
Oleh: Adhitya Bagus Singandaru
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram
Paradigma Pembangunan
Ada kecenderungan yang terus berulang dalam cara kita memaknai pembangunan. Semakin modern sebuah proyek terlihat, semakin mudah pula ia diterima sebagai simbol kemajuan.
Bandara baru, pelabuhan baru, jalan tol, kawasan ekonomi khusus, hingga kini seaplane. Seolah-olah pembangunan selalu identik dengan hadirnya sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Padahal, pembangunan tidak pernah berhenti pada apa yang dibangun. Ia selalu diuji oleh satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana, apakah kehidupan masyarakat yang paling dekat dengan proyek tersebut benar-benar menjadi lebih baik?
Baca Juga: Proyek Seaplane Batujai Tuai Penolakan
Pertanyaan itu menjadi relevan ketika Pemprov NTB mendorong pengoperasian seaplane di Bendungan Batujai, sebagai bagian dari pengembangan konektivitas antarpulau dan pariwisata premium.
Dari sudut pandang transportasi, gagasan tersebut memiliki logika yang mudah dipahami.
Kedekatan Batujai dengan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid memungkinkan wisatawan yang datang dari Bali atau kota-kota lain melanjutkan perjalanan menuju Gili Tramena, Teluk Saleh, Pulau Moyo, maupun destinasi eksklusif lainnya dengan waktu tempuh yang lebih singkat.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




