Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stabilkan Harga Beras Sekda Kota Mataram Blusukan ke Pasar Tradisional

Suharli • Minggu, 24 September 2023 | 23:14 WIB

CEK HARGA: Sekda Kota Mataram H Lalu Alwan Basri mengangkat beras pada saat mengecek beras di Pasar Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (22/9/23) lalu.
CEK HARGA: Sekda Kota Mataram H Lalu Alwan Basri mengangkat beras pada saat mengecek beras di Pasar Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (22/9/23) lalu.
LombokPost--Harga beras di Kota Mataram terus merangkak naik. Hal itu memicu inflasi di Kota Mataram. Tak mau kondisi ini berlarut-larut, Pemkot Mataram pun gerak cepat melakukan langkah-langkah menstabilkan harga. Operasi pasar pun gencar digelar di sejumlah pasar tradisional.

Tak hanya itu, Sekda Kota Mataram H Alwan Basri juga langsung blusukan ke pasar tradisional. Ia turun untuk mendapatkan informasi langsung terkait harga beras dan kebutuhan pokok lainnya.

”Kenaikan harga beras menyumbang inflasi 0,5 persen,” kata Alwan.

Menurutnya, saat ini inflasi Kota Mataram di angka 1,58 persen. Karena itulah, Pemkot mengambil langkah atas peningkatan inflasi tersebut.

Salah satunya dengan meningkatkan pemantauan dan pengawasan perkembangan harga bahan pokok. ”Yang terpenting adalah mengamankan ketersediaan pasokan, baik ke pasar-pasar tradisional maupun retail modern dan distributor,” jelasnya.

Saat memantau langsung di lapangan, stok masih terbilang aman. Pemkot bekerja sama dengan Bulog untuk menyediakan beras. ”Stok aman hingga akhir tahun, walaupun pada bulan ini ada kegiatan hari besar seperti Maulid Nabi dan Hari Raya Natal pada Desember mendatang,” ujarnya.

Alwan sudah turun langsung ke Pasar Pagesangan, Mataram, kemarin (22/9). Khusus beras yang dikeluarkan bulog sangat dibutuhkan masyarakat. ”Harganya pun terjangkau. Sesuai HET (harga eceran tertinggi) yaitu Rp 10.900,” bebernya.

Hanya saja, yang masih mahal adalah beras yang tidak dari bulog. Harganya, bisa mencapai Rp 15 ribu per kilogram-nya. ”Itu beras yang premium,” bebernya.

Harga beras naik bukan saja di Kota Mataram. Melainkan, secara nasional. ”Makanya pemerintah pusat melakukan impor,” bebernya.

Alwan mengatakan, Pemkot Mataram juga akan melaksanakan kegiatan pasar rakyat. Hal itu dilakukan untuk menyediakan kebutuhan masyarakat dengan harga yang wajar.

”Kami nanti akan memperkuat kerjasama antar daerah untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan pokok yang sering mengalami defisit,” bebernya.

Selain itu untuk menekan inflasi tersebut, diperlukan konsistensi dan keberlanjutan program gerakan menanam dalam kampung tanggap inflasi yang merupakan implementasi dari program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang bersinergi program TP PKK Kota Mataram. ”Sehingga memberikan kontribusi dalam pengendalian inflasi Kota Mataram,” bebernya.

Yang perlu ditindaklanjuti adalah antisipasi panic buying. Caranya, gencar menginformasikan perkembangan harga bahan pokok. ”Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Meminta masyarakat untuk berbelanja sesuai kebutuhan,” kata dia.

Alwan mengatakan, Pemkot juga memperkuat komunikasi dan sinergi koordinasi kebijakan pengendalian inflasi. ”Langkah itu untuk menjaga ekspektasi inflasi,” kata dia.

Langkah Pemkot Mataram yang sudah dijalankan adalah membagikan beras bagi masyarakat miskin di Kota Mataram. Untuk menyalurkan itu, pihaknya bekerjasama dengan Bulog. ”Ada sebanyak 360 ton yang kami salurkan. Sekarang sudah selesai penyalurannya,” kata dia.

Manajer Bisnis Bulog Kantor Wilayah NTB Sawaludin Susanto mengatakan, kenaikan harga beras bukan saja di Kota Mataram. Tetapi, kenaikannya secara nasional.

Penyebabnya beragam. Diantaranya, cuaca, hasil panen yang sedikit, dan lainnya. ”Makanya Bulog tidak bisa serta merta bisa langsung membeli hasil panen petani,” kata Sawaludin.

Bulog membeli gabah atau beras dari petani harus berdasarkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Harga gabah kering Rp 6.300 per kilogram-nya dan berasnya Rp 9.950. ”Sedangkan harga sekarang yang baru panen sudah mencapai Rp 7.000.” ungkapnya.

Secara bisnis, petani tentu tidak akan menjual harga gabahnya ke pemerintah. Sebab, HPP yang ditetapkan Rp 6.300 per kilogram.

"Makanya kita tidak bisa salahkan pasar. Karena, ketika pengusaha berani membayar lebih mahal tentu petani akan menjual ke pengusaha,” jelasnya.

Petani tidak bisa dipaksa untuk menjual hasil panennya ke Bulog. Sebab, fungsi Bulog adalah menjaga HPP. ”Jangan sampai harganya di atas HPP,” kata dia.

Makanya, Bulog hadir sebagai penyeimbang. Memberikan solusi kepada masyarakat agar bisa membeli beras dengan harga terjangkau. ”Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana cara menstabilisasi ditingkat konsumen,” terangnya.

Sawaludin mengatakan, hasil panen beras petani di NTB banyak diminati pengusaha dari Pulau Jawa. Hal itu tidak bisa dihindari. ”Itu mekanisme pasar. Karena, aturannya kalau beras pasar bebas di lokal Indonesia,” jelasnya.

Saat ini beras Bulog cukup diminati masyarakat. Makanya, permintaan di pasar cukup tinggi. ”Di tengah permintaan yang tinggi kami juga membatasi untuk suplay-nya,” kata dia.

Pedagang beras di Pasar Pagesangan Zaenal mengatakan, permintaan beras yang dikeluarkan bulog sangat diminati. ”Yang paling banyak dicari beras medium,” kata Zaenal.

Beras medium itu sebentar lakunya. Saking banyaknya peminat. ”Satu dua jam kita jual sudah habis berasnya,” kata dia.

Per hari Zaenal mengambil beras medium sebanyak 750 kilogram. Dia diberikan jatah untuk mengambil beras medium itu dua kali seminggu. ”Hari Senin dan Jumat,” ujarnya.

Selama ini tidak ada komplain mengenai beras medium dari pembeli. Mereka tidak komplain hasil berasnya saat dimasak cukup bagus. ”Kalau komplain tidak ada sama sekali,” pungkasnya. (arl/r3) 

 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Kota Mataram #Harga Beras #Alwan Basri