LombokPost-Bisnis jual kacamata telah membawa Bohrumi bisa bertahan hidup.
Menghidupi istri dan lima anak-nya.
Pria asal Kediri, Lombok Barat (Lobar) itu tidak ingin bisnisnya mati. Untuk itulah, anaknya disekolahkan khusus dalam bidang kacamata ke Jakarta. Agar sang anak bisa melanjutkan perjuangannya.
Bohrumi seorang penjual kacamata. Sudah hampir 21 tahun menggeluti bisnis itu.
Hingga dia kini bisa membuka toko dan memiliki karyawan.
Lewat kacamata jadi sumber rejeki Bohrumi. Hingga bisa menghidupi keluarga.
”Anak saya lima. Semua bersekolah,” kata Bohrumi.
Dia bisa menyekolahkan anaknya lewat berjualan kacamata. Sejak tahun 2003, dia telah berjualan kacamata dengan cara bekeliling.
“Belasan tahun keliling. Sekarang saya bisa buka toko kacamata,” ujarnya.
Meski tidak pernah sekolah hingga perguruan tinggi, Bohrumi bisa membuktikan dirinya sukses. Dengan tekad dan ketekunan menjadikannya mampu berdiri seperti sekarang.
”Saya tidak lulus sekolah. Tetapi, kalau berhitung dan baca, saya bisa,” ujarnya.
Dengan bisnis yang dijalankan saat ini, Bohrumi tidak ingin melihat anaknya putus sekolah. Semua harus tetap bersekolah.
”Semua anak saya sekolah. Sekarang ada di pondok pesantren. Satu anak saya yang cowok baru lulus SMA,” terangnya.
Anak cowok-nya yang nantinya akan diandalkan meneruskan bisnisnya. Sekarang anaknya sudah mendaftar di Arogapopim di Jakarta.
”Dia mengambil jurusan repraksi kacamata,” kata dia.
Sebelum menjadi mahasiswa, anaknya juga sering membantu. Paling tidak sudah memiliki sedikit bekal mengenai kacamata.
”Sering membantu kalau di sini. Sudah bisa membedakan mana kacamata plus dan minus,” ujarnya.
Bahkan juga sudah bisa mengetahui, berapa jumlah kebutuhan silinder kacamata klien setelah dilakukan pengecekan. Kebetulan di toko kacamata, sudah memiliki alat pengetesan mata.
”Jadi kita tahu jumlah minus atau plus keadaan mata pengunjung,” kata dia.
Saat berjualan, sang anak juga sudah mengetahui kualita kaca yang dibutuhkan. Ada model kaca yang bisa tembus cahaya ada juga kaca yang tidak bisa tembus.
”Kalau yang seperti itu sudah bisa dia lakukan,” kata dia.
Terkadang sang anak juga turut membantu mereparasi kacamata. Bongkar pasang kacamata.
”Kalau di kami itu kan ada jasa pemasangan kaca bersamaan dengan gagang-nya,” kata dia.
Untuk mengetes kondisi mata, para pengunjung juga nanti akan ditunjukkan dengan penglihatan huruf. Terkadang kondisi mata kiri dan kanan pengunjung memiliki kekurangan. Entah minus atau plus.
”Sehingga, perlu kita siapkan alat bantu agar lebih nyaman dan jelas melihat. Semua sudah dipelajari anak saya,” kata dia.
Dengan dia menuntut ilmu di Jakarta diharapkan bisa mengembangkan bisnis kacamata. Paling tidak bisa membantu mengembangkan dengan teknologi terbaru.
”Saya harapkan anak saya ini bisa mengembangkan keahliannya di bidang kacamata,” ujarnya.
Bohrumi mengatakan, dia merintis bisnis kacamata dari nol. Banyak cerita yang pernah dialaminya.
”Mulai dari pengalaman dicuri barang hingga pernah kehujanan karena harus berkeliling ke kantor-kantor untuk mencari pembeli,” kata dia.
Dari keuntungannya berkeliling berjualan kacamata disisihkan. Hingga pada tahun 2020 lalu, dia memberanikan diri membuka toko kacamata.
“Tentu dengan memanfaatkan kenalan dan jejaring semasa dia masih berkeliling kacamata,” terangnya.
Semua pernah dilakukan.
Hingga Bohrumi bisa sukses seperti sekarang ini.
“Makanya saya tidak ingin melihat bisnis yang saya rintis dari nol ini mati. Saya harapkan anak saya bisa meneruskan,” kata dia.
Apalah daya, dirinya sekarang sudah memasuki usia 50 tahun. Tidak sekuat waktu umur muda. “Sekarang sudah saatnya dibantu anak,” ungkapnya. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida