LombokPost-Data stunting tercatat 3.732 kasus. Setara dengan 14,76 persen. Terbanyak kasus stunting di puskesmas Karang Pule dengan 837 kasus atau 22 persen. Hal ini sesuai data update 15 September 2023.
"Makanya kita terus genjot, agar jumlahnya bisa turun," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Mataram HM Carnoto, Kamis (21/9).
Puskemas Cakranegara urutan kedua dengan 558 kasus atau 14,14 persen. Selanjutnya puskemas Ampenan 265 kasus, Pejeruk 180 kasus, Tanjung Karang 388 kasus, Pagesangan 389 kasus.
Puskesmas Mataram 220 kasus, Selaparang 240 kasus, Dasan Agung 152 kasus, Karang Taliwang 194 kasus, dan Babakan 329 kasus.
"Kita minta semua OPD yang punya daerah binaan memaksimalkan penanganan sambil kita evaluasi," ujarnya.
Selain melibatkan OPD mengeroyok stunting, juga perusahaan swasta. "Jadi memang tidak bisa (maksimal) menangani stunting ini sendiri-sendiri," paparnya.
Ada juga organisasi kemasyarakatan yang terlibat. Carnoto menyebut antara lain organisasi PKK,
Dharma Wanita, hingga GOW. "Semua bergerak," ulasnya.
Penanganan pentahelix dilakukan untuk mempercepat penuntasan kasus. Menyisakan beberapa bulan lagi tahun 2023 ini, Carnoto optimis jumlah stunting bisa mengecil di Kota Mataram.
"Intinya di bawah 14 persenlah," harapnya.
Tim juga bergerak secara terpadu melakukan pengawasan. Memastikan suplai gizi oleh pemerintah sampai pada anak penderita ataupun yang berpotensi mengalami stunting. "Ada operator yang memantau penanganan," ujarnya.
Prinsipnya, setiap anak yang mengalami stunting harus mendapat asupan gizi yang teratur dan cukup. "Setiap anak mendapatkan telur sehari dua (butir), selama 90 hari," jelasnya.
Nantinya akan ada pelibatan aplikasi memantau penanganan dan perkembangan hasil. Pihaknya mengakui sejumlah kecamatan jadi kantong stunting. "Termasuk di kecamatan Sekarbela," ungkapnya.
Capaian penurunan akan kembali dipantau pada Desember 2023 nanti. Carnoto berharap bisa menekan jumlah kasus secara signifikan.
Mengenali pelibatan dunia usaha, Carnoto mengatakan para pengusaha diminta terlibat aktif memberikan bantuan gizi. Antara lain melalui program CSR. "Kita meminta kepedulian mereka terhadap kasus stunting di ibu kota," tegasnya.
Pengawasan keterlibatan dunia usia nantinya akan dilakukan dinas perdagangan. Perusahaan plat merah seperti Bank NTB dikatakan telah menunjukkan komitmen dengan menyumbang telur sebanyak 50 ribu butir. "Kita punya data by name by address-nya, kita akan awasi penyalurannya," pungkasnya.
Sebagai hambatan, stunting erat kaitannya dengan gizi yang diterima seorang anak. Terutama di usia 1000 hari pertama kehidupannya.
Dokter Gizi RSUD Kota Mataram Eka Suprapti, menuturkan, hal inilah yang menjadi dasar penting, kenapa seorang ibu harus memperhatikan gizi. Terutama sejak kandungan telah berisi janin.
"Dari janin sampai umur 2 tahun," kata Dokter Eka.
Tanda seorang anak mengalami stunting secara fisik terlihat dari tinggi badan. Lebih pendek dari tinggi ideal usianya. Misal pada usia 2 tahun tinggi ideal anak yakni 82-92 centimeter (cm). Usia 3 tahun 83-95 cm, dan seterusnya.
"Jadi (ciri fisik) ditandai dengan tinggi badan tidak seusai dengan usianya, tidak sesuai dengan standar usia," tekannya.
Stunting tidak hanya tentang tinggi fisik yang tidak ideal. Tetapi memengaruhi seluruh sisi kehidupan anak. Mulai dari kecerdasan yang menurun, daya tahan tubuh rendah, hingga produktivitas menurun.
"Aktivitas motorik otaknya ikut rendah," paparnya.
Oleh karena itu, dokter Eka mengatakan persoalan stunting menjadi sangat penting dicegah. Kepedulian memantau kesehatan janin terutama di 1000 hari pertama usia kehidupan dapat mencegah anak alami stunting.
"Rajin-rajinlah ibu kontrol ke posyandu," sarannya.
Dokter Eka menggaris bawahi, tidak selamanya anak yang bertubuh pendek mengalami stunting. Faktor genetika hingga gangguan hormon pertumbuhan anak bisa membuat ukuran tubuh tidak bisa mencapai tinggi ideal.
"Bukan stunting," tekannya.
Tetapi stunting ciri-ciri fisik anak adalah pendek. Cara membedakan tubuh pendek karena stunting dengan tubuh pendek karena gen dengan memperhatikan riwayat anak dan ibunya.
"Kalau penyebabnya karena gangguan gizi yang kronis, itu stunting. Tetapi jika riwayat ibu dan anak mengonsumsi nutrisi atau gizi yang cukup, berarti disebabkan karena gen," tegasnya. (zad)