Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan berbagai persiapan sudah dilakukan. Misalnya menyiapkan suplai air ke lahan-lahan pertanian untuk mencegah gagal panen.
Termasuk distribusi air bersih ke warga Mataram yang terdampak. "Kalau sekiranya sangat emergency kami sudah siap siaga. Tapi secara umum saat ini Mataram masih terkendali," kata Irwan kepada Lombok Post, kemarin (7/10).
Disampaikan, pihaknya melihatkan lintas instansi dalam mengatasi bencana kekeringan. Termasuk di antaranya Dinas Pertanian untuk membantu suplai air ke persawahan yang terdampak. Ini untuk mengatasi gagal panen karena tanaman yang kering.
Untuk distribusi air bersih, BPBD bekerja sama dengan PDAM Giri Menang. Air tangki disuplai ke permukiman warga yang terdampak karena air PDAM tidak mengalir.
"Prinsipnya kami kolaborasi dan sinergi lintas OPD dan instansi," paparnya.
Terkait anggaran, sejauh ini pihaknya memanfaatkan dana bantuan siap pakai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Anggarannya sekitar Rp 200 juta. Selain itu pemkot juga menyiapkan dana yang bersumber dari APBD Kota Mataram 2024. Yaitu melalui pos anggaran biaya tak terduga (BTT). Anggarannya Rp 5 miliar.
Tapi sejauh ini, papar Irwan, BTT belum dimanfaatkan oleh BPBD. Dana akan dimanfaatkan terjadi hal-hal mendesak yang bersifat darurat akibat bencana Kekeringan.
"BTT ini anggaran rutin yang disiagakan untuk antisipasi terjadinya bencana. Tergantung kondisi nanti. Prinsipnya dana ini sudah disiapkan di APBD," paparnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri menyampaikan BTT bisa digunakan untuk penanganan kekeringan. Itu untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Seperti penyediaan air bersih, bantuan kepada petani yang tanamannya terdampak serta serta upaya mitigasi lainnya.
"Bisa digunakan untuk berbagai keperluan mendesak," papar Lalu Alwan.
Berdasar data BPBD Kota Mataram, sejumlah wilayah rawan terdampak kekeringan. Seperti di Kelurahan Karang Baru, Rembiga, dan Abian Tubuh. Pada tahun-tahun sebelumnya penanganan kekeringan difokuskan di wilayah itu.
"Di wilayah itu warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk pertanian dan usaha UMKM," tegasnya. (mar/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post