WFC Bikin Jumlah Kafe Kian Menjamur, Tawarkan Konsep Berbeda-beda

Ferial Ayu • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 06:20 WIB
RUANG KERJA KREATIF: Para pengunjung yang tengah melakukan work from cafe (WFC) di Ratih Coffee &  Eatery, di Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)
RUANG KERJA KREATIF: Para pengunjung yang tengah melakukan work from cafe (WFC) di Ratih Coffee & Eatery, di Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Tren WFC turut dirasakan pelaku usaha kafe dan coffee shop di Pulau Lombok.

Seperti di Kota Mataram, keberadaannya malah menjamur.

Namun cukup jarang menemukan kafe dan coffee shop yang nyaman dijadikan tempat WFC, apalagi di tengah perkotaan.

Salah satu kafe atau coffee shop yang cukup populer adalah Ratih Coffee & Eatery.

Baca Juga: Suzuki Jimny Nomade Bangkit dengan Sentuhan Retro Amerika

Terletak di depan Hotel Ratih yang ada di Cakranegara, coffee shop ini menjadi pilihan favorit berbagai kalangan, terutama pekerja.

Meski tempatnya tidak luas, namun Ratih Coffee & Eatery menghadirkan suasana cozy yang nyaman bagi pengunjungnya.

Tempat duduknya tertata rapi dengan bar diposisikan berada di bagian tengah.

“Berbagai kalangan (datang). Ada juga orang yang datang untuk bekerja, bertemu klien, berdiskusi, bahkan menyelesaikan pekerjaan,” kata penjaga sekaligus barista Ratih Coffee & Eatery, Miftah.

Baca Juga: Semakin Tangguh, All New Mitsubishi Pajero Reborn  

Dijelaskannya, bagi pekerja digital, pekerja lepas, mahasiswa, maupun pelaku usaha, bekerja dari kafe menawarkan suasana berbeda dibandingkan kantor.

Mereka dapat menyelesaikan pekerjaan sembari menikmati minuman dan makanan.

“Suasana yang lebih santai juga dapat memberikan alternatif bagi mereka yang membutuhkan ruang untuk mencari inspirasi,” sambungnya.

Kehadiran pelanggan yang datang untuk WFC berpotensi meningkatkan kunjungan pada jam-jam tertentu.

Mereka biasanya membutuhkan waktu lebih lama di kafe, sehingga kenyamanan menjadi salah satu faktor penting.

“Pelanggan mulai berdatangan dari jam 10 pagi dengan puncak ramainya itu memasuki jam makan siang hingga sore. Kita bukanya sampai pukul 8 malam,” jelasnya.

Baca Juga: Tren WFC Makin Marak, Kafe Kini Jadi Tempat Kerja dan Peluang Bisnis Baru

Kondisi itu sekaligus mendorong pemilik kafe untuk beradaptasi.

Di Ratih, tersedia fasilitas pendukung yang bagus.

Seperti jaringan internet cepat, colokan listrik, meja yang nyaman, pencahayaan, serta suasana yang tidak terlalu bising mulai menjadi bagian dari pengalaman yang dicari pelanggan.

Tidak hanya sampai di situ, pilihan makanan dan minuman yang disediakan juga ikut menentukan.

Baca Juga: Desa Adat Sade Dibangun Lagi, Unram Siapkan Masterplan Pemulihan Pascakebakaran

Ini juga menjadi bagian penting yang membuat pencinta WFC betah untuk kembali lagi di hari berikutnya.

Sebagai coffee shop, Ratih menyediakan pilihan makanan dengan kualitas terbaik dan harga yang cukup terjangkau.

Terutama pada pilihan minuman kopi sebagai pendamping pekerja.

Di sana, tersedia pilihan bean atau biji kopi yang bisa disesuai keinginan pelanggan.

“Selain kopi, kita ada pilihan non kopi bagi yang pelanggan yang kurang suka kopi,” tandasnya.

Kopi Bisa Lahirkan Gagasan

Baca Juga: Karang Taliwang Kembangkan Inovasi Mesin Sangrai Mekanis untuk UMKM

Bergeser ke Lombok Utara, ada juga kafe yang unik.

