LombokPost-Sutradara muda di Rumah Produksi Symphony Visual yakin, perfilman di NTB tengah berjalan ke arah yang benar.
Ada kontribusi perkembangan teknologi dan semangat para sineas lokal yang sedang bergairah untuk berkarya.
Di kalangan sineas muda NTB, nama Dwiyanto Ahmad Fikri tidak asing. Pria yang akrab disapa Dwi ini adalah sutradara di balik film berjudul: Jangan ke Lombok, Nanti Nggak Mau Pulang.
Film yang diproduksi tahun 2014 dan rilis tahun 2015 ini salah satu film yang sukses menyita perhatian khalayak ramai.
Khususnya di NTB.
Judulnya yang unik, telah membuat banyak orang luar Lombok tertarik menonton. Mereka ingin tahu, bagaimana sang sutradara menggambarkan keindahan Lombok dalam sebuah film.
“Film itu menemukan momentumnya, di saat sineas lokal masih kesulitan mendapatkan peralatan film yang memadai,” tutur Dwi, pada Lombok Post, Minggu (9/6).
Pria yang saat ini berusia 32 tahun ini mengungkapkan respect-nya pada perkembangan sineas muda di Lombok, bahkan di NTB, belakangan ini.
Sebagai sutradara yang sudah lama berkecimpung di dunia film indie, ia merasakan terjadi arus kegairahan sineas dalam waktu dua-tiga tahun belakangan ini.
“Sekarang lagi ramai-ramainya muncul sineas muda, tentu ini sangat baik bagi perfilman daerah kita,” tuturnya.
Para sineas daerah bergerak di banyak lini.
Antara lain, untuk penggarapan film pendek atau panjang.
Mereka juga masuk dan membangun kerja sama dengan banyak pihak. NGO, pemerintah, dan pihak-pihak yang membutuhkan dokumentasi film untuk tujuan misi tertentu.
“Ada yang sekadar hobi hingga profesional. Sineas muda kita bergerak ke arah yang benar untuk perkembangan perfilman daerah,” ucapnya.
Dwi mengungkapkan, perkembangan teknologi telah berkontribusi besar dalam memicu lahirnya banyak sineas muda. Ia membandingkan ketika 10 tahun tahun silam ke bawah.
“Saat itu, rasanya sulit sekali sineas lokal berkembang. Keterbatasan alat membuat teman-teman tidak banyak yang bisa berkarya. Sekarang dengan smartphone, kita sudah bisa buat film,” ucapnya.
Sekalipun teknologi telah menghadirkan paradoks, Dwi yakin di tangan sineas, smartphone berteknologi kamera canggih bisa menghasilkan karya hebat.
“Karya-karya mereka bisa kita lihat tersebar di platform media sosial. YouTube, Facebook, tiktok, reels, dan lain-lain. Ini tentu membanggakan,” ucapnya.
Dalam dunia perfilman, karya yang dihasilkan oleh smartphone nyatanya menghasilkan segmen market tersendiri.
Bahkan, memberikan royalti yang menjanjikan bagi yang menekuninya.
“Jadi tidak bisa juga kita banding-bandingkan atau benturkan mana yang lebih hebat karya pakai smartphone atau peralatan kamera yang biasa dipakai buat film,” paparnya.
Kenyataanya, alat yang lazim digunakan buat film tetap diperlukan untuk menghasilkan film yang ditayangkan di tempat khusus seperti bioskop.
“Jadi punya market masing-masing. Punya keunggulan masing-masing. Bagi saya itu bukan persoalan. Yang terpenting saat ini, kita semua punya semangat yang sama untuk berkarya,” ucapnya bijak. (Bersambung/r3)
Editor : Kimda Farida