Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Seru! Aksi dr Prida dan Tim RS Bayangkara dalam Simulasi Penyelamatan Empat Nyawa

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 7 Mei 2024 | 07:59 WIB

SIGAP: Aksi dr Prida dan tim saat simulasi penanganan pasien kecelakaan.
SIGAP: Aksi dr Prida dan tim saat simulasi penanganan pasien kecelakaan.

Ketegangan berlangsung saat dokter Prida dan tim perawat kegawatdaruratan menerima tiga pasien korban kecelakaan. Tiga-tiganya harus ditangani dalam waktu yang secepat-cepatnya.

 ------

PSC 119 Kota Mataram mengontak Rumah Sakit (RS) Bayangkara. Ada tiga korban kecelakaan dalam kondisi luka berbeda.

Kedatangan pasien ditandai raungan sirine ambulans. Dokter Prida yang bertugas memimpin empat perawat dengan sigap melayani pasien yang masuk ke ruang IGD.

“Bagian mana yang terasa sakit pak?” suara dokter Prida terdengar jelas dan terang.

Tapi pasien pria yang terbaring di atas ranjang dorong itu tak menjawab. Ia mengaduh. Mengerang, menahan sakit sambil memegang pahanya.

Saat yang bersamaan, dokter Prida meminta seorang perawat menyiapkan alat dan obat-obatan yang diperlukan untuk penanganan medis. Dokter Prida segera meminta pada rekan-rekannya mengobati luka dan mempersiapkan penyangga tulang yang patah.

Tetapi, belum saja pasien itu ditangani dengan sempurna, seorang wanita datang mengeluh kesakitan. Tangannya mengalami luka. Kondisinya tak separah korban pertama.

“Bagi tim, ada yang tangani pasien itu,” instruksi dokter Prida.

Saat konsentrasi dokter dan tim tercurah menangani dua pasien, sebuah ranjang dorong kembali masuk. Kali ini membawa pasien dengan kondisi lebih kritis.

Seorang wanita hamil tua. Ia terus menjerit dan menangis. Sakit yang ia rasakan tidak hanya bagian tubuh yang terluka. Tetapi perutnya mulas luar biasa.

“Aduh, sakit dok, sakit, tolong sakit!” jeritnya.

Ketegangan meliputi suasana ruang IGD. Tiga pasien dengan kondisi berbeda harus ditangani seorang dokter dan empat perawat.

Di sini ketenangan dan ketangkasan dokter Prida diuji. Ia harus mampu membagi tim, melayani tiga pasien dengan segera.

Suara dokter Prida yang terus mengecek indikator kesehatan dan alat-alat medis yang harus disiapkan, beradu dengan jeritan dan erangan tiga pasien. Meski demikian, empat perawat tetap mampu bekerja terorganisir di bawah instruksi sang dokter.

“Aduh, aduh, sakit dok, sakit!” jerit wanita yang hamil tua.

Ia sudah tidak tahan dengan perutnya yang mengalami nyeri luar biasa. Tanda-tanda organ vital tubuhnya di layar monitor kesehatan melemah. Begitu juga denyut nadinya.

Tapi dokter Prida dan tim belum menyerah. Kerumutan luar biasa itu, berusaha ditangani dengan tenang.

“Aduh-aduh, mau keluar!” jerit wanita itu. Memberi tanda perutnya merasakan mulas luar biasa. Tanda-tanda bayi dalam kandungan akan lahir.

Dokter Prida dan tim tetap fokus mengontrol fungsi organ vital pasien wanita. Sesaat kemudian, jeritan suara bayi terdengar. Menandakan bayinya telah lahir.

Tetapi sisa-sisa tenaga untuk melahirkan justru membuat kondisinya memburuk. Layar monitor kesehatan menandakan denyut nadi dan jantungnya melemah!

Ketegangan semakin menjadi-jadi. Seorang perawat pria meletakkan Kedua telapak tangannya di atas dada sebelah kiri pasien.

Lalu dengan gerakan simultan, memberikan hentakan, membantu menguatkan denyut jantung wanita malang itu. Situasi semakin mencekam, monitor organ vital perempuan itu semakin melemah.

Dokter Prida mengambil alat pacu jantung. Sementara kondisi pasien sudah tak sadarkan diri.

“Bagi lagi tugas. Ada yang tangani bayinya,” instruksi dokter Prida.

Peluh di dahinya bercucuran. Nafasnya turun-naik dengan cepat. Ia berulang kali memperbaiki letak kaca matanya yang miring.

“Cova pacu lagi jantungnya!” instruksinya pada perawat pria tadi.

Perawat itu kembali menekan-nekan dada sebelah kiri wanita itu. Berulang-ulang kali. Sisa aaktu penyelematan semakin singkat. Tapi dokter dan tim belum menyerah.

Tutut... Tutut!” monitor menunjukan ampilitudo gelombang denyutan lebih tinggi.

Usaha dokter Prida membuahkan hasil. Monitor menunjukkan organ vital jantung wanita membaik. Dokter Prida menarik nafas lega. Begitu juga empat perawat lain, ikut gembira.

Nyawa ibu dan anaknya terselamatkan. Dua pasien lain yang luka ringan dan patah tulang juga terobati.

Aksi dokter Prida dan tim merupakan simulasi dalam Hospital Emergency Battle (HEBAT) yang merupakan rangkaian dari acara NTB Hospital Expo volume 2 di Lombok Epicentum Mall. Namun aksi mereka mampu menghadirkan ketegangan bagi yang menyaksikan. Ribuan pasang mata pengunjung LEM ikut menyaksikan dan memberikan aplause tepuk tangan meriah.

Berkat aksi itu, RS Bayangkara keluar sebagai juara pertama dalam HEBAT yang digelar PERSI NTB bekerja sama dengan RSUD Kota Mataram. Mereka pun berhak membawa pulang medali, piagam, dan uang tunai jutaan rupiah. (*)

 

Editor : Hidayatul Wathoni
#obat-obatan #Bayangkara #Dokter #IGD #rumah sakit #Kecelakaan #pasien #ambulans #medis