Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mereka yang Tetap Setia dengan Kaset Pita di Era Digital, Berikan Rasa Nostalgia Masa Muda dan Arti Perjuangan

Lombok Post Online • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 12:44 WIB

 

TETAP BERTAHAN: Seorang pedagang Mukinah masih eksis mendengarkan musik menggunakan kaset pita di tempat jualannya, wilayah Cakranegara, Jumat (22/8).
TETAP BERTAHAN: Seorang pedagang Mukinah masih eksis mendengarkan musik menggunakan kaset pita di tempat jualannya, wilayah Cakranegara, Jumat (22/8).
 

LombokPost - Era digital mengubah semua. Termasuk cara mendengar musik.

Banyak platform di handphone maupun televisi menyediakan musik.

Namun ada orang-orang yang tetap setia dengan kaset pita.

Suara musik lawas terdengar di ujung jalan Tumpang Sari, Cakranegara, Mataram.

Suara itu muncul dari deretan ruko yang menjual sembako.

Saat didekati sumber suara lagu Broery Marantika berasal dari tape kecil yang tersembunyi dibalik bungkusan kopi. Tape itu masih mulus.

Suara musik itu bukanlah radio. Melainkan dari kaset pita.

"Saya punya tape ini dari tahun 2004," kata Mukinah yang santai sambil menunggu pembeli.

Dia memiliki dua tape yang masih berfungsi. Namun, satu tape yang masih menggunakan kaset pita itu disimpan di rumahnya.

"Kalau tape yang ini selalu saya bawa ketika jualan," tuturnya.

Begitu juga kaset pitanya. Masih tersimpan rapi di dus kecil.

"Ini tinggal 15 kaset yang saya punya," kata dia.

Mulai dari Broery Marantika, Roma Irama, Iwan Fals, Koes Plus, dan Chrisye.

"Sisanya tinggal kaset ceramah dari KH Zainudin MZ," ungkapnya.

Dahulu, dia memiliki puluhan kaset. Tetapi, rusak.

"Penyakit kaset pita itu ketika pita hitam di dalamnya kerukut (kusut)," tuturnya.

Jadi, harus diperbaiki. Ketika pitanya sudah amburadul, ia harus menyiapkan pulpen.

"Bahkan kalau putus, harus berhati-hati cara menyambung pitanya agar musiknya tidak terputus," ujarnya.

Dirinya bukanlah pedagang kaset pita. Hanya sebagai penikmat.

"Saya jualan di wilayah Cakra ini sejak 1995. Itu saya pakai satu rombong," kata dia.

Kaset pita yang dimiliki lagu-lagu lawas. Wajar, semenjak semua serba digital tidak ada lagi yang produksi lagu baru.

”Saya bisa saja beli yang digital. Tetapi, tape dan kaset pita ini yang selalu menemani saat berjuang mencari rejeki," tutur Mukinah.

Terlebih lagi, semua kaset pita itu merupakan hadiah dari sang suami semasa merintis usaha. Sehingga, semua itu tetap menjadi kenangan.

"Itu yang membuat saya tidak beralih. Semua banyak kenangannya," kata dia.

Saat ini yang menjadi tantangan adalah sulitnya mencari kaset pita. Sebenarnya dirinya ingin membeli kaset pita.

"Dagangnya sudah tidak ada," ujarnya.

Biasanya dahulu belinya di toko kaset di pasar Cakra. Nama tokonya Mia Jaya.

"Sekarang sudah tutup kayaknya," ujarnya.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Jika ingin mencari kaset pita, harus ke rumahnya di wilayah Karang Mas-mas, Cakranegara.

Namanya Bu Upik. Sekarang diteruskan anaknya.

"Tetapi, terbatas juga kita mau cari kaset pitanya," beber Mukinah.

Berbeda dengan Upik yang menjual kaset pita. Kini hanya jualan di rumahnya.

"Jarang sekali orang cari kaset pita. Makanya saya tidak buka lagi. Kalau ada yang cari datang ke rumah," kata Upik.

Dahulu, tokonya terpajang kaset pita. Beragam warna.

