LombokPost - Yoga kian populer di Pulau Lombok. Kondisi ini ditangkap menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Dari yang semula hanya segelintir studio, kini banyak instruktur dan tempat latihan baru yoga bermunculan.
Peluangnya tak hanya terbatas pada studio. Namun kini merambah ke layanan privat premium perhotelan, baik di pusat kota maupun destinasi wisata.
Seorang pegiat usaha yoga di Kota Mataram, Ida Ayu mengungkapkan, persaingan bisnis ini semakin ketat.
Meski begitu, bisnis ini tetap lancar selama ditekuni dengan serius. Selain menarik konsumen ke studio yoga, juga bisa menerapkan layanan home call.
”Bisnis yoga sebenarnya sama seperti kerjaan lain yang penting kita serius, istilahnya menekuninya pasti lancar. Kita di sini memang tidak hanya berpenghasilan dari studio, lebih banyak mendapatnya di luar sebenarnya,” jelasnya.
Peluang penghasilan yang menggiurkan justru datang dari kontrak kerja sama dengan hotel.
Para instruktur profesional di tempatnya banyak menerima pekerjaan mengajar yoga di sana.
Baik untuk tamu asing maupun lokal, di berbagai resort dan hotel berbintang di kawasan Lombok.
”Kita nerima job di hotel baik privat, tamu asing ataupun tamu yang berkunjung di sana. Ada kontrak juga dengan hotel-hotel. Itu, Mbak Bulan (instruktur yoga, Red) juga banyak juga kontraknya dengan hotel-hotel seperti itu,” jelasnya.
Meskipun olahraga seperti pilates dianggap sebagai segmen ekonomi atas, yoga menawarkan spektrum harga yang lebih luas, membuatnya mudah diakses.
Yoga diposisikan sebagai olahraga kelas menengah, dengan tarif yang relatif terjangkau bagi masyarakat lokal.
Tarif untuk satu sesi yoga bervariasi. Mulai dari Rp 25 ribu, Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu per orang di beberapa studio ternama. Di studio miliknya, tarifnya ada dua pilihan.
Yakni per sekali pertemuan sebesar Rp 25 ribu dan Rp 250-300 ribu per bulan dengan tiga kali pertemuan per pekan.
”Yoga mungkin menengah ya, dibilang terlalu murah juga tidak, tapi untuk lokal termasuk murah,” jelasnya.
Perbedaan harga antar studio umumnya terletak pada fasilitas yang ditawarkan.
Namun, fasilitas yoga yang paling mahal justru adalah matras.
Matras premium ini dibedakan oleh kenyamanan dan kualitas anti-selip (tidak licin) yang penting untuk menahan gerakan sulit, terutama bagi pemula.
”Matrasnya yang mahal. Matrasnya ada yang empat juta, ada yang dua setengah (juta). Yang ini (di studio) dua setengah,” tandasnya.
Sementara itu, bagi industri perhotelan, layanan yoga bukan hanya biaya operasional.
Itu juga merupakan sumber pendapatan yang signifikan dengan peluang bisnis yang terus melebar.
Sementara itu, salah satu staf hotel di Lombok Utara Usmanto mengatakan, layanan yoga cukup banyak diminati wisatawan.
Rata-rata dari mereka tertarik dengan penawaran yang diberikan. Yakni pengalaman yoga dengan latar belakang pemandangan lautan yang menenangkan.
“Sesi yoga diadakan di rooftop dengan pemandangan sunset. Lokasi ini memberikan pengalaman yang tidak bisa didapatkan di studio yoga biasa,” terangnya.
Soal tarif, sesi private yoga dikenakan tarif premium, jauh lebih tinggi dibandingkan kelas umum. Mulai dari Rp 665.000 per orang untuk sesi privat 60 menit.
Harga ini mencerminkan eksklusivitas, fasilitas, dan kualitas instruktur yang disiapkan hotel.
Demi menjamin kenyamanan dan keamanan konsumen, hotel juga menyediakan fasilitas terbaik. Matras yoga yang digunakan merupakan produk premium.
Kualitas matras anti-slip menjadi penting untuk mendukung gaya yoga yang bervariasi, seperti Vinyasa Flow atau Hatha Yoga.
“Peminat utama layanan yoga adalah wisatawan dengan daya beli tinggi, terutama turis asing, Eropa, Amerika, dan Australia,” bebernya.
Menurut Usmanto, layanan yoga ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman menarik lebih dari sekedar menginap.
Di samping juga bentuk komitmen pihak hotel memberikan pelayanan kesehatan dan relaksasi untuk para tamu.
Yoga Retreat
Dea Putri, Yoga Manager di Mana Yoga Retreat, salah satu pusat yoga terkemuka di kawasan wisata Kuta, Lombok Tengah berbagi pengalaman bagaimana perjalanannya bersama Mana Yoga.
"Saya di sini menangani jadwal, pemasaran, promosi, dan program-program. Jadi bisa dibilang saya ikut memastikan semua hal terkait operasional retreat berjalan lancar," ujarnya.
Selain menjadi manager, Dea juga terjun langsung menjadi pelatih yoga.
Menurut Dea, cikal bakal Mana Yoga dimulai sekitar sembilan tahun lalu hanya sebagai studio yoga.
Dua tahun setelahnya, melihat animo yang terus meningkat, pemilik memutuskan mengembangkan konsep Yoga Retreat, sebuah paket lengkap yang tidak hanya menyajikan kelas yoga, tetapi juga akomodasi berupa hotel, restoran sehat berbasis vegan dan vegetarian, hingga program pendukung lainnya.
"Yoga Retreat ini ibarat satu kesatuan. Kalau studio hanya fokus pada kelas yoga, retreat menawarkan pengalaman menyeluruh. Orang bisa menginap, makan sehat, ikut kelas, bahkan ambil paket khusus lima hari," jelasnya.
Sejak resmi berdiri sekitar 2018, Mana Yoga Retreat terus berkembang.
Setiap hari ada 5 hingga 6 kelas dengan jadwal mulai pukul 07.20 pagi hingga pukul 18.30 sore.
Selain itu, ada pula Yoga Teacher Training, berbagai workshop, hingga acara spesial seperti cacao ceremony dan breathwork.
Dea menyebut mayoritas peserta adalah turis internasional.
"Ada juga ekspatriat yang memang tinggal di Lombok atau Bali, tapi kebanyakan turis yang sengaja datang untuk yoga sekaligus menikmati pantai dan keindahan Lombok," katanya.
Awal mula dirinya datang ke Lombok, jumlah yoga studio di kawasan wisata Kuta Lombok Tengah hanya ada dua. Kini, jumlahnya sudah berkembang menjadi enam.
“Artinya, minat terhadap yoga semakin tinggi, baik dari wisatawan maupun masyarakat lokal,” ujarnya.
Tren ini, kata Dea, membuka peluang usaha baru. Banyak wisatawan asing justru lebih antusias mengikuti kelas yang dipandu pelatih lokal.
"Kalau ditekuni, yoga bisa menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Lombok. Bukan hanya untuk kesehatan pribadi, tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan," imbuhnya.
Sebagai bentuk kontribusi, Mana Yoga Retreat membuka kesempatan bagi warga yang tertarik menjadi pelatih yoga.
"Kami memberikan program beasiswa. Ada pelatihan dan sertifikasi dari aliansi yoga internasional. Jadi tidak hanya diakui di Lombok atau Indonesia, tapi juga di seluruh dunia," ungkap Dea. (fer/ton/r3)
Editor : Kimda Farida