LombokPost - Dari melepas penat hingga menjadi ajang silaturahmi, memancing kini menjelma sebagai hobi favorit berbagai kalangan.
Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap hobi memancing mulai terlihat di berbagai daerah.
Banyak warga, baik muda maupun tua, terlihat di laut, pantai, sungai, danau, bahkan kolam pemancingan buatan setiap akhir pekan.
Gemuruh ombak, tarikan senar, dan sensasi pertarungan dengan ikan. Bagi sebagian orang, memancing adalah hobi yang meyenangkan.
Namun, lebih dari itu, memancing menyimpan segudang manfaat, dan filosofi mendalam tentang kehidupan.
Tak heran, memancing semakin banyak digemari berbagai kalangan dan lintas generasi.
Pagi itu saat matahari baru saja merekah di ufuk timur, lautan lepas menjadi panggung sunyi bagi para pemancing yang bersabar menanti rezeki dari alam sang Illahi.
Bagi sebagian orang, memancing mungkin hanya sekadar hobi atau cara mengisi waktu luang.
Baca Juga: Mancing Gratis dan Dapat Hadiah, Event Relawan Sanaq Ganjar Penuh Sesak Bapak-bapak
Filosofi di Balik Memancing
Tapi bagi Ahmad Quroni, Kepala SMKN 1 Lembar, Lombok Barat memancing adalah cermin kehidupan.
Ada usaha, ada harapan, ada kekecewaan, dan ada pula pelajaran tentang arti bersyukur.
“Saat saya memancing, saya sadar hidup ini penuh ketidakpastian. Kadang kita sudah pasang umpan terbaik, pilih tempat yang pas, tapi ikan tetap tidak datang. Bukankah hidup juga begitu? Kita bisa merencanakan banyak hal, tapi hasil akhirnya tetap rahasia Tuhan,” ungkap Quroni yang juga seorang nelayan ini.
Ia bukan satu-satunya yang menemukan filosofi hidup dari hobi ini. Iwan, seorang pegawai yang sekaligus kerabatnya yang terkadang setiap akhir pekan melarikan diri dari riuhnya pekerjaan dan rutinitasnya. Mengaku memancing memberinya ruang untuk berdamai dengan stres pekerjaannya.
“Di kantor katanya terbiasa berpacu dengan waktu, semua serba cepat dan target-oriented. Tapi saat memancing, ia belajar berhenti sejenak, menikmati proses, bukan hanya hasilnya,” tutur Quroni.
Memancing memang unik. Tak seperti olahraga atau hobi lain yang berorientasi pada kecepatan atau kompetisi.
Memancing menuntut pelakunya untuk diam, mengamati, dan menunggu. Di sanalah muncul keheningan yang menumbuhkan kesadaran diri.
Menurut salah seorang psikolog olahraga, kata Quroni, memancing mampu menumbuhkan kecerdasan emosional.
Saat menunggu ikan menyambar umpan, pemancing belajar mengelola harapan, kecewa, dan ketenangan.
“Ini seperti latihan mindfulness alami yang terhubung langsung dengan alam,” jelasnya.
Ia menuturkan, bahwa memancing bukan hanya soal mendapatkan hasil, tapi juga tentang menjaga keseimbangan alam.
Ia juga aktif mengajak komunitas pemancing lokal untuk tidak menggunakan alat tangkap berbahaya dan menjaga habitat ikan.
“Kalau kita rakus dan serakah, mungkin hari ini laut kita kaya, tapi lima tahun lagi anak cucu kita tidak kebagian ikan. Prinsipnya sederhana, ambil secukupnya, syukuri seperlunya,” ujarnya.
Memancing baginya bukan hanya ritual mencari ikan, tapi juga ruang refleksi dan tempat berbagi nilai kehidupan kepada generasi muda.
Ia kerap mengajak siswanya ke laut, bukan hanya sekadar memancing, tapi juga berdiskusi tentang kejujuran, tanggung jawab, dan menghargai alam.
Di antara senar yang terulur dan ombak yang tenang, Quroni dan banyak pemancing lainnya menemukan bahwa kehidupan seperti memancing, bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling banyak mendapat ikan.
Tetapi tentang siapa yang paling mampu menikmati prosesnya dengan sabar dan bijaksana.
Bikin Ketagihan
Penghobi mamancing lainnya adalah Yuji, salah satu pegawai PT Citra Usaha Mandiri Perkasa (CUMP), anak perusahaan dari PLN Indonesia Power.
”Saya sudah suka mancing sejak kecil, tapi baru saya dalami serius itu sejak 2017,” ujarnya.
Dia menjadi salah satu pemancing yang cukup di kenal di Pulau Lombok.
Bahkan sampai Pulau Dewata. Beberapa waktu lalu, Yuji sempat berkolaborasi dengan salah satu pemancing sekaligus Youtuber asal Bali Kadek Wawan Wijaya.
Yuji mengaku mulai senang memancing dan mengenal teknik dasar di tahun 2000. Namun seiring waktu, dunia mancing membawanya pada berbagai teknik yang lebih kompleks.
Lebih dari itu, mancing telah menjadi filosofi hidup, ruang penyembuh pikiran dan ajang memperkuat persaudaraan lintas daerah, profesi, suku dan budaya.
