LombokPost-Abrasi mengancam pemukiman penduduk di sepanjang 9 kilometer garis pantai. Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Mataram telah berupaya menahan laju abrasi.
Antara lain dengan memasang tanggul, riprap, pemecah gelombang, hingga jeti. Tetapi beberapa solusi itu membutuhkan biaya besar untuk dipasang di sepanjang garis pantai. Sejauh ini belum terlihat ada solusi lebih murah namun efektif menahan laju abrasi pantai yang semakin parah.
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) yang punya ranah mencari solusi atas persoalan ini belum dapat berbuat banyak. “Dalam kerangka pengembangan pariwisata di garis pantai kita, kita memang telah berupaya mengembangkan riset untuk mempertahankan garis pantai kita,” kata Kepala BRIDA Kota Mataram Dr Mansur, Senin (6/11).
Dalam observasi tahap awal ada dua persoalan mendasar yang menurutnya perlu dicarikan solusi. Pertama mengenai keberadaan sebagian lahan yang sertifikat miliknya atas nama pribadi atau swasta. “Ada SHM atau Sertifikat Hak Milik,” katanya.
Kedua kondisi luasan pantai yang terus menyusut akibat abrasi. “Dan ini terjadi masif di sepanjang 9 km wilayah pantai kita,” tuturnya.
Mansur mengungkapkan, pihaknya sebenarnya tak berpangku tangan atas kondisi memprihatinkan pantai di ibu kota. BRIDA telah bersurat pada pemerintah pusat tujuannya permohonan anggaran melakukan riset mencari solusi yang tepat mengatasi abrasi pantai.
“Tujuannya pada Kementerian Dalam Negeri dan BRIN,” ungkapnya.
Namun hingga saat ini, usulan itu belum mendapat respons. Sekalipun kondisi abrasi pantai semakin mendesak dicarikan solusi. “Kita butuh solusi cara alternatif penanganan, kira-kira teknologi apa yang pas untuk itu semua,” ujarnya.
Mansur mengatakan dalam surat itu disertakan juga permohonan dukungan anggaran riset. Harapannya, riset itu dapat menjadi solusi yang lebih efektif dan permanen, tapi terjangkau dari sisi anggaran menahan abrasi akibat gelombang laut.
“Tapi sampai saat ini kami belum dapat respons,” ungkapnya.
BRIDA sebagai laboratorium untuk riset dan pengembangan gagasan terbuka diajak kolaborasi. Sehingga diperoleh hasil kajian yang tepat guna.
“Bukan masalah tidak mampu (anggaran daerah) tapi kita butuh solusi yang lebih efektif dan tepat guna menangani itu semua,” tekannya.
Mansur mengatakan, idealnya apapun langkah teknis penanganan sebaiknya diriset. Sehingga solusi yang digunakan lebih terukur daya tahan dan umur penggunaannya.
“Idealnya kan harus diriset dulu, sebab belum tentu jeti (yang anggarannya lebih mahal) menyelesaikan masalah,” paparnya.
Begitu juga ide penanaman pohon mangrove tidak bisa serta merta diimplementasikan. Anggaran yang relatif lebih murah bukan jaminan bisa berjalan sesuai harapan. Ada kalanya konstruksi pantai dan derasnya gelombang menyulitkan penanaman mangrove.
“Kalau melihat gelombang pantai Ampenan langsung datang dari laut dalam, maka perlu dikaji apakah mangrove efektif menahan itu semua. Jadi kembali lagi kita butuh riset menangani itu semua,” tekannya lagi.
Ditambahkan Sekretaris BRIDA Kota Mataram Hasan, pihaknya membutuhkan anggaran sekitar Rp 100 juta mencari solusi tepat penahan gelombang di sepanjang 9 km pantai kota. “Sedangkan untuk kajian kami butuh waktu sekitar 1 tahun agar bisa mempelajari siklus atau karakter gelombang secara utuh,” paparnya.
Riset itu juga akan dikembangkan ke arah perilaku gelombang, arah angin, kecepatan angin dan gelombang, hingga kontur garis pantai. “Semua harus dipertimbangkan,” paparnya.
Riset juga meliputi tata letak tanggul yang akan dipasang. Menurutnya tidak selamanya tanggul harus dipasang di bibir pantai.
“Seperti di pantai Ancol itu, jeti dipasang di tengah karena pantainya dangkal. Nah apakah ini juga memungkinkan untuk pantai kita, sehingga nanti hasilnya juga bis membuat pantai lebih aman untuk berwisata,” papanya.
Hasan mengatakan, karakter setiap pantai berbeda. Hasil riset di pantai lain, belum tentu efektif digunakan di pantai ibu kota.
“Idealnya adalah kita riset sendiri untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat. Kalau ditanyakan apakah riset ini mendesak tentu saja sangat mendesak, sebab abrasi ini akan terus terjadi setiap tahun,” pungkasnya. (zad)
Editor : Rury Anjas Andita