
LombokPost - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan beragam pilihan hiburan modern, dunia burung kicau tetap memiliki penggemar setia. Arena latihan dan lomba masih ramai didatangi para penghobi dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga senior. Bagi mereka, kicau mania bukan sekadar hobi memelihara burung, melainkan ruang untuk menyalurkan passion, mempererat pertemanan, hingga membuka peluang ekonomi yang terus berdenyut.
Kicauan burung Murai Batu terdengar bersahutan sejak pagi di rumah Hasrawan di Lombok Tengah. Bagi pria yang akrab disapa Awan itu, hobi yang ditekuninya sejak pandemi Covid-19 ini telah menjelma menjadi sebuah seni yang menuntut ketelatenan, kesabaran, dan insting yang kuat. Apalagi, karakteristik Murai Batu sebagai burung petarung (fighter) membuat tantangan menjaga performanya terbilang gampang-gampang sulit.
“Dari yang awalnya cuma buat isi waktu luang karena aktivitas dibatasi pemerintah, lama-kelamaan malah ketagihan. Tapi memang merawat burung ini butuh ketelatenan luar biasa,” ujar Awan saat berbincang dengan Lombok Post, Jumat (5/6).
Baca Juga: Anggota DPRD NTB Hulaemi Hobi Beternak Sarang Burung Walet
Pekerja swasta ini mengungkapkan, kunci utama agar Murai Batu tetap sehat dan tidak mudah mati terletak pada kedisiplinan perawatnya. Pola perawatan harian harus diterapkan secara konsisten, mulai dari asupan pakan, kebersihan lingkungan, hingga pengaturan sirkulasi udara dan cahaya di sekitar kandang.
Tak hanya itu, mental burung juga harus diasah lewat latihan. Salah satu burung milik Awan kini sudah mulai menunjukkan taji setelah mencicipi atmosfer perlombaan sebanyak tiga kali. Burung rumahan miliknya itu baru saja menyabet juara di kelas pemula atau Latihan Bersama (Latber).
“Kelas Latber ini memang diperuntukkan bagi burung yang baru belajar tampil di lapangan atau burung rumahan yang ingin dicoba mentalnya,” jelas Awan.
Belajar Merawat dari Medsos
Menariknya, seluruh pemahaman mendalam tentang pola perawatan ini didapatkan Awan secara otodidak. Di sela-sela kesibukannya, ia rajin berselancar di media sosial, menonton YouTube, dan membuka ruang diskusi serta saling berbagi tips dengan sesama komunitas penghobi burung.
Ketelatenan yang berujung pada prestasi ini pun otomatis mendongkrak nilai ekonomi sang burung. Jika masih berstatus burung rumahan biasa, harganya berkisar di bawah Rp 1 juta. Namun, begitu performanya menanjak dan mengunci gelar juara, nilainya langsung melesat.
Baca Juga: Balai Karantina NTB Gagalkan Penyelundupan 81 Ekor Burung Tanpa Dokumen, Ini Daerah Yang Dituju
“Kalau di kelas Latber harga burungnya bisa naik sekitar Rp 3 hingga 5 juta. Sedangkan kalau sudah stabil dan menang di kelas event besar, harganya bisa mencapai belasan juta rupiah. Pada dasarnya memang harus suka dan sabar merawatnya,” pungkas Awan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




