Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Beternak Murai Batu Lebih Cuan dan Menantang

Redaksi • Sabtu, 6 Juni 2026 | 13:51 WIB
TERNAK BURUNG: Peternak burung Perkutut Syamsul Hadi melihat burung perkutut yang dipelihara di belakang lahan rumahnya. (HARLI/LOMBOK POST)
TERNAK BURUNG: Peternak burung Perkutut Syamsul Hadi melihat burung perkutut yang dipelihara di belakang lahan rumahnya. (HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost - Peternakan burung kicau tidak hanya soal hobi. Tetapi juga membutuhkan ketekunan, pengetahuan, dan modal yang tidak sedikit.

Peternak burung Murai, Ferry Vris mengatakan, sudah menekuni usaha ternak burung sejak 2010. Awalnya dari kecintaannya terhadap burung kenari hingga akhirnya mengembangkan ternak murai batu dan love bird.

“Awalnya saya hanya pelihara biasa. Lama-lama berpikir, kalau hanya memelihara apa serunya. Akhirnya saya membeli indukan betina dan mulai beternak untuk mempertahankan kualitas burung sekaligus menambah nilai ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga: Potensi Sarang Burung Walet Belum Tergarap Maksimal

Seiring waktu, fokusnya beralih ke budi daya murai batu dan lovebird. Namun, menurutnya, beternak murai batu jauh lebih menantang dibandingkan jenis burung lainnya karena kebutuhan pakan dan perawatannya yang cukup rumit.

Murai batu merupakan burung pemakan serangga. Membutuhkan suplai pakan secara rutin. Jangkrik menjadi pakan utama, sementara anakan murai batu juga membutuhkan telur semut atau kroto sebagai sumber nutrisi.

“Kalau terlambat memberi pakan, resikonya besar. Bahkan induknya bisa memakan telur atau anakannya sendiri. Karena itu perawatan harus benar-benar diperhatikan,” kata pria yang akrab disapa Koko Feri itu.

Baca Juga: Anggota DPRD NTB Hulaemi Hobi Beternak Sarang Burung Walet

Biaya pakan pun cukup tinggi. Dalam satu minggu, ia menghabiskan sekitar dua kilogram jangkrik dengan harga rata-rata Rp 60 ribu per kilogram. Belum termasuk vitamin dan kebutuhan perawatan lainnya. “Untuk pakan dan vitamin saja bisa menghabiskan sekitar Rp 700 ribu per bulan. Kalau tidak fokus, harus ada orang khusus yang menangani,” jelasnya.

Meski demikian, hasil penjualan anakan murai batu mampu membantu menutupi biaya operasional. Harga anakan murai batu saat ini berkisar Rp 1 juta untuk jantan dan Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu untuk betina. ”Sementara anakan dengan kualitas dan keturunan unggul bisa dihargai lebih tinggi,” terangnya.

Menurutnya, harga burung murai batu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti panjang ekor, kualitas suara, warna, hingga faktor genetik. Burung dengan warna mutasi seperti albino, panda, atau golden memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dan umumnya diburu kolektor tertentu.

Baca Juga: Sudah Serah Terima, Sentra Pengolahan Sarang Burung Walet Lombok Tengah Belum Beroperasi

“Kalau murai batu ekor panjang yang kualitas bagus bisa mencapai belasan juta rupiah. Ada juga jenis albino atau panda yang harganya sangat fantastis karena pasarnya khusus. Bisa sampai Rp 100 juta-an,” ujarnya.

Saat ini ia masih memelihara sekitar 10 pasang murai batu. Namun, kesibukan membuatnya tidak lagi terlalu fokus mengembangkan populasi burung pemakan serangga tersebut.

Selain biaya pakan, modal awal yang dibutuhkan juga cukup besar. Pembuatan satu kandang murai batu berukuran standar membutuhkan biaya jutaan rupiah, ditambah pembelian indukan yang bisa mencapai Rp 3,5 juta per pasang serta perlengkapan pendukung lainnya.

Karena itu, ia tidak menyarankan peternak pemula langsung terjun ke usaha murai batu dengan harapan memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat. “Kalau untuk pemula, jangan berharap untung besar dulu. Mendapatkan indukan berkualitas membutuhkan modal yang tidak sedikit dan hasilnya belum tentu langsung maksimal,” katanya.

