Tak Terbatas Ruang, Ngopi Tak Hanya soal lifestyle

Ferial Ayu • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 14:54 WIB
UNIK: Coffee shop keliling unik ala Celor Kupi milik Bagas di Lombok Utara. (IST/LOMBOK POST)
UNIK: Coffee shop keliling unik ala Celor Kupi milik Bagas di Lombok Utara. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost – Di NTB, tren menjual kopi keliling berkembang menjadi model usaha yang menawarkan cara baru menikmati kopi.

Gerobak bergerak menyusuri jalan, mendatangi pusat keramaian, kawasan kampus hingga lokasi tempat anak muda berkumpul.

Konsep sederhana itu kemudian dikemas lebih kreatif oleh sejumlah pelaku usaha.

Dimulai dari Kopi Koko yang digagas dua anak muda, Ihsan dan Kemas Omi Andrian.

Baca Juga: Menikmati Pesona Sunyi Pantai Leppu di Selatan Sumbawa

Keduanya tidak ingin sekadar ikut dalam tren kopi keliling.

Kopi Koko dirancang untuk memberikan pengalaman minum kopi dengan kualitas rasa yang mereka klaim mampu bersaing dengan coffee shop modern.

“Kopi Koko menawarkan pengalaman rasa yang berbeda dari kopi keliling pada umumnya. Dari segi kualitas, kami siap bersaing, istilahnya seperti kopi gerobakan rasa coffee shop,” kata Ihsan.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui sebuah gerobak yang menggunakan sepeda listrik.

Baca Juga: Dishub Mataram Tutup Titik Parkir di Jalan Mahoni

 Kendaraan itu dimodifikasi sehingga dapat menjadi tempat meracik sekaligus menjajakan berbagai menu kopi.

Bisa Jemput Bola

Bagi Kopi Koko, gerobak bukan sekadar sarana berjualan.

Kendaraan tersebut menjadi bagian dari identitas usaha.

Dengan konsep bergerak, mereka tidak harus bergantung pada satu lokasi untuk mendapatkan pelanggan.

Ihsan mengatakan, gerobak Kopi Koko dibuat fleksibel.

Mereka dapat berpindah dari satu titik ke titik lainnya sesuai dengan potensi keramaian dan karakter konsumen yang dibidik.

Baca Juga: Seleksi Pemuda Pelopor Desa NTB 2026 Sisir Inovasi Pemuda Dompu dan Bima

Strategi tersebut sekaligus menjawab tantangan bisnis coffee shop yang membutuhkan investasi lebih besar untuk membangun tempat usaha permanen.

Kopi Koko memilih model yang lebih sederhana, tetapi tetap memberikan perhatian pada kualitas produk.

Bahan Baku Pilihan

Ihsan mengaku, pemilihan bahan baku menjadi salah satu perhatian utama.

Mereka menggunakan biji kopi pilihan yang diproses secara khusus untuk mempertahankan cita rasa.

Baca Juga: Menang Tender Lagi, PT DIU Kembali Garap Lanjutan Proyek Bale Mentaram

 Racikan juga dikembangkan agar menghasilkan karakter minuman yang berbeda dari kopi keliling pada umumnya.

“Jadi meskipun jualannya kaki lima, kami ingin kualitas kopinya tidak kalah dengan coffee shop,” ujarnya.

Tidak hanya kualitas, Kopi Koko juga mencoba membangun identitas melalui nama.

Ihsan menjelaskan, kata “Koko” diambil dari bahasa Tionghoa yang berarti kakak laki-laki.

Makna tersebut kemudian dijadikan filosofi dalam membangun kedekatan dengan konsumen.

Kopi tidak hanya diposisikan sebagai minuman, tetapi juga sebagai teman dalam berbagai aktivitas.

Baca Juga: Geliat UMKM Sambut MotoGP Mandalika 2026, Menikmati Sensasi Kuliner Prasmanan Khas Sulawesi

“Kami ingin setiap cangkir Kopi Koko terasa seperti kehadiran seorang kakak, hangat, akrab, dan bisa menemani siapa saja,” ujar Ihsan.

Keunikan lain terletak pada pilihan menunya.

Kopi Koko menyediakan delapan varian, mulai dari Americano, Butterscotch, Coconut, Vanilla, Palm Sugar, Salted Caramel, Hazelnut hingga Kopi Susu.

Dari seluruh pilihan tersebut, varian Coconut menjadi salah satu menu yang diunggulkan.

Baca Juga: Turnamen Sepak Bola Usia Dini Parus Paras Paros, Diharapkan Tumbuh Bibit Pesepak Bola Andal

Perpaduan kopi dengan cita rasa kelapa menjadi pembeda yang ingin ditanamkan Kopi Koko di tengah banyaknya produk kopling yang bermunculan.

Harga juga menjadi bagian dari strategi mereka.

Untuk menikmati satu cup Kopi Koko, konsumen cukup membayar mulai Rp 8 ribu hingga Rp 15 ribu.

Rentang harga tersebut sengaja dibuat agar dapat dijangkau kalangan muda dan pekerja.

Dua kelompok konsumen tersebut menjadi target utama Kopi Koko.

Ide usaha ini sebenarnya berawal dari hobi Ihsan dan rekannya terhadap kopi.

Baca Juga: UD Mahira Hadirkan Kopi Lombok Berkualitas

Namun, keduanya tidak langsung mengubah hobi tersebut menjadi bisnis.

