Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kicau Mania Tetap Eksis di Era Digital, Didukung Komunitas dan Ekonomi yang Kuat

Jay • Minggu, 7 Juni 2026 | 18:26 WIB
Dwi Setiawan Chaniago
Dwi Setiawan Chaniago

 

LombokPost- Fenomena kicau mania yang terus berkembang menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu menghilangkan hobi lama. Sebaliknya, kicau mania justru berhasil bertransformasi menjadi kelompok sosial modern yang mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Sosiolog Universitas Mataram (Unram) Dwi Setiawan Chaniago menjelaskan, eksistensi kicau mania di era digital didukung oleh sejumlah faktor sosial yang saling berkaitan. Salah satunya adalah kuatnya modal sosial yang terbentuk di kalangan para penghobi burung.

Menurutnya, aktivitas memelihara dan merawat burung tidak lagi sekadar menjadi hobi individu. Kegiatan tersebut telah berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan banyak orang dengan minat yang sama. Dari aktivitas tersebut lahir jaringan pertemanan, pertukaran pengetahuan, hingga solidaritas yang kuat di antara anggota komunitas.

Baca Juga: Action Figure dan Diecast Tak Lagi Mainan, Kini Jadi Simbol Prestise dan Identitas

Kicau mania secara rutin menggelar pertemuan, kopi darat (kopdar), latihan bersama, hingga mengikuti berbagai kontes burung berkicau. Bahkan tidak sedikit penghobi yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti perlombaan atau sekadar bertemu dengan sesama anggota komunitas.

“Melalui aktivitas tersebut tercipta modal sosial yang kuat karena hubungan antaranggota dibangun melalui kepercayaan, reputasi, dan rasa kebersamaan,” ujarnya.

Selain didukung modal sosial, kicau mania juga memiliki ekosistem ekonomi yang kuat. Dalam perspektif sosiologi, aktivitas ekonomi yang tumbuh di dalam komunitas tidak hanya didasarkan pada hubungan jual beli semata, tetapi juga dipengaruhi oleh jejaring sosial yang telah terbentuk.

Baca Juga: Waspada! Shio Macan dan Kerbau Terancam Drama, Tikus Malah Panen Hoki Besok 19 Maret 2026

Kebutuhan pakan, sangkar, perawatan, pengembangbiakan burung, hingga penyelenggaraan kontes menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Menariknya, transaksi yang terjadi dalam komunitas kicau mania sering kali dibangun atas dasar kepercayaan dan reputasi, bukan semata-mata pertimbangan ekonomi.

“Ekosistem ekonomi komunitas ini sangat kuat karena dibangun diatas hubungan sosial yang sudah terjalin lama,” kata Dwi.

Faktor lain yang membuat kicau mania tetap eksis di era digital adalah kemampuan mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kehadiran media sosial dan platform digital tidak menghilangkan aktivitas komunitas, tetapi justru memperluas jaringan sosial dan ekonomi para penghobi burung.

Baca Juga: Sensatia Hadirkan Lip Balm Collection dengan Formula Vegan

Melalui media sosial, anggota komunitas kicau mania dapat berbagi informasi, mempromosikan hasil ternak, melakukan transaksi, hingga menginformasikan jadwal perlombaan kepada sesama penghobi di berbagai daerah. Adaptasi ini membuat komunitas kicau mania mampu menjangkau lebih banyak anggota lintas generasi.

Meski aktif memanfaatkan teknologi digital, komunitas kicau mania tetap mempertahankan interaksi langsung sebagai bagian penting dari aktivitas mereka. Pertemuan fisik, lomba burung, hingga kegiatan komunitas tetap menjadi ruang utama dalam membangun kebersamaan dan solidaritas.

Dwi menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk komunitas hybrid, yakni komunitas yang menggabungkan ruang digital dan ruang fisik dalam menjalankan aktivitasnya. Model ini dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan komunitas kicau mania bertahan ditengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Baca Juga: Ekspansi Pasar Urban: UNIQLO Resmikan Toko ke-78 di Plaza Indonesia, Gandeng ESMOD Usung Kampanye 'Circular Fashion'

Dalam perspektif sosiologi modern, komunitas kicau mania juga dapat dipahami sebagai bentuk neo-tribes atau komunitas berbasis minat. Konsep yang diperkenalkan sosiolog Michel Maffesoli itu menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak kehilangan kebutuhan untuk berkelompok. Mereka hanya mengubah bentuk ikatan sosial dari yang sebelumnya berbasis kekerabatan menjadi berbasis minat dan gaya hidup.

Fenomena kicau mania menjadi bukti bahwa di tengah kehidupan urban yang semakin individualistis, masyarakat tetap membutuhkan ruang kebersamaan. Hobi memelihara dan merawat burung telah berkembang menjadi identitas sosial yang mampu menyatukan individu dalam sebuah komunitas yang solid.

Karena itu, eksistensi komunitas kicau mania di era digital bukanlah bentuk perlawanan terhadap modernisasi. Sebaliknya, komunitas kicau mania mampu bertahan karena berhasil beradaptasi dan menjadi bagian dari modernisasi itu sendiri. Dengan modal sosial yang kuat, ekosistem ekonomi yang hidup. Serta pemanfaatan teknologi digital yang efektif, komunitas kicau mania diperkirakan akan terus berkembang dan tetap eksis dimasa depan.

Editor : Kimda Farida
#kicau mania #Komunitas kicau mania #Kicau mania di era digital #Hobi burung berkicau #Komunitas penghobi burung