Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPBD Mataram: Satu Hektare Lahan Sawah Terancam Gagal Panen

Galih Mega Putra S • Selasa, 1 Oktober 2024 | 19:59 WIB
TERANCAM GAGAL PANEN: Terlihat dari kamera drone kondisi sawah yang melimpah airnya, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)
TERANCAM GAGAL PANEN: Terlihat dari kamera drone kondisi sawah yang melimpah airnya, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Kondisi cuaca saat ini tidak menentu. Terkadang hujan dan panas. Kondisi itu mengancam hasil panen petani di Mataram.

”Kami sudah turun cek, ada sebanyak 1 hektare lahan petani yang gagal panen,” kata Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Irwan Rahadi.

Yang terdampak paling parah adalah kawasan wilayah utara Kota Mataram. Sebab, kekurangan debit air.

”Yang parah itu di wilayah Rembiga dan Kecamatan Selaparang lainnya,” ujarnya.

Debit air untuk pengairan sawah di kawasan tersebut mulai berkurang. Untuk menambah debit airnya perlu berkoordinasi dengan pihak Lombok Barat (Lobar).

”Karena, pintu airnya itu ada di kawasan Sigerongan (Desa di Lobar),” jelasnya.

Untuk membantu para petani, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian (Distan).

“Kami upayakan membantu menggunakan mesin air,” kata pria yang juga menjabat sebagai plt Kadistan.

Seharusnya pada bulan September ini, padi yang ditanam sudah berbunga. Tetapi, sampai sekarang belum juga berbunga.

”Itu keluhan dari para petani yang kita terima saat turun ke lapangan,” jelasnya.

Tetapi, sampai saat ini belum juga dikalkulasikan potensi kerugian para petani. Hanya saja. ”Kita masih upayakan terus membantu,” terangnya.

Tidak hanya petani saja yang merasakan dampak kekurangan debit air. Tetapi, pengusaha lain.

”Misalnya pengrajin tahu dan tempe,” beber Irwan.

BPBD sudah mendapatkan laporan dari masyarakat di kawasan Abian Tubuh, Cakranegara.

Debit air PDAM di kawasan tersebut sangat kurang.

”Akibatnya, beberapa pengusaha tahu dan tempe mengeluh. Mereka tidak bisa membersihkan tahu dan tempenya menggunakan air bersih,” bebernya.

Melihat fakta-fakta di lapangan, Irwan langsung menggelar rapat koordinasi bersama stakeholder lain. Melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

”Berdasarkan keterangan BMKG, diprediksi puncak hujan akan terjadi pada bulan November,” jelasnya.

Jadi, yang patut diwaspadai adalah adanya transisi siklus musim. Untuk mengantisipasi itu, pihaknya sudah mengusulkan wilayah Kota Mataram menjadi siaga darurat.

“Saya sudah usulkan Kota Mataram menjadi berstatus siaga darurat per tanggal 30 September,” ujarnya.

Untuk penetapannya, nanti Pjs Wali Kota Mataram yang akan menandatangani.

”Kami tidak mau kecolongan, kalau memang siklus kekeringan meluas di Kota Mataram,” ujarnya.

Seorang petani Nasrudin mengaku, debit air di kawasan lahan pertaniannya memang agar berkurang. Biasanya, tak seperti ini.

”Syukur ada mesin air untuk mengangkat air sungai kecil yang berada di atas sawah,” kata Nas.

Untuk bisa mendapatkan air pun, pihaknya harus sedikit mengeruk tanah yang ada di sungai. Tujuannya, supaya air bisa mengalir ke tanah lubang hasil kerukannya.

”Jadi seperti kami tampung airnya. Lalu itu yang kita sedot untuk mengairi persawahan,” ujarnya. (arl/r3) 

Editor : Kimda Farida
#Petani #Mataram