LombokPost-Gedung Arsip dan Perpustakaan kini sudah dimiliki Kota Mataram.
Keberadaannya menjadi tonggak membuka gudang keilmuan untuk masyarakat.
Fungsinya cukup besar, dapat memperkuat literasi yang mulai tergerus zaman di kalangan anak muda.
Hingga membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi.
Gedung Arsip dan Perpustakaan berdiri megah di dekat Tugu Mataram Metro.
Meskipun taman belum sepenuhnya selesai dikerjakan, pengunjung tetap ramai.
Mulai dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.
Di pintu masuk, para pengunjung disambut hangat pegawai. Ramah dan santun.
”Silahkan isi daftar pengunjung. Pengisian daftar di komputer,” sambut pegawai ke pengunjung.
Senyum sapa yang ramah dari pegawai membuat pengunjung lebih nyaman.
Hal itu dirasakan pengunjung Dinda Aprilia.
Mahasiswa Universitas Terbuka itu sangat terbantu dengan adanya ruang perpustakaan.
”Saya hobi membaca. Jadi senang saja ke sini. Tempatnya sangat representatif juga,” kata Dinda.
Menurutnya, tempat itu cukup nyaman dikunjungi. Desainnya lebih modern.
“Untuk bisa daftar menjadi anggota peminjam buku saja cukup mudah. Hanya serahkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) atau kartu mahasiswa,” ujarnya.
Dinda berkunjung dua hingga tiga kali seminggu ke tempat tersebut. Mencari buku untuk menambah wawasannya.
”Saya lebih senang membaca buku daripada harus belajar atau membaca lewat handphone,” ungkapnya.
Melalui internet, semua bisa diakses. Tetapi, itu hanya dijadikan sebagai penambah informasi dari keilmuan yang ingin diketahui.
“Namun, membaca buku jauh membuat kita lebih fokus. Kita bisa mendapatkan banyak hal dari buku. Karena, apa yang tercatat tidak bisa hilang,” ujarnya.
Berbeda belajar dari internet. Terkadang membuat tidak fokus, karena bakal muncul banyak iklan atau pendapat para ahli terlalu banyak.
”Jadi agak bingung. Terkadang daya ingat kita tidak sekuat seperti kita membaca buku,” ungkap mahasiswi berkacamata itu.
Adanya perpustakaan ini, Dinda merasa sangat terbantu. Melalui buku yang didapatkan di perpustakaan itu dapat memperkuat literasi.
”Penguatan literasi ini dapat mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup,” ujarnya.
Gedung perpustakaan itu masih baru. Jadi, buku yang ada juga masih terbatas.
”Itu bisa dimaklumi,” ujarnya.
Beberapa buku yang ada penerbitnya terlalu lama. Sehingga perlu ada pembaharuan.
”Maksud pembaharuannya itu bukan pada ilmunya. Pembaharuannya dari berbagai macam buku yang ada,” sarannya.
Misalnya saja yang perlu diperbaharui adalah buku pembelajaran. Seperti keuangan, perbankan, dan sebagainya. Ada juga beberapa buku yang perlu ditambah, seperti yang berkaitan motivasi.
“Buku-buku yang berkaitan dengan Self Improvement masih kurang,” terangnya.
Yang paling banyak ditemui adalah buku-buku pembelajaran tertentu.
Sebagian besar berkaitan dengan buku pembelajaran kuliah.
”Kalau di atas itu banyak buku-buku pembelajaran yang sifatnya normatif,” terangnya.
Tetapi itu bukan menjadi masalah.
Buku-buku itu bisa menunjang mahasiswa untuk menambah pengetahuan berdasarkan jurusannya masing-masing.
”Kalau menurut saya buku-buku itu bisa membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi,” kata dia.
Dia yakin, jika mahasiswa datang ke tempat tersebut skripsinya bisa lebih cepat selesai. Referensi-nya cukup lengkap.
”Tempatnya cukup bagus. Cocok bagi mahasiswa yang konsen menyelesaikan skripsi atau tugas lainnya,” kata dia.
Mahasiswa maupun pelajar yang ingin menambah ilmu pengetahuannya harus datang ke gedung ini. Banyak hal yang bisa didapatkan.
”Bisa menambah wawasan untuk bekal menjalani kehidupan di masa depan,” ujarnya.
Dinda mengatakan, yang menjadi masukan di Perpustakaan itu adalah kurangnya pemahaman pengunjung.
Masih banyak pengunjung yang berisik di dalam ruang baca.
”Petugas perlu memberikan tanda larangan berbisik di ruang baca. Supaya tidak mengganggu pengunjung yang lain,” kata dia.
Jika tidak ada atensi itu, dapat merusak kenyamanan pembaca. Karena untuk bisa menyerap apa yang dibaca perlu konsentrasi dan fokus yang tinggi.
”Kalau ada yang berisik atau ngobrol mengganggu fokus kita,” ungkapnya. (*/r3)
Editor : Kimda Farida