Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sari Buktikan, Lawan Obesitas Kuncinya Pola Makan Cerdas

Lombok Post Online • Sabtu, 13 September 2025 | 14:07 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 LombokPost - Sari, seorang ibu rumah tangga, membuktikan bahwa menurunkan berat badan bukanlah sulap atau sihir.

Hanya dalam waktu 2,5 bulan, ia berhasil memangkas berat badannya hingga 22 kilogram.

Kunci suksesnya bukan dengan berhenti makan, melainkan dengan mengadopsi pola makan cerdas yang dibarengi dengan niat kuat.

Bagi sebagian orang, berat badan berlebih mungkin terlihat sepele, namun bagi Sari, kondisi itu adalah alarm yang mendorongnya untuk melakukan perubahan drastis dalam hidupnya.

BERAWAL dari rasa mudah lelah dan tidak bugar, Sari berhasil menurunkan bobotnya dari 68 kg menjadi 46 kg dalam waktu 2,5 bulan.

Dengan tinggi badan 155 cm, berat badan 68 kg termasuk dalam kategori obesitas atau kegemukan. 

Sari, ibu dari satu anak, berbagi ceritanya. Kelebihan berat badan mulai ia alami setelah melahirkan pada tahun 2007. Berat badannya naik drastis hingga mencapai 68 kg dengan tinggi 155 cm.

Meskipun banyak teman dan keluarga yang mengingatkan, ia mengaku tidak menyadari betapa gemuknya ia saat itu. 

“Saya merasa masih pede, masih baik-baik saja, tidak ada keluhan sakit,” ujarnya.

Namun, perasaan itu perlahan berubah. Ia mulai sering merasa lelah dan cepat capek saat beraktivitas. “Gampang lelah banget,” kenangnya. 

Kesadaran ini memotivasinya untuk mulai mencari cara menurunkan berat badan. Ia sempat mencoba diet ala-ala dengan tidak makan nasi sama sekali. Sayangnya, metode itu justru membuatnya sakit maag. 

“Makanya, jangan salah-salah, yang tidak punya ilmu itu jangan sembarangan,” pesannya.

Saat Sari bingung dan hampir putus asa, seorang teman lamanya dari masa kuliah S-2 di Unram menawarinya program sehat. Program ini memperkenalkan Sari pada pola makan yang teratur dan mengganti asupan kalori yang tinggi dengan yang lebih rendah.

 “Tetap bisa makan nasi, segala macam, masih buah, boleh. Tidak ada pantangan yang terlalu berat,” jelasnya. 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Sari menjalani program dengan niat yang sangat kuat. Ia fokus pada tujuannya untuk kembali ideal dan sehat. Ia kemudian beralih dan membiasakan diri untuk pola makan teratur dan rendah kalori. Ia belajar untuk tidak melewatkan waktu makan, tetapi mengganti asupan tinggi kalori di pagi dan malam hari dengan nutrisi rendah kalori, sambil tetap menikmati nasi dan lauk normal saat makan siang.

Dalam sebulan, berat badannya turun hampir 8 kg. Perubahan ini membuatnya semakin semangat. “Wih, senang banget saya waktu itu. Ternyata saya baru sadar, saya tuh kemarin gemuk banget ya," katanya sambil tertawa.

Perjalanan itu terus berlanjut hingga dalam waktu 2,5 bulan, ia berhasil menurunkan total 22 kg, mencapai berat 46 kg. “Niatnya memang pengen ideal, untuk cantik di depan suami,” ungkapnya.

Setelah berhasil, banyak teman-teman yang penasaran dengan perubahannya. Mereka melihat perbedaan drastis dari Sari yang dulu gemuk menjadi lebih langsing. Hal ini mendorongnya untuk membuka "rumah sehat" sendiri, tempat ia berbagi ilmu dan pengalamannya kepada orang lain.

Sari menekankan bahwa diet yang benar bukanlah tidak makan, melainkan mengatur pola makan. Ia menganjurkan untuk tetap makan tiga kali sehari —sarapan, makan siang, dan makan malam— dengan cemilan buah di sela-sela. 

Kuncinya adalah mengganti makanan tinggi kalori, seperti nasi di pagi dan malam hari, dengan makanan yang rendah kalori. “Yang benar itu kita tetap konsisten sarapan, makan siang, makan malam. Di jeda itu kalau mau cemil buah ya boleh,” jelasnya.

Menurut Sari, banyak orang yang gemuk tidak sadar kalau dirinya tidak sehat. Keluhan seperti cepat capek dan mengantuk sering diabaikan, padahal itu adalah tanda-tanda awal.

Dengan memperbaiki pola makan, bukan hanya berat badan yang turun, tetapi juga berbagai penyakit degeneratif dapat dicegah. “Banyak customer saya yang awalnya kena kolesterol, darah tinggi, jantung, sekarang sudah tidak pernah lagi minum obat,” tuturnya bangga.

Kini, setelah 15 tahun menjaga berat badan ideal, Sari merasakan banyak manfaat. Ia merasa lebih lincah, fit, dan bugar. Ia juga tidak mudah sakit dan bisa berolahraga tanpa keluhan. Bonusnya, ia terlihat jauh lebih muda dari usianya. 

“Kalau orang lihat, yang baru-baru, yang tidak pernah lihat, dipikir belum punya anak kuliah. Tidak menyangka mereka umur 44 tahun, dipikir 30-an,” candanya. 

Sari juga menambahkan, dampak dari mengatur pola makan yang bagus, sehat, dan bugar adalah terlihat lebih muda. Banyak orang muda yang terlihat tua, dan menurutnya, itu semua berawal dari gaya hidup yang tidak sehat. 

“Sekarang dampaknya itu, saya lebih bahagia karena sehat itu saya bahagia,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Sari memberikan tips bagi mereka yang ingin memulai hidup sehat, pondasinya adalah perbaiki mindset. Jangan makan karena nafsu, tetapi pikirkan apakah makanan itu baik untuk tubuh dalam jangka panjang. 

SUKSES TURUNKAN BB: Perbandingan tubuh Adiahsari Lidyasuwanti sebelum dan sesudah menerapkan pola hidup sehat. 
SUKSES TURUNKAN BB: Perbandingan tubuh Adiahsari Lidyasuwanti sebelum dan sesudah menerapkan pola hidup sehat. 

“Intinya perbaiki mindset kita. Kita itu istilahnya mengganti gaya hidup kita untuk kesehatan kita jangka panjang,” tegasnya.

Ia juga menyarankan untuk mencari tahu tentang ilmu diet yang benar dan menghindari cara-cara instan yang tidak sehat. 

“Jika kita ideal, pasti kita sehat. Kalau orang gemuk, jelas sudah tidak sehat. Mungkin sekarang belum kelihatan, nanti 2 atau berapa tahun lagi akan muncul penyakit degeneratif,” pungkasnya. 

Perubahan gaya hidup ini tidak hanya memperbaiki kondisi fisik Sari, tetapi juga mentalnya. Ia merasa lebih positif dan bersemangat dalam menjalani hari-hari. 

Menurutnya, perubahan positif itu sangat mungkin dilakukan, asalkan ada niat dan ketekunan. Memilih makanan yang baik dan rajin olahraga itu sama saja dengan menyayangi diri sendiri. 

“Ini kita lihatnya  sebagai investasi jangka panjang aja,” pungkasnya. 

Meski godaan makanan kekinian di luar sana banyak, memprioritaskan kesehatan akan membawa kebahagiaan sejati yang enggak bisa dinilai dengan uang. (SANCHIA VANEKA, Mataram/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#berat badan #alarm #niat #kegemukan #tinggi badan #sakit