Mereka terlebih dahulu melakukan observasi selama sekitar tiga bulan.

Dari proses tersebut, keduanya kemudian merumuskan konsep, resep dan model penjualan Kopi Koko.

Mereka melihat kopi keliling memiliki peluang karena dapat menjangkau konsumen secara langsung tanpa membutuhkan tempat usaha permanen.

Baca Juga: Sajang Coffee Promosikan Sembalun Lewat Secangkir Kopi

Sistem Kemitraan

Kisah Kopling lainnya dirintis Damian Firdaus dengan brand Kopling Lombok di Mataram.

Semua berawal dari satu gerobak sepeda listrik di Jalan Pemuda, depan kampus Universitas Mataram, pada September 2024.

Bisnis tersebut kemudian berkembang melalui sistem kemitraan.

Pada awal beroperasi, Damian bahkan hanya mampu menjual 25 cup dari 100 cup yang dibawa.

Namun, angka penjualan kemudian meningkat setelah promosi dilakukan melalui media sosial dan jaringan pertemanan.

Konsep jemput bola menjadi salah satu strategi yang diterapkan.

Baca Juga: Daftar Cakades Taman Ayu, H Suhaili Diiringi Ratusan Warga Hingga Grup Musik

Gerobak Kopling Lombok berpindah ke sejumlah titik.

Terutama kawasan kampus, jalan raya dan pusat aktivitas masyarakat.

Dalam seminggu, gerobak Kopling menjual 150 cup per hari, dan di akhir bulan melonjak hingga 250 cup.

Momen klimaksnya adalah car free day, sebanyak 250 cup ludes hanya dalam empat jam.

Baca Juga: MotoGP Mandalika Magnet Promosi Global

Kopling memahami satu hal, orang butuh kopi bukan hanya untuk gaya hidup, tapi untuk bertahan dari serangan kantuk, terutama di jam 13.00–15.00 WITA.

“Ngopi itu bukan lifestyle doang. Ini tentang energi, fokus, dan produktivitas,” ujar Damian.

Tujuh bulan setelah gerobak pertama meluncur, Kopling menjelma menjadi entitas bisnis yang kokoh.

Melalui skema kemitraan senilai Rp 50–55 juta, para mitra mendapatkan paket lengkap.

Seperti gerobak, alat, bahan baku awal, dan dukungan operasional penuh.

Mitra hanya perlu menyiapkan modal.

Baca Juga: Mencicipi Sajian Nusantara Berkelas di Tepi Mandalika

Tim Kopling yang akan mengelola penjualan, merekrut rider, dan melaporkan omzet harian.

Rider Kopling mayoritas adalah mahasiswa.

Mereka menerima gaji pokok sekitar Rp 700-800 ribu.

Namun hal yang membuat mereka betah adalah komisi per cup, yakni Rp 500-800.

Baca Juga: Kemenkum NTB Siapkan Penilaian IRH 2027, Ada Perubahan Mekanisme dan Data Dukung

Dengan target penjualan realistis, para rider bisa membawa pulang Rp 3-4 juta per bulan.

“Kami nggak menjanjikan gaji tinggi, tapi kami sediakan sistem yang fair. Kalau kerja keras, hasilnya kelihatan,” kata Damian.

Masing-Masing Punya Konsep

Cerita lain datang dari Celor Kupi, Kopling lainnya.

Usaha yang digagas mahasiswa Universitas Mataram, Bagas Manaf Primana ini menawarkan konsep kopi motoran menggunakan Honda Astrea Prima.

Nama Celor Kupi sendiri diambil dari bahasa Sasak.

Baca Juga: 5.182 Warga di Lombok Timur Diperiksa, 442 Positif TBC

“Celor” berarti tuang, sehingga Celor Kupi dimaknai sebagai “Tuang Kopi”.

Berbeda dengan Kopi Koko yang mengedepankan sensasi coffee shop, Celor Kupi memadukan kopi dengan pengalaman menikmati suasana alam, terutama pemandangan matahari terbenam atau sunset.

Uniknya, Bagas memilih kendaraan klasik Honda Astrea Prima sebagai 'kedai' kelilingnya.

Pemilihan motor ini bukan tanpa alasan.

"Saya sengaja menggunakan motor produk Honda yaitu Astrea Prima karena sesuai dengan nama saya," tambahnya.

Baca Juga: Revitalisasi Sekolah di KLU Berlanjut, Penerima Program 2027 Bakal Ditambah

Konsep kopi motoran ini lahir dari perpaduan hobi Bagas yang gemar ngopi dan touring. 

"Alhamdulillah, sampai hari ini bisa bertahan dan memiliki banyak pelanggan di empat lokasi yang saya kunjungi," jelas Bagas.

Target pasar utama Celor Kupi adalah anak muda yang gemar berkumpul dan mencari sunset.

Menurut Bagas, banyak pelanggannya berpendapat bahwa ‘sunset harus dibarengi dengan kopi’.

Filosofi inilah yang mendorongnya selalu mencari lokasi strategis yang menawarkan pemandangan senja terbaik.

Untuk menjaga kualitas minuman, Celor Kupi juga bekerja sama dengan sejumlah merek kopi lokal, di antaranya Cendana Kopi, Kopi Tujak Odentick Rinjani dan 689 Surabaya.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
kopi keliling coffee shop kopi ngopi kopling