Tidak hanya dijadikan tempat WFC, tapi juga melahirkan karya kreatif.

Namanya Kolanta Coffee yang terletak di Tanjung.

Pemilik kafe tersebut, Raden Prawangsa percaya dari kopi terjadi percakapan, kemudian lahir gagasan.

Baca Juga: Krisis Air Bersih, 300 Wisatawan Tinggalkan Gili Trawangan, Pemprov NTB Turun Tangan

Ketika gagasan bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama, kolaborasi pun tumbuh.

Menurutnya, kedai kopi tersebut berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat menikmati minuman.

Kolanta menjelma sebagai titik temu komunitas kreatif, ruang berbagi gagasan, sekaligus tempat anak muda membangun jejaring dan kolaborasi lintas bidang.

Raden Prawangsa mengatakan, sejak awal kedai tersebut memang dirancang sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja.

Menjadi jembatan untuk mempertemukan orang-orang dengan latar belakang dan minat yang beragam.

“Kolanta itu wadah. Kopi hanya jembatan agar orang bisa duduk bersama dan ngobrol,” ujarnya.

Menurut Raden, Lombok Utara memiliki banyak anak muda dengan potensi kreatif.

Baca Juga: Segera Debut, Xpeng Mona L05 Hadir Dalam Dua Konfigurasi, Versi BEV dan EREV

Mereka bergerak di berbagai bidang, mulai seni, fotografi, musik, literasi hingga konten kreatif.

Namun, tidak semuanya saling mengenal atau memiliki ruang untuk bertemu.

Kondisi itu yang kemudian coba dijawab Kolanta.

Obrolan sederhana di meja kopi perlahan berkembang menjadi diskusi.

Baca Juga: Daihatsu Rocky Usung Teknologi e-Smart Hybrid  

Dari diskusi muncul ide, kemudian berlanjut menjadi kegiatan dan kolaborasi.

Raden menegaskan, gerakan yang dibangun Kolanta tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar dan formal.

Justru, ia percaya perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan memberikan dampak langsung.

Konsep keterbukaan menjadi salah satu kekuatan Kolanta.

Tidak ada sekat berdasarkan status sosial, pekerjaan maupun jabatan. 

Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk datang, berbicara, bertukar gagasan dan berproses.

Baca Juga: Mitsubishi Pajero Generasi Kelima Debut Global Awal September 2026

“Di sini tidak ada yang eksklusif. Semua punya hak yang sama untuk datang, berdiskusi, dan berproses,” katanya.

Keterbukaan tersebut membuat Kolanta perlahan menjadi rumah kedua bagi sejumlah komunitas.

Tempat ini bukan hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga ruang untuk membangun keberanian, mengasah gagasan dan menemukan jejaring baru.

Di tahun ketiga beroperasi, Kolanta menyiapkan pengembangan konsep. Raden menghadirkan mini museum sekaligus workspace kreatif.

Baca Juga: MAZDA CX-6e Dipasarkan Mulai Akhir 2026

Gagasan mini museum berangkat dari kondisi Lombok Utara yang belum memiliki museum daerah.

Padahal, daerah tersebut menyimpan kekayaan sejarah dan tradisi yang besar.

Mini museum nantinya diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih cair dan dekat dengan generasi muda.

Sementara workspace kreatif disiapkan sebagai ruang produktif bagi komunitas untuk berkarya, berdiskusi dan berkolaborasi.

Raden berharap langkah yang dimulai dari sebuah kedai kopi tersebut dapat menjadi pemantik terbentuknya ekosistem kreatif yang lebih kuat di Lombok Utara.

Sebab, bagi Kolanta, kopi bukanlah tujuan akhir, ia hanyalah awal.

Baca Juga: Mahasiswa Jerman PPL di SMAN 3 Mataram, Empat Bulan Mengajar hingga Belajar Budaya Indonesia

Dari secangkir kopi tumbuh percakapan, dari percakapan lahir gagasan, dan dari gagasan terbentuk kolaborasi.

Editor : Rury Anjas Andita
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Work From Cafe WFC kafe coffee shop Lombok