LombokPost-Lalu Aria Dharma mengungkapkan keinginan menyeberang ke panggung politik.
Pria yang masih menjabat sekretaris DPRD Kota Mataram ini pun sudah mengambil berkas pendaftaran sebagai bakal calon wakil wali kota (bacawawalkot).
“Nggih, benar. Tiang mengambil formulir di PDIP. Menjalankan ikhtiar niki,” ungkapnya.
Tak seperti kebanyakan birokrat yang malu-malu kucing melirik panggung politik. Berapologi, berdalih, menggunakan kalimat bersayap yang membuat pendengar pusing memaknainya.
Tapi Aria Dharma dengan kesatria mengakuinya. Ia tak berkilah, menutupi niat hatinya.
Bahkan sebelum keputusan itu diambil, Aria Dharma telah khatam konsekwensi keputusannya itu.
Ia harus mengundurkan diri dari kursi Sekretaris Dewan (Sekwan), bahkan lebih spesifik lagi, harus berhenti menjadi Pegawai Negeri Sipil (ASN).
“Harus siap niki, sesuai regulasi UU nomor 20 tahun 2023 tentang ASN, wajib mengatakan pengunduran diri secara tertulis dari ASN,” ucapnya.
Tetapi sebagai seorang yang sepuh dalam memahami aturan hukum, Aria Dharma nampaknya paham betul. Ketentuan pengunduran diri berlaku sejak akan ditetapkan sebagai calon.
Dengan kata lain, Aria Dharma tahu, di balik keputusan ini, ia masih punya kesempatan.
Menimbang dan menganalisa, kemungkinan ia menjadi calon dan mendapat dukungan politik dari partai politik dan elitnya.
Syarat pendaftaran sebagai calon ke KPU nyatanya cukup longgar.
Ia hanya perlu menyertakan bukti usulan pengunduran diri ke Kemendagri.
Aria Dharma masih bisa melihat dan menganalisis kemungkinan diusung sebagai calon sebelum melayangkan usulan pengunduran diri.
“Mengundurkan diri dari PNS sejak ditetapkan sebagai calon oleh KPU, prosesnya masih panjang sanak (saudara, Red),” ujarnya.
Tapi bukan berarti, keputusan ini tanpa mempertimbangkan peta perpolitikan kota. Aria Dharma telah membaca situasi, dan meyakini kesempatan itu ada untuknya.
“Alhamdulillah modal utama saya adalah hubungan dalam bentuk komunikasi yang baik selama ini dengan pimpinan partai, (seperti) Golkar, Gerindra, PKS, Demokrat, dan lain-lain,” ucapnya.
Karirnya menjadi sekwan termasuk yang terlama di Indonesia.
Aria Dharma menjabat posisi strategis itu sekitar 12 tahun. Waktu yang sangat panjang untuk mempelajari dengan telaten apa itu politik.
Selama itu, ia telah mengadaptasikan diri dan melihat dengan detail bagaimana komunikasi politik di bangun sampai akhirnya deal.
Pengalaman interaksi yang berharga itu akan ia gunakan menapaki dunia baru: dunia politik.
“Nggih, kita lihat saja nanti. Komunikasi dengan teman-teman di partai kan bisa setiap hari. Pentolannya rata-rata di dewan,” ungkapnya seraya tersenyum.
Karir Aria Dharma di birokrat ASN sebenarnya masih cukup panjang.
Ia tercatat pensiun tahun 2029 nanti. “1 Januari 2029,” terangnya.
Tapi keyakinan telah membawanya pada keputusan ingin pensiun dini lebih awal. Sebagai konsekuensi atas rencana dirinya tampil sebagai bacawawakot.
“Terpilih Desember 2012 (sebagai sekwan), waktu itu kan belum ada pansel-panselan. Dipilih oleh dewan,” ucapnya mengakhiri cerita. (zad/r3)
Editor : Marthadi