledri, kangkung, daun min dan berbagai sayuran lainnya.

Bahkan saat ini dari hidroponik sederhana miliknya itu menjadi pundi-pundi rupiah baginya. Untuk tanaman selada dari tiga instalasi ia bisa meraup omzet sekitar Rp 800 ribu - Rp 1 juta per sekali panen atau per bulan.

CEK: Beberapa pelajar ke Tekino farm melihat tanaman hidroponik di Dusun Lilir, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Jumat (29/8).
CEK: Beberapa pelajar ke Tekino farm melihat tanaman hidroponik di Dusun Lilir, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Jumat (29/8).

“Harga selada sekarang Rp 40 ribu per kilogram. Tapi kalau lagi musim ramai harganya bisa tembus di harga Rp 75 ribu per kilogram. Hasilnya tidak pernah di bawa ke pasar, pembeli yang datang sendiri. Bahkan sebelum waktunya panen sudah ada yang boking,” jelasnya.

Ia berencana usaha hidroponik ini akan terus dikembangkan. Mengingat peminat sayur hidroponik cukup tinggi dan cukup menguntungkan.

Selain menjadi tambahan penghasilan, hidroponik di lahan sempit miliknya ini juga kerap dijadikan sebagai tempat belajar oleh mahasiswa-mahasiswa pertanian dan peserta pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lotim.

“Iya bahkan dua meja ini dikembangkan oleh anak-anak mahasiswa yang belajar. Beberapa kali saya juga sering disuruh mengisi materi pelatihan hidroponik,” tutupnya. (par/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#Tanam #sayur #Pertanian #pekarangan #hidroponik