Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TVRI NTB dari Masa ke Masa: Terjun Langsung di Berbagai Peristiwa Negeri (1)

Miq Ade • Jumat, 9 Februari 2024 | 17:10 WIB

Saktiono Wahyujati
Saktiono Wahyujati

 

LombokPost--TVRI menjadi stasiun televisi tertua di negeri ini. Menyiarkan perjalanan pembangunan bangsa dari masa-ke masa.

 -----

SAKTIONO Wahyujati masih mengingat dengan baik, kapan persisnya bergabung dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sebagai media pemerintah, stasiun ini menjadi satu-satunya yang memiliki jangkauan terluas di negeri ini.

TVRI menjadi media yang sangat populer dan menarik minat banyak anak negeri bergabung ke dalamnya. “Saya gabung di TVRI sejak Maret 1993,” kata Sakti, pria yang kini menjabat sebagai Kepala Stasiun (Kepsta) TVRI NTB.

Lamaran kerja pertama kali dimasukkan di TVRI Jogjakarta. Sebelum menjadi Kepsta TVRI NTB, Sakti pernah ditugaskan di TVRI Kalimantan Selatan (2014), TVRI Makassar (2019), TVRI Sulawesi Selatan (2021).

Lalu, kembali lagi ke TVRI Jogjakarta (2022). “Baru pada tahun 2023 di TVRI NTB,” tuturnya.

Atas dedikasinya selama berkarier dan ikut berkontribusi membesarkan TVRI, Sakti telah menerima Satya Lencana. Penghargaan itu diberikan khusus bagi karyawan yang telah mengabdi selama 30 tahun.

Sakti memang bukan satu-satunya yang membesarkan TVRI. Namun ia salah satu dari ribuan karyawan yang tersebar di seantero negeri yang terus berpikir dan berinovasi mempertahankan eksistensi TVRI.

Tulisan tentang Sakti ini adalah potret dari karyawan TVRI yang terus  bekerja keras. Menjadikan stasiun televisi yang pernah jaya sejak berdiri tahun 1962 hingga tahun 90-an.

Saat pertama kali bekerja di TVRI, pria lulusan ilmu komunikasi tersebut ditugasi menangani bagian teknik studio. “Dulu kredit televisi itu masih pakai Rugos (Huruf Gosok),” tuturnya.

Pengoperasian rugos menggunakan tele komputer. Perangkat yang terdiri atas kamera yang memiliki cahaya.

“Menampilkan tulisan (kredit) misalnya ‘Ketoprak Aryo Penangsang’, nama pemainnya, ‘kerabat kerja’ dan ‘TVRI’ pakai rugos ini,” terangnya, menjelaskan alat tertua yang pernah dioperasikannya.

Lalu tahun 1994, Sakti rolling lagi ke bagian berita. “Di bagian siaran pedesaan,” kenangnya.

Ia menjadi reporter. Di masa inilah Sakti mendapat pengalaman paling berkesan, karena banyak meliput peristiwa yang berkaitan dengan bencana.

“Seperti misalnya pada tahun 2005 pascatsunami Aceh saya berangkat tidak hanya sebagai reporter tetapi juga tim dokumentasi,” kenangnya.

Masih kuat dalam ingatannya bagaimana ia melihat mayat-mayat korban tsunami yang terserak. “Dan kami harus terus merekamnya menggunakan kamera sampai dimasukkan ke kantong mayat,” tuturnya.

Sakti mengungkapkan, bagaimana ia sangat pilu melihat situasi setelah bencana. Mayat-mayat bergelimpangan dan ada juga yang tertimbun di mana-mana.

“Selain jadi tim dokumentasi, kami juga sebagai relawan,” kisahnya.

Selain ke Aceh, ia juga ke Padang, Sumatra Barat saat gempa terjadi tahun 2009. Kedalaman informasi jadi alasan turun langsung ke lapangan. “Begitu juga saat terjadi Gempa Merapi Jogja, saya juga turun,” kisahnya.

Sakti mengungkapkan, seringnya meliput bencana telah menambah pengalaman spiritualnya. “Ya kami harus tidur di tenda-tenda korban,” kenangnya.

TVRI di tahun 90-an masih menjadi rujukan utama sebagian besar orang di negeri ini mendapatkan informasi. Sebelum datangnya era persaingan menjamurnya stasiun televisi hingga era digital dengan sosial media yang luar biasa luas menguasai.

Di tahun 90-an itu, hanya satu media yang setia mendampingi TVRI yakni Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang nebeng di jalur pemancar TVRI.

“Stasiun swasta saat itu sudah ada SCTV tapi jangkauannya masih terbatas,” ucapnya. (bersambung)

Editor : Kimda Farida
#bangsa #Penyiaran #tvri #televisi #negeri #NTB #Bencana