LombokPost-Dampak dari siklus hidrometeorologi itu tidak hanya banjir dan tanah longsor. Melainkan juga angin kencang yang mengakibatkan gelombang pasang di kawasan pantai.
"Dampak dari hidrometeorologi, kami meminta nelayan waspada saat melaut," imbau Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram H Irwan Harimansyah.
Terlebih lagi berdasarkan hasil rapat terpadu mengenai penanganan hidrometeorologi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram diprediksi bakal terjadi angin kencang akibat dari siklus hidro. "Makanya, sebelum melaut nelayan harus melihat prediksi cuaca," bebernya.
Cuaca ekstrem ini memang sifatnya masih prediksi. Tetapi paling tidak, itu bisa dijadikan rujukan ketika hendak turun mencari ikan. "Mungkin tidak di pinggir pantai tempat siklusnya. Tetapi di tengah laut. Itu harus diantisipasi," kata dia.
Pihaknya juga sudah mengimbau langsung seluruh nelayan di Kota Mataram. Untuk sementara lebih berhati-hati saat melaut. "Diprediksi bakal ada cuaca ekstrem di bulan ini," ujarnya.
Jika nelayan libur melaut, tentunya yang jadi permasalahan adalah tempat parkirnya. Biasanya, nelayan akan menggunakan garis atau bibir pantai dari kawasan Ampenan hingga di Senggigi, Lombok Barat (Lobar). "Kondisi itu perlu diantisipasi," jelasnya.
Sebab, sering terjadi perkelahian antar nelayan akibat persoalan parkir sampan. Antara nelayan Mataram dengan nelayan Lobar.
"Untuk mengantisipasi itu, kami sudah berkoordinasi dengan Pemkab Lobar. Untuk sementara selama prediksi cuaca ekstrem datang meminta izin untuk memberikan kesempatan kepada nelayan kita untuk memarkirkan sampan di wilayah Lobar," ujarnya.
Yang pasti, tujuannya agar parkir sampan tertata dengan baik. Tidak semrawut yang mengganggu pandangan masyarakat. "Tetap harus tertata. Tidak parkir sembarangan," kata dia.
Seorang nelayan Imam Budi mengaku, sudah menerima imbauan dari pemerintah atas antisipasi cuaca ekstrem. Tetapi, masih ada beberapa nelayan yang melaut. "Untuk sementara ini cuaca masih aman. Mudahan saja tidak ada prediksi itu," harap Imam.
Imam mengatakan, saat ini memang sering terjadi hujan di tengah laut. Hal itu, juga perlu diantisipasi. "Kalau kita sudah melihat mendung di tengah, pasti kami akan segera menepi," ujarnya.
Jika masih anginnya tidak terlalu kencang dan gelombang tidak terlalu besar, nelayan akan tetap melaut. Sebab, tidak ada penghasilan lain yang diharapkan. "Kami hidup juga di laut. Kalau ada gelombang yang kisaran 2-3 meter sudah biasa dihadapi," terangnya.
Jika seperti beberapa bulan lalu angin kencang sampai ke darat, baru harus libur melaut. "Saking kuatnya angin itu, kita mau ke laut saja, sampan kita sudah terbalik. Kalau seperti itu siapapun nelayan pasti tidak akan melaut," tandasnya. (arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post