”Kebetulan kami punya komunitas mancing Angler Terabas yang terdiri dari beberapa kalangan profesi dan suku. Ada Suku Jawa, Bima, dan Sasak Lombok,” ungkapnya.
Hampir setiap pekan atau sebulan sekali mereka mendatangi spot-spot mancing terbaik di Pulau Lombok. Mulai dari Pulau Sepatan dan Sepi di Sekotong, Teluk Awang, Pantai Gerupuk Lombok Tengah, hingga beberapa lokasi lainnya.
”Yang paling menantang dan ikannya besar-besar itu di Pulau Sepatang. Itu pulau terluar di Lombok,” terangnya.
Di sana, Yuji mengaku pernah mendaratkan ikan hingga 45,5 kilogram. Sensasinya luar biasa tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya saja, dia tak bisa membawa hasil pancingannya pulang.
”Itu ikan dilindungi, jadi langsung dilepas. Kita mancing bukan semata soal hasil, tapi sensasi dan kesadaran menjaga alam,” katanya.
Prinsip ‘catch and release’ selalu ia pegang teguh sebagai bentuk penghargaan terhadap keberlanjutan ekosistem laut.
Selama beberapa tahun menekuni hobi ini, berbagai teknik memancing sudah dikuasainya. Mulai dari ultra light (UL), casting, teknik dasaran hingga jigging dan popping.
Teknik UL misalnya, Yuji menjelaskan jika teknik ini memanfaatkan umpan ringan antara 5 gram hingga 6 gram.
Sedangkan popping menggunakan umpan mulai dari 40 gram hingga 100 gram. Adapun jigging atau zinc memiliki varian berat umpan lebih ekstrem, antara 200 gram hingga 800 gram, tergantung ukuran target ikan. ”Senarnya pun beda-beda. Untuk jigging, saya biasa pakai dari PE 3 hingga PE 4, sementara popping bisa sampai PE 6,” jelasnya.
Tak Pernah Jera
Sensasi mancing bagi Yuji memberikan kesan dan rasa senang yang sulit dijelaskan.
Meskipun dia mengaku mancing di tengah laut juga punya risiko. Cuaca bisa berubah drastis kapan saja.
Yuji sendiri pernah mengalami insiden perahu nyaris terbalik karena badai mendadak.
“Kesiapan fisik penting, tapi alat keselamatan juga jangan diabaikan. Pelampung, sarung tangan, sepatu boat, dan kacamata polarized harus dipakai. Bukan buat gaya-gayaan, tapi untuk melindungi diri,” tegasnya.
Ia mengingatkan, banyak kejadian umpan nyangkut ke tubuh sendiri atau bahkan ke wajah teman karena angin dan arus laut.
Maka, penggunaan topi dan kacamata bukan sekadar gaya, melainkan perlindungan dari sengatan sinar matahari yang mantul dari permukaan air.
Terus Berkembang
Senada dengan Yuji, Muhammad Yusuf rekan kerjanya juga mengungkapkan demikian. Sejak beberapa tahun dia sudah tergila gila pada dunia mancing.
Terlebih ketika dia berhasil menangkap ikan predator dengan teknik casting seperti ikan giant trevally atau GT hingga barakuda.
”Ketika berhasil menangkap ikan predator itu yang bikin terus ketagihan mincing,” sebutnya.
Yusuf menjelaskan jika dunia memancing terus berkembang dengan berbagai teknik memancing yang menarik.
Di perairan dangkal, teknik dasaran (bottom fishing) atau ngoncer menjadi favorit, terutama untuk target ikan kakap atau kerapu.
Cukup pasang umpan pada kail yang menyentuh dasar laut.
Bagi pencari sensasi lebih, teknik casting atau lempar-tarik sangat populer untuk berburu predator seperti baramundi atau gabus.
Umpan buatan seperti minnow atau soft lure dilempar jauh, lalu ditarik dengan variasi kecepatan untuk memancing perhatian ikan.
Kemudian teknik trolling cocok untuk memancing ikan-ikan pelagis seperti tuna atau marlin.
Tak Hanya soal Dapat Ikan
Lebih lanjut, baik Yuji maupun Yusuf menjelaskan beberapa manfaat yang mereka rasakan dengan memancing. Keduanya menegaskan memancing tidak hanya soal mendapatkan ikan.
Secara fisik, memancing dapat melatih kesabaran, konsentrasi, dan koordinasi mata-tangan.
”Secara mental, memancing adalah terapi alami merefresh kemabali pikiran setelah sepekan bekerja,” aku keduanya.
Suasana tenang di alam terbuka, jauh dari hiruk pikuk kota, mampu meredakan stres dan kecemasan. Fokus pada tarikan senar dan gerakan umpan membuat pikiran rileks.
Tak heran jika banyak yang menjadikan memancing sebagai sarana meditasi dan mencari ketenangan batin.
”Memancing mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi penantian, ketekunan untuk terus mencoba meskipun belum ada hasil, dan keikhlasan dalam menerima apa pun yang alam berikan,” katanya.
Setiap lemparan umpan adalah harapan, setiap tarikan adalah ujian, dan setiap ikan yang didapat adalah anugerah.
Pemancing belajar untuk tidak terburu-buru, menghargai proses, dan memahami bahwa rezeki datang pada waktunya. (jay/ton/r3)
Editor : Kimda Farida