LombokPost - Konsep real food makanan yang minim proses pengolahan, rendah gula, garam, dan minyak kini semakin populer, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya penderita penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Dokter Spesialis Gizi Konsultan, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam (Dosen FK UI), menegaskan bahwa konsep ini sebenarnya bukanlah hal baru.
Melainkan cara makan tradisional yang diterapkan nenek moyang kita.
"Jadi, kita sebenarnya sedang kembali ke pola makan yang lebih tradisional dan alami. Makanan dalam pola ini tidak mengandung kadar gula, garam, maupun minyak yang berlebihan," jelas dr. Nurul.
Motivasi Anak Muda dan Manfaat Jangka Panjang
Menurut dr. Nurul, motivasi terbesar adaptasi real food datang dari orang dewasa yang ingin mengendalikan atau menyembuhkan penyakit.
Namun, kelompok yang paling cepat mengadaptasi tren ini justru adalah kalangan muda, yang menjadikannya langkah preventif untuk mencegah penyakit sejak dini.
Penerapan real food memberikan efek positif, seperti:
Jangka Pendek: Penurunan berat badan karena cita rasa yang lebih sederhana.
Jangka Panjang: Mengontrol kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, serta efektif mengatasi obesitas.
Baca Juga: KKN Tematik Unram Menggelar Penyuluhan Pengolahan Makanan Sehat
Jebakan dan Risiko Diet Sembarangan. Meski bermanfaat, dr. Nurul mengingatkan adanya tantangan, termasuk godaan makanan olahan, anggapan aneh dari lingkungan sosial, serta kendala waktu dan biaya karena bahan segar cenderung lebih mahal.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan keras bahwa penerapan real food tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
"Penting untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum mengubah pola makan," katanya.
Pembatasan garam yang terlalu ketat, misalnya, bisa memicu hiponatremia (kekurangan kadar natrium dalam darah) yang justru berbahaya.
Sementara, pembatasan asupan energi yang terlalu drastis bisa menyebabkan hipoglikemia.
Syarat Mutlak: Cek Kesehatan Menyeluruh
Dokter Nurul menyarankan bahwa sebelum seseorang beralih ke pola makan real food, mereka wajib melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh.
Pemeriksaan Fisik: Indeks Massa Tubuh (IMT) dan tekanan darah.
Pemeriksaan Laboratorium: Profil lemak, glukosa darah, dan kadar elektrolit (natrium, kalium, dan klorida).
"Kenali sebetulnya apa yang mau diperbaiki dari situ, supaya lebih terarah tujuannya," tandasnya. Ia menekankan bahwa prinsip dasar hidup sehat tetap pada gizi seimbang sesuai panduan "Isi Piringku" dari Kemenkes. (yun/r3)
Editor : Kimda Farida