Di dalam etalase-nya juga berjejer rupa kaset pita. Wajah penyanyi lawas terlihat di dalam cover kaset pita. Seperti, Doel Soembang, Gombloh, dan ada juga wajah artis India Sakhrukan.

”Kalau mau cari lagu keluaran di atas tahun 2.000-an tidak ada di kaset pita,” kata Upik.

Di etalase lain terpampang juga penceramah kenamaan almarhum KH Zaenudin MZ.

”Kalau yang ini khusus untuk pengajian,” kata dia.

Baca Juga: Polemik Royalti Musik Kian Panas, Menkumham Supratman Turun Tangan Audit LMK dan LMKN

Ada juga lagu Sasak, seperti gending-gending, gema rinjani, pelita harapan, dan lain sebagainya.

Itu asli produk masyarakat sasak.

”Biasanya, juga ada yang kami jual produk pengeluaran dari Sri Record,” ungkapnya.

Upik sudah menjual kaset pita sejak 1980-an. Ia melanjutkan bisnis almarhum sang ayah.

”Ini melanjutkan saja. Nama tokonya dari dulu sampai sekarang Mia Jaya,” ujarnya.

Di era 90-an, mendiang sang ayah merupakan distributor kaset di seluruh NTB.

Kala itu kaset pita sedang jaya-jayanya.

”Semua pedagang kaset yang ada di NTB dulu ngambilnya di kita,” kata dia.

Hingga kala itu, almarhum ayahnya membuka dua cabang.

Di dalam Pasar Cakranegara dan di Jalan Pejanggik, Cakranegara.

”Dulu kami beli kaset dari Surabaya,” ujarnya.

Dia mengakui, yang mencari kaset pita saat ini mulai berkurang. Tidak seperti dulu, droping kaset pita bisa sampai ratusan biji per hari.

”Sehari itu ada aja orang yang beli,” tuturnya.

Bukan saja orang tua saja yang beli.

Banyak juga anak-anak muda yang masih memiliki tape datang membeli.

”Mahasiswa juga masih banyak yang beli,” bebernya.

Malah kalangan orang-orang tua lebih sedikit yang mencari.

Orang tua yang usia di atas 50 tahunan hanya mencari lagu lawas.

”Sebagian besar yang dibeli adalah kaset pita pengajian. Itu untuk mendengarkan ceramah di masjid,” ujarnya.

Upik menuturkan, pernah ada mahasiswa dari Bandung yang datang membeli. Mereka mencari kaset pita hingga 50 biji.

”Yang dibeli rata-rata kaset pita yang lagu anak-anak muda-lah,” bebernya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Seperti lagu grup band Tipe-X, Dewa 19, dan band yang ngetop 1990-an.

Dia juga tidak mengetahui kaset pita itu digunakan untuk apa oleh mahasiswa.

”Kata mahasiswa dari Bandung itu mengatakan, sensasi dan suara yang dihasilkan kaset pita berbeda dengan yang lainnya,” ujarnya.

Dia yakin, kaset pita bisa bangkit kembali. Saat ini memang masih dipandang sebelah mata.

”Tetapi, kaset pita ini akan langka dan dirindukan penikmat musik era 90-an,” kata Upik.

Selain itu, beberapa produk elektronik nanti bakal mengembangkan tape kaset pita.

”Nanti katanya akan ada produknya. Itu yang masih kita tunggu,” ujarnya.

Hal itu yang membuat Upik tetap bertahan menjual kaset pita.

Selain itu, yang membuatnya bertahan adalah almarhum sang ayah.

”Saya hanya melanjutkan bisnis ini karena melihat almarhum ayah. Lewat menjual kaset pita ini saya bisa bertahan,” terangnya.

Upik bukan sebagai kolektor. Melainkan menjual.

”Saya tidak menerima pembelian hanya menjual. Saya punya stok 1.000 kaset pita,” ujarnya.

Itu sisa stok sejak tahun 2000-an.

Semenjak kaset pita beralih ke VCD, hingga saat ini berkembang ke Youtube dan dunia digital lainnya.

“Ini hanya sisa saja yang masih saya jual,” kata Upik. (SUHARLI, Mataram)

Editor : Kimda Farida
#digital #Kusut #tape #musik #kaset