LombokPost-Kulit bertato.
Mengenakan jaket kulit. Dilihat kasat mata penampilannya sangar.
Tapi, jangan ragukan solidaritas dan empati mereka pada sesama.
Iring-iringan motor custom mengaspal. Berkelompok.
Terlihat asyik. Beban dipikiran hilang saat sedang bercengkrama. Cara itu mengobati stress para komunitas motor custom.
Mereka menamakan diri, klub motor Babi Liar Lombok. Penggagasnya bernama Suro.
Biasanya anak motor kerap berkesan negatif. Tetapi, bagi orang yang sudah masuk di lingkarannya baru mengetahui.
Bergabung dengan klub motor memberikan kesan positif.
Pembahasannya bukan hanya mengenai persoalan motor.
Tetapi, bagaimana caranya bisa berbagi dengan sesama.
Histori yang paling berkesan adalah saat hendak tour ke kaki Gunung Rinjani. Saat tour, wilayah Lombok dilanda gempa.
”Waktu itu kita mau nge-camp di Sembalun. Itu pas gempa pertama,” kata Suro.
Peristiwa itu memang telah berlalu.
Tapi, Suro masih menyimpan kenangan gempa dengan rapi di memori kepalanya. Saat itu ada sekitar 15 motor custom yang berangkat.
Kebanyakan anggota dari Babi Liar Lombok.
Rencana awal untuk camp di Sembalun buyar karena gempa.
Meski begitu, Babi Liar Lombok memilih untuk tidak balik kanan. Pulang ke rumah masing-masing. Mereka justru melanjutkan perjalanan menuju Sembalun.
Keputusan Suro tepat. Gempa pertama menghancurkan banyak rumah di Sembalun.
Solidaritas dan rasa kemanusian Babi Liar Lombok dibuktikan dengan langsung menolong warga. Memberikan bantuan kepada masyarakat yang menjadi korban gempa.
”Itu pertolongan pertama ke Sembalun. Akhirnya tidak jadi acara, malah nolong warga,” ucap dia.
Setelah gempa, Suro mengontak kawan-kawannya. Mengandalkan jejaring anak motor custom. Dari seluruh Indonesia.
Meminta mereka untuk memberi bantuan. Tampilan anak motor boleh sangar. Tapi tidak dengan hati mereka.
Bantuan mengalir deras.
Semuanya disalurkan kepada warga. Tidak sampai di sana. Juni lalu, bersama 600 anak motor custom dari seluruh Indonesia, Babi Liar Lombok melakukan trauma healing untuk anak-anak Sembalun.
”Itu bertepatan dengan anniversary Babi Liar ketujuh. Kita tidak mau hura-hura. Jadi pilih kegiatan yang bermanfaat,” tuturnya.
Rasa kemanusian yang ditunjukkan anak motor custom, bisa menepis stigma negatif.
Kebanyakan orang, memandang sebelah mata anak motor. Ugal-ugalan hingga berbuat onar.
Tapi tidak dengan klub motor custom Babi Liar Lombok. Dibentuk karena kesamaan hobi, anggota Babi Liar Lombok bisa disebut sebagai antitesis anak-anak motor yang berbuat ‘semau gue’ di jalanan.
”Kita tidak pernah nongkrong di jalan tiap malam. Kalau mau kumpul, ya bikin acara yang besar sekalian. Atau ngobrol di Kandang (bengkel, Red) Babi Liar,” terang pria berambut gondrong ini.
Suro yang kerap dipanggil Presiden oleh anak-anak motor custom se-Indonesia mengatakan, tidak ada dalam kamus penunggang motor custom, kata kebut-kebutan di jalan.
Ketika berkendara, motor dilajukan dengan kecepatan minimum.
Motor custom, lanjut Suro, tak perlu mencari perhatian dengan cara kebut-kebutan.
Tampilan motor yang unik, itu sudah cukup membuat mata pengendara untuk sekadar melirik. Meski ridernya berjalan pelan.
”Apalagi kalau pakai Chopper. Babi Liar naik motor Chopper itu gak pernah ngebut,” bebernya.
Kondisi itu tak terlepas dari desain Chopper juga mesinnya.
Kata Suro, kebanyakan motor custom menggunakan mesin dari motor-motor lama.
Suro punya satu mesin lawas. Dari motor Birmingham Small Arms (BSA).
Usia mesin hanya satu tahun lebih muda dari umur Republik Indonesia merdeka. Jika di 17 Agustus nanti Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, maka mesin BSA Suro umurnya 73 tahun.
Dengan mesin itu, Suro hendak membuat masterpiece motor Chopper. Tentu miliknya sendiri. Motor itu sudah digarap lama. Tapi belum kelar hingga sekarang.
”Itu motor Chopper saya bikin pelan-pelan. Mau saya jadikan ikon Kandang Babi,” kata Suro menunjuk motor yang terparkir tepat di depan teras samping.
Suro menuangkan segala ide gilanya di motor tersebut.
Beberapa item motor bahkan menabrak pakem modifikasi untuk motor Chopper.
Salah satunya item shock depan. Meski begitu, motor tetap bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
”Kalau itu sudah pasti. Meski custom, motor harus tetap bisa dipakai,” ucap dia.
Sebagai karya terbaik, ada banyak tawaran untuk motornya.
Kondisi motor yang baru sekitar 90 persen itu, pernah ditawar Rp 50 juta. Cukup menggiurkan.
Tapi Suro tak ingin menjual mimpinya. Menukarnya dengan sejumlah pundi-pundi uang.
Lebih-lebih mesin BSA diperolehnya dengan susah payah. Perlu menunggu hingga setahun lebih dan ditebus dengan mahar Rp 27 juta.
”Pernah ditawar Rp 50 juta, padahal belum jadi. Tapi saya tolak. Itu impian saya. Dapatnya susah itu,” pungkas Suro. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida