LombokPost - Gusti Ayu Nita Rahmawati sudah beberapa tahun ini menjalani kesibukan sebagai instruktur yoga. Profesi ini bermula dari keinginannya untuk hidup sehat.
Di sebuah sudut Lombok Utara, setiap Selasa dan Kamis sore, sekelompok orang berkumpul dengan matras masing-masing.
Mereka menata ruang, menarik napas panjang, dan mulai mengikuti gerakan.
Rumah itu adalah milik Gusti Ayu Nita Rahmawati.
Perempuan 40 tahun itu memperagakan beberapa gerakan. Sejumlah orang itu mengikuti gerakannya.
"Kalau menurut saya harus ada instruktur dalam yoga. Kayak ada yang kurang tanpa instruktur," jelasnya.
Nita adalah salah satu instruktur yoga di Lombok Utara, tepatnya di Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung.
Setahunya, ada tiga lagi instruktur yoga selain dirinya.
"Saya sudah empat atau lima tahun jadi instruktur," terangnya lagi.
Perjalanan Nita bersama yoga tidak dimulai dari sebuah ambisi besar.
Semuanya bermula sederhana: keinginan untuk hidup sehat.
"Saya awalnya aktif di kelompok herbal, istilahnya healthy life style. Dari situ kenal yoga," imbuh perempuan kelahiran 6 September 1985 ini.
Sekitar tahun 2017, ia mengenal yoga sebagai bagian dari gaya hidup aktif.
Dari situ, ia jatuh cinta. “Semakin kita menjalaninya, semakin ingin tahu banyak,” kenangnya.
Sebagai instruktur yoga, dirinya tidak hanya tahu gerakan, tapi sejarah yoga, anatomi tubuh.
Kecintaannya itu membawa Nita ke Mataram, tempat ia mengikuti program lisensi instruktur yoga selama 200 jam.
Dari pelatihan itulah ia mendapat bekal, tidak hanya teknik, tetapi juga filosofi bahwa yoga adalah perjalanan tanpa henti. Sebuah proses pembelajaran yang terus berlanjut.
Awalnya, Nita mengajar di beberapa studio dan tempat kebugaran. Namun setelah menikah, ia memilih untuk menata ulang prioritas. Suaminya meminta agar ia mengurangi kesibukan.
Sejak itu, Nita membuka kelas di tempatnya sendiri, dengan ritme yang lebih teratur: dua kali seminggu, setiap Selasa dan Kamis.
Kelasnya tidak pernah kaku. Peserta datang silih berganti, tanpa kewajiban harus hadir rutin.
Ada yang lima orang, kadang bisa melonjak hingga 20-25 peserta.
“Siapa saja boleh ikut. Tidak ada paksaan," katanya sambil tersenyum.
Namun, Nita tetap menekankan pentingnya instruktur. Baginya, yoga tanpa panduan ibarat bercermin tanpa pernah benar-benar melihat wajah sendiri.
“Sama seperti nge-gym. Ada atau tidaknya trainer itu terasa sekali bedanya,” ujarnya.
Di Lombok Utara sendiri, peminat yoga kini semakin banyak.
Nita masih ingat, di awal 2017 hanya ada satu studio, dengan peserta belasan orang. Kini, kelas selalu kedatangan wajah baru.
Bahkan hotel-hotel pun menyediakan fasilitas yoga untuk tamunya.
Di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, yoga menjadi aktivitas favorit para wisatawan asing.
“Yoga tidak harus di studio. Di pantai, di tempat terbuka, semua bisa jadi ruang untuk menemukan ketenangan,” katanya.
Sesekali, Nita pun diminta mengajar di luar studionya.
Di balik perannya sebagai instruktur, Nita tetap seorang ibu rumah tangga.
Ia membagi waktu antara mengurus keluarga dan mendampingi peserta yoga menemukan keseimbangan.
Baginya, yoga bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari hidup yang memberi banyak manfaat nyata.
Ada banyak manfaat dari yoga. Tentu badan lebih sehat.
“Sekarang usia saya sudah 40. Kalau ada masalah lutut atau pinggang bisa atasi sendiri, tanpa harus ke tukang pijat,” ujarnya sambil tertawa kecil. (HABIBUL ADNAN, Lombok Utara/r3)
Editor : Kimda Farida