Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kasus Obesitas Mengerikan di NTB, Ancaman Serius Kesehatan di NTB

Lombok Post Online • Sabtu, 13 September 2025 | 12:37 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Di tengah laju kehidupan modern, tren obesitas kian mengkhawatirkan dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Pola makan serba instan yang mudah diakses, minimnya aktivitas fisik, serta gaya hidup yang serba cepat, telah menjebak masyarakat dalam ancaman kesehatan yang tak bisa dianggap remeh.

Obesitas bukan hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis berbahaya.

Kondisi ini menjadi pemicu utama timbulnya penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan masalah jantung.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengubah pola hidup agar terhindar dari bahaya yang mengancam kesehatan ini.

Di tengah pola hidup modern yang cenderung pasif serta maraknya konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, angka obesitas terus melonjak, terutama di kalangan usia produktif.

Fenomena ini menuntut perhatian lebih, karena bukan hanya menggerus kualitas hidup individu, tetapi juga berpotensi menambah beban ekonomi dan sistem kesehatan nasional.

Obesitas juga menjadi masalah serius di Provinsi NTB.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr Lalu Hamzi Fikri menyebutkan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus, obesitas, penyakit jantung dan stroke, kanker, PPOK, serta thalassemia masih mendominasi beban penyakit di Bumi Gora.

“Kalau kita lihat data skrining dari Februari hingga Agustus 2025, PTM tetap menjadi tantangan kesehatan yang signifikan,” terangnya.

Prevalensi obesitas berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) di usia 18 tahun ke atas berkisar antara 6 sampai 19 persen, sedangkan diabetes melitus mencapai 11 hingga 28 persen.

Minim Aktivitas Fisik

Dikes NTB menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat sebagai salah satu penyebab utama peningkatan tren obesitas, khususnya minimnya aktivitas fisik akibat kemudahan teknologi.

Saat ini, masyarakat cenderung mengandalkan teknologi untuk berbagai aktivitas harian, sehingga pergerakan tubuh menjadi sangat terbatas.

“Kalau dulu mau ke warung harus jalan kaki, sekarang tinggal naik motor. Makanan pun bisa dipesan lewat aplikasi tanpa harus keluar rumah,” ujar Fikri.

Gaya hidup pasif seperti ini menjadi faktor risiko yang signifikan terhadap obesitas, dan berbagai PTM lainnya.

Selain kurangnya aktivitas fisik, pola konsumsi masyarakat juga mengalami perubahan yang mengkhawatirkan.

“Konsumsi buah dan sayur semakin menurun, sementara asupan gula dan lemak justru meningkat,” kata dia.

Bukan Hanya soal Penampilan, Obesitas Dapat Memicu Penyakit Lain
Bukan Hanya soal Penampilan, Obesitas Dapat Memicu Penyakit Lain

Dari data Kemenkes, ciri-ciri obesitas bisa dilihat pada lingkar pinggang laki-laki > 90 cm dan perempuan > 80 cm; tekanan darah ≥ 130/85 mmhg, gula darah puasa > 100 mg/dL; dan kadar kolesterol, yakni trigliserida ≥ 150 mg/dL, serta HDL < 40 mg/dL (laki-laki) dan < 50 mg/dL (perempuan).

Upaya skrining terus dilakukan oleh Pemprov NTB, bersama pemda kabupaten/kota. Pada 2024, cakupan skrining pada usia produktif 15–59 tahun, sudah mencapai 81,4 persen.

Untuk beberapa jenis PTM prioritas, capaian skrining meliputi hipertensi sebesar 57,18 persen, diabetes melitus 84,98 persen, dan obesitas di atas 55 persen.

“Capaian NTB untuk skrining PTM, khususnya obesitas dan diabetes, saat ini masih di atas rata-rata nasional. Ini menunjukkan upaya kita sudah cukup baik,” tambahnya.

Tak hanya itu, promosi gaya hidup sehat melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) juga terus digalakkan, termasuk di sekolah-sekolah.

 Baca Juga: Dr Reddy’s Luncurkan Obat Obesitas Generik Semaglutide untuk 87 Negara, Tantang Dominasi Novo Nordisk dan Eli Lilly

Rambah Anak-Anak

Fikri menegaskan semua puskesmas di NTB sudah siap menangani kasus obesitas secara komprehensif. “Obesitas sekarang tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. Bahkan kasus diabetes juvenil dan cuci darah usia muda sudah mulai muncul. Ini memperlihatkan bahwa PTM tidak lagi mengenal batasan usia,” tegasnya.

Dia mengingatkan, obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung. Maka kunci utama dalam pencegahannya, dengan menerapkan gaya hidup sehat.

“Menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan pola makan yang bergizi seimbang sangat penting agar tubuh tetap bugar dan terhindar dari berbagai penyakit,” jelasnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kemenkes RI menekankan tentang pentingnya gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi berbagai jenis sayur dan buah segar minimal 400 gram per hari.

Mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi lemak, gula, dan garam. Menghindari minuman beralkohol. Menjaga berat badan serta komposisi lemak tubuh dalam batas ideal. Tetap aktif bergerak setiap hari, serta melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin.

“Dengan menjalani kebiasaan-kebiasaan tersebut, risiko obesitas dapat ditekan secara signifikan. Lebih dari itu, tubuh pun akan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap berbagai penyakit tidak menular,” jelasnya. (yun/r3)

Editor : Kimda Farida
#Dikes #penyakit #pola makan #Kesehatan #obesitas