Ia justru menyarankan pemula mencoba beternak lovebird terlebih dahulu karena perawatannya lebih sederhana dan biaya operasionalnya lebih ringan dibandingkan murai batu.

Komunitas Kicau Mania Bantu Pemasaran

Peternak burung lainnya adalah Syamsul Hadi, warga Perumahan Grand Muslim, Kota Mataram. Dengan memanfaatkan sisa tanah di lingkungan perumahan, ia membangun kandang mini untuk membudidayakan burung perkutut.

Usaha yang awalnya hanya berangkat dari hobi masa kecil itu kini mampu menambah penghasilan keluarga, bahkan membantunya membiayai pendidikan hingga memiliki rumah sendiri.

"Sebenarnya saya sudah senang dengan burung perkutut sejak kecil. Saya dikenalkan oleh bapak yang dulu juga memelihara perkutut," ujar Hadi.

Hadi mulai serius mengembangkan usaha ternak burung perkutut pada 2019. Saat itu ia memulai dengan memelihara sekitar 10 pasang burung perkutut lokal. Seiring waktu, sebagian besar burungnya dijual hingga tersisa beberapa ekor yang kemudian dikembangkan kembali.

Sebagai pegawai honorer di lingkungan Pemerintah Kota Mataram, Hadi harus membagi waktu antara pekerjaan dan usaha ternaknya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sepulang kantor, ia menyempatkan diri merawat burung-burung peliharaannya.

"Sebelum berangkat kerja saya siapkan pakan dulu. Burungnya juga harus dimandikan sebelum saya berangkat," katanya.

Setelah beberapa tahun menekuni ternak perkutut lokal, Hadi melihat peluang yang lebih besar pada Perkutut Bangkok. Menurutnya, secara fisik burung lokal dan Perkutut Bangkok tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Namun kualitas suara menjadi faktor utama yang membuat Perkutut Bangkok memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Perbedaannya lebih pada suara. Perkutut Bangkok terkenal karena suara yang indah dan berkarakter," jelasnya.

Popularitas Perkutut Bangkok tidak hanya diminati kalangan orang tua. Saat ini, banyak generasi muda yang mulai menggemari burung tersebut. Bahkan berbagai perlombaan suara perkutut rutin digelar di berbagai daerah.

Melihat potensi pasar yang menjanjikan, Hadi memberanikan diri mengembangkan usahanya dengan tambahan modal dari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta pada 2021. Dana tersebut digunakan untuk membeli tiga pasang indukan Perkutut Bangkok berkualitas.

"Itu yang kemudian saya kembangkan sampai sekarang," ujarnya.

Meski terlihat sederhana, beternak perkutut membutuhkan ketelatenan dan disiplin tinggi. Tantangan terbesar biasanya muncul saat musim hujan dan cuaca tidak menentu yang dapat mempengaruhi produktivitas bahkan kesehatan burung.

"Kalau cuaca tidak bagus, produksinya menurun dan burung bisa sakit bahkan mati," katanya.

Untuk menjaga kondisi burung tetap prima, Hadi memberikan berbagai suplemen tambahan seperti minyak ikan dan jamu khusus yang didatangkan dari Pulau Jawa. Jika diperlukan, pakan juga ditambah ketan hitam untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

"Perkutut suka tempat yang hangat. Kalau terlalu dingin, lebih rentan sakit," jelasnya.

Menurut Hadi, salah satu keunggulan beternak perkutut adalah biaya perawatannya yang relatif rendah dibanding jenis burung lainnya. Pemberian pakan dan minum tidak harus dilakukan setiap hari.

"Makannya bisa seminggu sekali. Minumnya sekitar tiga hari sekali ditambah," katanya.

Usaha yang dijalankannya selama bertahun-tahun kini membuahkan hasil. Modal awal Rp 25 juta yang dikeluarkan pada 2021 telah kembali sejak lama. Berkat jaringan komunitas pecinta perkutut yang diikutinya di berbagai daerah Indonesia, pemasaran hasil ternaknya menjadi lebih mudah. (arl/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#hobi #perawatan #Pakan #burung #modal