Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Komunitas Lari Menjamur, Sekaligus Jadi Ajang Silaturahmi

Lombok Post Online • Sabtu, 20 September 2025 | 13:39 WIB

 

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Lari kini bukan lagi olahraga individu.

Di banyak kota, komunitas-komunitas pelari bermunculan, lengkap dengan jersey, agenda rutin, bahkan grup media sosial yang aktif berbagi tips dan motivasi.

Salah satu komunitas lari di Lombok Timur adalah Be-Rari. Komunitas ini rutin melakukan olahraga lari setiap malam Selasa di jalan kota Selong. 

“Rutenya di tengah-tengah kota saja yang ada lampu penerangnya," terang Founder Komunitas Be-Rari Lotim Lalu Martha Kusuma saat ditemui Lombok Post di rumahnya, Rabu (17/9).

Lari malam hari dipilih karena anggota komunitas ini dari berbagai kalangan dan profesi.

Mulai dari anak-anak, anak muda, pegawai dan lainnya.

Sehingga olahraga di pagi hari sangat sulit untuk dilakukan.

“Hari libur atau weekend, biasanya digunakan untuk liburan bersama keluarga,” tandasnya.

Keberadaan komunitas ini, tidak hanya untuk sekadar berolahraga.

Baca Juga: Aulia Ahimsa Martawiguna, Dokter Spesialis Bedah Penggila Olahraga Lari, Rela War Tiket Demi Slot Full Marathon di Gold Coast Australia

Namun juga sebagai ajang silaturahmi antar penggemar lari dan wadah berdiskusi. "Pembuatan komunitas ini dulu bermula dari enam orang di tahun 2023. Tapi saat itu, belum terbentuk namanya Be-Rari, hanya komunitas biasa. Lama-lama anggotanya bertambah," ungkapnya. 

Pada Februari 2024 jumlah anggota bertambah menjadi 40 orang, sehingga komunitas Be-Rari ini resmi terbentuk. Sekarang anggota Be-Rari sudah mencapai 840 orang. 

Bukan Wadah Pembinaan Atlet

Kata dia, sejumlah anggota Be-Rari berhasil meraih juara di beberapa lomba. Salah satunya ialah lomba lari Rinjani 100. Dua orang anggota Be-Rari berhasil meraih juara 1 dan 3 untuk kategori 27 km. “Peminat lari saat ini semakin banyak. Bahkan dengan adanya komunitas ini berdampak terhadap perkembangan dan prestasi lari," katanya.

Namun komunitas ini bukan wadah pembinaan para atlet lari. Keberadaan komunitas ini siap mensupport jika ada anggota yang berprestasi.

Komunitas ini juga rutin melaksanakan event lomba lari tingkat provinsi. Bahkan peserta berasal dari luar negeri. Sejak berdirinya komunitas ini, sudah empat kali event lomba lari telah diselenggarakan.

 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Pionir di Ibu Kota

Tahun 2016 menjadi tonggak awal berdirinya komunitas Runjani, sebagai pionir wadah pencinta lari di Kota Mataram. Saat itu, belum ada komunitas serupa yang hadir.

Runjani lahir bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membawa semangat hidup sehat melalui aktivitas lari. Seiring waktu, tren olahraga ini berkembang pesat secara nasional. Banyak event lari bermunculan, termasuk di luar Lombok.

“Bukan andil dari Runjani saja, memang tren lari secara nasional waktu itu sedang naik. Berdampak juga pada trend komunitas lari di Mataram,” kata Ketua Runjani Imam Ahmad Askalani Sukri.

Puncak perkembangan terjadi setelah pandemi Covid-19. Di berbagai daerah mulai tumbuh komunitas lari seperti Runjani. Di Lombok, komunitas ini tetap eksis dengan menjadi wadah berkumpulnya para pelari dari berbagai latar belakang. ”Di kami ini, tidak melihat latar belakang. Siapapun boleh gabung,” kata dia.

Menariknya, Runjani tidak memiliki sistem keanggotaan tetap. Komunitas ini bersifat terbuka, siapa pun boleh bergabung maupun berhenti kapan saja. ”Kalau dihitung dari berdiri sudah ada ribuan orang yang pernah gabung di komunitas ini,” ujarnya. 

Berdasarkan data di grup WhatsApp, tercatat lebih dari 950 orang yang aktif bergabung. Mereka bisa hadir bergabung kapan saja. ”Kita kan melihat dari kesibukan anggota lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, tujuan awal Runjani tidak berubah. Mereka tetap menjadi ruang bagi orang-orang yang memiliki hobi lari untuk berkumpul, berbagi semangat, sekaligus menumbuhkan gaya hidup sehat di masyarakat. ”Banyak orang yang dengan kesibukannya di luar tetap bisa berolahraga,” kata pria yang bertugas di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram itu.

Punya Ciri Khas

Runjani bukan hanya sekadar tempat berkumpulnya para pencinta olahraga lari. Ada banyak aktivitas menarik yang membuat para anggota betah dan merasa nyaman berada di dalamnya.

Salah satu daya tarik utama adalah sesi Wednesday Night Run (WNR), yakni lari malam setiap Rabu. Sejak awal berdiri, sesi ini menjadi ciri khas Runjani. ”WNR ini jadi ciri khas kami,” kata dia.

Banyak pelari yang bergabung justru karena penasaran dan ingin merasakan serunya lari malam bersama komunitas. ”Jadi semua kalangan bisa ikut. Kami biasanya berkumpul di Taman Sangkareang,” ujarnya.

TETAP JALANI HIDUP SEHAT: Sejumlah pelari yang tergabung dalam Komunitas Runjani foto bersama usai berlari malam di Taman Sangkareang, beberapa waktu lalu. 
TETAP JALANI HIDUP SEHAT: Sejumlah pelari yang tergabung dalam Komunitas Runjani foto bersama usai berlari malam di Taman Sangkareang, beberapa waktu lalu. 

Seiring waktu, Runjani menambah berbagai sesi lain. Ada trail run, yakni lari di alam bebas seperti gunung dan bukit. ”Kami juga punya program berlari di kawasan Rinjani,” bebernya. 

Ada juga long run setiap akhir pekan yang menantang jarak tempuh lebih jauh. Semua aktivitas ini menjadi ruang kebersamaan dan mempererat ikatan antaranggota. “Bagi banyak orang, lari itu lebih asyik ketika punya teman yang sefrekuensi. Komunitas ini jadi jawabannya,” kata Imam. (par/arl/r3)

Editor : Kimda Farida
#lari #keluarga #ajang #olahraga #komunitas