LombokPost-Welcoming Ceremony MXGP digelar, Jumat (28/6).
Para pembalap dan kru disambut bak raja.
Seluruh pembalap antusias mengikuti parade yang diselenggarakan panitia.
Start mulai dari Islamic Center (IC) menuju ke Teras Udayana.
Para pembalap diangkut menggunakan Cidomo atau alat transportasi tradisional.
Selain itu, sejumlah pembalap juga mengendarai sepeda ontel mengikuti parade tersebut.
Dari hasil pantauan koran ini, saat mengikuti parade dari IC ke Teras Udayana, jalan tersebut cukup lengang.
Masyarakat tidak terlalu ramai menyambut mereka.
Namun, setibanya di Teras Udayana, mereka langsung dibopong menggunakan praja. Disambut bak raja.
Sejumlah warga yang telah menunggu di Teras Udayana meminta foto bareng.
Media Director MXGP Baiq Yulia mengatakan, konsep parade ini melibatkan komunitas sepeda ontel, para pegiat gendang beleq.
“Kami juga libatkan carnaval costum dari Lombok Tengah (Loteng). Tujuannya supaya bisa lebih dekat dengan masyarakat,” kata Yulia.
Saat penyelenggaraan seri 1 di Samota, Sumbawa tahun lalu juga menyuguhkan parade. Sehingga, antusias masyarakat lebih besar.
”Ini cara kami agar para pembalap dengan masyarakat merasakan euforia yang sama,” harapnya.
Setelah mereka berjalan melakukan parade dari Islamic Center hingga ke Teras Udayana, para pembalap disambut jaran kambut.
”Mereka dibopong menggunakan alat praja,” jelasnya.
Pembalap yang mengikuti parade hampir seluruhnya. Mereka terlihat bersemangat dan merasakan euforia dengan masyarakat.
”Yang ikut parade ada 26 pembalap. Baik pembalap MXGP dan MX2,” ujarnya.
Itu belum ditambah dengan kru pembalap. Kalau dihitung dengan timnya, bisa mencapai ratusan orang.
“Ada sebanyak 150 orang kalau terhitung dengan kru-nya,” kata dia.
Konsep yang ditujukan ke pembalap adalah memperkenalkan budaya yang ada di Lombok. Sehingga, mereka juga mendapatkan edukasi dan turut bisa mengeksplore kebudayaan asli Lombok.
“Ini kan event kelas internasional. Lewat event yang seperti inilah kita bisa memperkanalkan keaslian budaya kita,” ujarnya.
Yulia mengatakan, memang saat parade hanya ada sedikit warga yang menyambut pembalap di pinggir jalan.
Hal itu dikarenakan, penutupan jalan Udayana yang ke arah utara belum ditutup.
”Berdasarkan arahan kepolisian, jalan terlalu ramai. Sehingga dapat ditutup hanya 10-15 menit sebelum acara dimulai,” terangnya.
Ini bisa menjadi catatan untuk pelaksanaan MXGP berikutnya.
Termasuk menjadi evaluasi saat memasuki seri ke dua yang juga diselenggarakan sirkuit Eks Bandara Selaparang.
”Mungkin kita juga belum bisa memaksimalkan melalui publikasi ke publik. Itu yang juga jadi bahan catatan kita ke depan,” ungkapnya.
Kalau di sirkuit yang menjadi catatan adalah pihak UMKM eksternal terkait. Mulai dari pintu masuk dan aksesnya.
”Karena tidak semua orang bisa kita libatkan secara masif. Kita lihat skema yang terbaru di tahun ini akan berjalan lancar atau seperti apa, nanti akan kita evaluasi di seri ke dua,” jelasnya.
Semua akan dievaluasi. Intinya yang jadi bahan evaluasi adalah bagaimana caranya menarik minat masyarakat tertarik menonton.
”Motocross ini bisa sukses terselenggara jika dukungan penuh dari masyarakat,” harapnya.
Terpisah, warga Kota Mataram Safii mengaku, awalnya tidak mengetahui sama sekali ada kegiatan parade. Dia mengetahui setelah duduk di kantin Islamic Center.
”Saya sebenarnya tidak tahu ada acara apa ini. Karena, tujuan saya ketemu teman di kantin Islamic Center,” kata Safii.
Lalu dia melihat ada banyak pecinta sepeda ontel kumpul. Lalu ia bertanya ke anggota komunitas yang kebetulan duduk minum kopi di sampingnya.
“Orang itu jawab, kalau ini ada acara parade untuk kegiatan MXGP,” kata pria asal Kelurahan Taliwang, Cakranegara itu.
Dia sebagai masyarakat Kota Mataram tidak mengetahui sama sekali akan ada acara MXGP. Berbeda kalau MotoGP.
”Kalau MotoGP ikut saya nonton. Ya, mungkin event ini tidak terlalu populer saya dengar,” akunya. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida