LombokPost-Zaen Kaisyar menjalani lika-liku hidup komika sejak tahun 2016.
Titik terendah perform yang pernah dilakoninya adalah saat tak satupun penonton tertawa.
Rambut gondrong, kumis tebal, wajah tegas.
Tapi bit-bit materinya membuat tawa penonton pecah.
Dia adalah Muhammad Zaenuddin.
Namun ia lebih beken dengan nama panggung Zaen Kaiysar.
“Dulu saya suka nonton film kolosal China, film-film yang berkisah tentang kekaisaran. Saya jadi tertarik ingin pakai nama Kaiysar juga,” kisahnya pada Lombok Post, Minggu (19/5).
Hanya saja jalan hidup tak selempeng khayalan.
Sosok kaisar China yang memiliki banyak rakyat, ratusan ribu tentara, dengan kekuasaan terbentang dari ujung ke ujung, gagal dimilikinya.
Jalan hidup membawa Zaen Kaiysar berbelok, melingkar jauh, ke panggung stand up yang justru membuatnya beberapa kali menahan malu.
Sebelum saat ini, jadi panutan para komika lokal di Lombok.
“Saya lebih suka disebut sebagai senior (ketimbang panutan),” ucapnya, sembari tersenyum.
Zaen Kaiysar mengenal dunia stand up comedy sejak tahun 2016.
Di tahun itu pula khayalannya tentang tahta dan kekuasaan sang Kaisyar ditutup rapat-rapat dengan memutuskan masuk dunia komika yang terlihat menyenangkan.
Penuh canda tawa.
“Saya yakin ini dunia saya, karena setiap tongkrongan saya selalu sukses membuat teman-teman tertawa terpingkal-pingkal,” kenangnya.
Nyatanya, gunung setelah didekati hanya bebatuan dan khayalan tak seindah kenyataan.
“Begitu saya masuk dunia stand up comedy, ternyata membuat orang tertawa tak semudah yang dipikirkan,” celetuknya.
Jalan panjang mengarungi dunia stand up comedy dimulai Zaen Kaisyar ketika masih duduk di bangku SMA.
“Saat itu saya masih kelas dua di Muallimin Pancor, Lombok Timur,” tuturnya.
Saat itu ia tertarik dengan performa komika dari Standupindo Lombok di sekolahnya.
“Saya berpikir ternyata ada komunitas di sini, cuma masih terkendala markas komunitas ada di Mataram, jadi jauh sekali,” kenang pria yang saat ini tengah menjalani semester akhir di Sosiologi, Universitas Mataram.
Namun, hasratnya bergabung komunitas menemukan jalan.
Ia mendapat informasi Standupindo Lombok punya jejaring hingga ke Lombok Timur.
“Saya masih ingat, saat itu September 2016 memutuskan diri gabung dalam komunitas,” ucapnya.
Zaen Kaisyar menceritakan isi kepalanya tentang betapa asyiknya dunia stand up comedy kala itu.
Hidup selalu dipenuhi canda tawa dan banyak pahala karena membuat orang susah melupakan beban hidupnya sesaat.
“Tapi saya jadi stres, begitu tampil pertama kalinya di manggung karena tidak ada satu pun orang yang berhasil saya buat tertawa,” kenangnya.
Para penonton yang menyaksikan performanya memasang muka datar, dahi berkerut, wajah yang malas.
Ekspresi penonton membuat Zaen Kaisyar untuk pertama kalinya kena mental begitu dalam.
Tak ada satu pun bit comedy yang disajikannya berhasil membuat penonton sekadar tersenyum.
“Saat itu saya langsung down dan berpikir, ‘ngapain saya di sini, lebih baik tidur di kos. Zaen-zaen, ada-ada saja’,” celotehnya dalam hati dengan perasaan gersang. (bersambung, Zad/r3)
Editor : Kimda Farida