LombokPost-Program kampung ikan di Kota Mataram segera diwujudkan.
”Dari hasil penelitian, ada dua wilayah yang berpotensi menjadi tempat pengembangan ikan air tawar,” kata Kepala Brida Kota Mataram Mansur.
Dua lingkungan itu adalah Pengempel Indah di Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya dan Kelurahan Sayang-Sayang, Kecamatan Cakranegara.
”Dua kawasan itu sangat cocok dijadikan tempat budi daya ikan air tawar,” jelasnya.
Budi daya ikan air tawar ini sejalan dengan posisi Mataram sebagai kota kuliner.
Hal itu pernah dicanangkan Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana.
”Mataram sebagai kota kuliner sudah di launching pada tahun 2022 di Taman Sangkareang,” kata dia.
Selama ini, masyarakat masih bangga dengan kuliner sate Rembiga. Namun lupa dengan potensi pengembangan kuliner ikan air tawar.
”Tujuan mengembangkan kuliner air tawar menjadi opsi untuk pengembangan ke depan,” ujarnya.
Itu sebagai perwujudan dan implementasi atas program Mataram gemar makan dan memasak ikan.
”Karena melihat potensi ini kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perikanan Kota Mataram,” ujarnya.
Apa yang ingin dikembangkan itu menjadi pilot project untuk dibawa ke Kementerian Kelautan dan Perikanan.
”Sebenarnya, kita memiliki surat dari Kementerian (Kelautan dan Perikanan) untuk pengembangannya. Tetapi, implementasinya kemarin yang menjadi tersendat,” kata dia.
Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan budi daya ikan air tawar ini berimplikasi pada pengembangan inovasi lainnya.
Misalnya untuk penggemukan air tawar membutuhkan maggot sebagai pakan alternatif.
”Tentu nanti budidaya maggot juga akan berkembang. Terutama dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup) dan masyarakat yang kini mengembangkan maggot dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Namun, ada beberapa yang menjadi catatan. Salah satunya mengenai lahan yang bakal digunakan untuk pengembangan ikan air tawar berbenturan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
”Kawasan tersebut ada yang masuk dalam zona hijau,” bebernya.
Tetapi, hal itu sudah dikoordinasikan. Pengembangan bisa dilakukan asalkan tidak boleh membangun bangunan di kawasan tersebut.
”Tetap menjadi zona hijau, tetapi tidak merusak keasrian hijaunya wilayah tersebut,” ujarnya.
Sebelumnya, dari data Dinas Perikanan Kota Mataram memperlihatkan jumlah penjualan ikan air tawar di ibu kota mencapai 370 ton.
Jika asumsi per kilo ikan dijual dengan harga Rp 25 ribu nilai produksi yang bisa dicapai lebih dari Rp 9 miliar.
Wilayah Kecamatan Cakranegara saat ini masih menjadi kawasan tertinggi produksi ikan air tawar.
Namun, seiring pengembangannya, Kecamatan Sandubaya menjadi tertinggi. Yakni dengan memproduksi 130 ton per tahun. Nilai produksinya mencapai Rp 3 miliar.
Saat ini, ada sebanyak 68 kelompok ikan yang dibina Dinas Perikanan. Terdiri dari pembudidaya ikan air tawar dan ikan hias.
”Makanya itu yang menjadi pekerjaan rumah kita ke depan. SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada, akan terus kita latih dan kembangkan potensinya,” pungkasnya. (arl/r3)
Editor : Marthadi