LombokPost - Para pegiat lingkungan menilai maraknya penggunaan tumbler bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi momentum penting untuk menekan laju sampah plastik sekali pakai. Mereka mendorong pemerintah memperkuat regulasi pembatasan plastik.
Menurut para aktivis, gerakan membawa tumbler yang kini makin dianggap simpel dan keren itu bisa menjadi identitas baru masyarakat urban asal dibarengi kebijakan tegas yang memastikan produsen dan pelaku usaha ikut bertanggung jawab mengurangi timbunan plastik.
Salah satu pegiat lingkungan yang menyoroti sampah plastik adalah Aisyah Odist. Dia membentuk Bank Sampah NTB Mandiri (BSNM) di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kabupaten Lombok Barat. Tempat tersebut sudah berdiri sejak 15 tahun lalu.
”Ancaman sampah plastik saat ini semakin serius. Sebab, sampah plastik ini tidak mudah terurai. Butuh 100 tahun untuk mengurai sampah plastik,” ujarnya.
Sampah plastik juga memicu polusi yang berdampak langsung pada kesehatan manusia dan lingkungan. Bahkan dapat menjadi salah satu pemicu bencana. ”Coba kita lihat saat sekarang ini, banyak sampah plastik yang menjadi penghambat sungai yang menyebabkan banjir,” ujarnya.
Untuk mengurangi sampah plastik, pemerintah mewajibkan menggunakan tumbler. Itu bagian dari upaya-upaya mengurangi sampah plastik. Tetapi, faktanya langkah itu belum juga memberikan dampak signifikan terhadap sampah plastik. ”Apa penyebabnya? Kurangnya edukasi,” kritiknya.
Untuk menjadikan daerah bebas sampah plastik justru harus ditanamkan sejak dini. Artinya, kesadaran sampah itu harus ditanamkan melalui edukasi di semua sekolah.
“Kalau kegiatan kebersihan sudah masif, tapi edukasi terutama di sekolah itu masih sangat minim. Padahal itu yang paling penting,” ujarnya.
“Bagaimana mereka mau menyelesaikan masalah sampah kalau dasar pengetahuannya tidak ada? Sampah ini dihasilkan setiap hari, tetapi sosialisasi hanya seminggu sekali. Jelas tidak seimbang,” kritiknya.
Ia menilai regulasi pemerintah sudah cukup baik, meski evaluasinya masih kurang. Namun yang paling mendesak saat ini adalah membangun kesadaran jangka panjang.
Leahin Gubuk
Gerakan kolektif mengurangi sampah plastik dilakukan secara masif di kawasan wisata Gili Trawangan. Garakan ini dibangun warga secara mandiri dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Tokoh masyarakat Gili Trawangan Raisman Purnawadi menjelaskan, program Leahin Gubuk atau membuat bersih dusun sudah berjalan sejak empat bulan terakhir. Dalam pelaksanaannya, warga turun ramai-ramai membersihkan kawasan wisata unggulan di Lombok Utara ini. Leahin Gubuk berupa kegiatan bersih-bersih lingkungan rutin dilaksanakan setiap Hari Minggu pukul 16.30, yang dibagi per RT.
“Tujuannya untuk membangun budaya menjaga kebersihan. Kami ingin masyarakat sadar bahwa lingkungan bersih itu tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan warga dewasa. Tetapi juga anak-anak hingga para pengusaha di kawasan wisata Gili Trawangan. Keterlibatan para pelaku usaha dinilai penting. Apalagi aktivitas bisnis pariwisata turut menyumbang volume sampah yang cukup besar di kawasan tersebut.
Sampah yang terkumpul kemudian diangkut dan dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang ada di Gili Trawangan. Pengelolaan ini dilakukan melalui kerja sama dengan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, lembaga yang selama ini mengelola dan memastikan sampah diproses dengan lebih baik.
"Upaya ini juga menjadi bagian dari menjaga citra kawasan tiga Gili secara umum, sebagai destinasi wisata ramah lingkungan," katanya lagi. (arl/bib/r3)
Editor : Pujo Nugroho