LombokPost-Sebuah panggung amphiteater berdiri megah di tengah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Udayana. Bangunan itu diberi nama Teras Udayana.
Dari waktu ke waktu, tempat ini semakin ramai dikunjungi. Anak-anak, remaja, para orang tua, hingga lansia mendatangi untuk berbagai alasan yang membuat mereka terhibur dan bahagia.
“Ini panggung budaya terbuka satu-satunya di NTB,” ucap Hayatul Hiqam, pengunjung Teras Udayana, Minggu (10/11).
Gadis 24 tahun itu, terkagum-kagum dengan visi pembangunan pemimpin di Kota Mataram. Keberadaan teras Udayana itu manasbihkan Kota Mataram memang barometer pembangunan.
“Mataram memang selalu selangkah lebih maju dari daerah lain,” ucap gadis dari Lombok Tengah ini.
Saat daerah lain tengah sibuk berjibaku memeratakan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, hingga fasilitas kesehatan, Kota Mataram berada di atas semua itu.
“Fasilitas dasar di sini sudah bagus-bagus, jadi wajar pemimpinnya berpikir lebih dari sekadar membangun infrastruktur dasar,” imbuhnya.
Teras Udayana bagi Hiqam adalah simbol atau tonggak peradaban.
“Fasilitas ini seperti simbol keberanian menyatakan sikap, peradaban memang harus maju namun seni dan budaya harus jadi identitas dan kebanggaan diri,” ucap mahasiswa fakultas Ekonomi di Unram tersebut.
Maka ia merasa tak berlebihan memuji Teras Udayana sebagai mahakarya. “Iya, betul. Ini Mahakarya peradaban,” celetuknya, sembari tersenyum.
Keberadaan Teras Udayana telah mempertegas identitas daerah ini. Sebagai daerah barometer pembangunan di provinsi yang sangat menghargai nilai-nilai luhur budaya.
“Dulu saya kira Teras Udayana ini semacam gelanggang olah raga. Tapi saya terkesima, ternyata panggung ini didedikasikan bagi pelaku seni dan budaya daerah. Bagi saya ini sebuah keberanian dan keberpihakan,” ungkapnya dengan ekspresi riang.
Suatu ketika, pemimpin daerah lain harus mengikuti jejak pemimpin di Kota Mataram.
Keberanian membangun fasilitas ikonik itu, sangat penting memperteguh identitas sebuah daerah.
“Bukan untuk meniru fisik panggungnya. Setiap daerah tentu punya identintas yang bisa ditonjokan. Yang harus ditiru adalah ide pemimpinnya, membuat fasilitas yang visioner bagi identitas daerahnya,” pungkasnya.
Ki Dalang Sadarudin, tokoh sekaligus Budayawan Kota Mataram mengungkapkan kesetujuannya seni dan budaya harus dilestarikan.
Bahkan, tambahnya, diperkuat sebagai identitas dan jati diri daerah.
“Budaya adalah warisan luhur dari para pini sepuh yang dibangun melalui kearifan dan keluhuran budi pekerti,” ungkapnya pada Lombok Post.
Oleh karenanya, ia berpendapat panggung Teras Udayana yang dibangun Wali Kota Mataram periode 2021-2024 H Mohan Roliskana harus dimanfaatkan para pelaku seni dan budaya.
“Ini harus menjadi pusat atau sentral kebangkitan budaya kita,” harapnya.
Ki Sadar mendorong agar setiap detail panggung itu disyiarkan makna filosofinya.
“Jangan hanya menceritakan tentang kemegahannya, sebab bangunan megah itu banyak. Yang perlu diperkuat dari Teras Udayana sebagai pusat kebangkitan budaya adalah menjelaskan makna filosofis setiap detail bangunannya,” ucapnya.
Teras Udayana harus diluhurkan. Dihargai sebagai mahakarya yang dibangun dengan pesan-pesan mulia.
Ki Sadar memaparkan, anjuran meluhurkan bukan berarti ajakan menjadikan Teras Udayana pusat peribadatan. Melainkan menonjolkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam setiap detail bangunnya.
“Seperti misalnya kenapa undak-undak (tangga, Red) jumlahnya sekian, apa makna filosofinya. Syiarkan itu pada pengunjung agar mereka mendapatkan pelajaran nilai luhur dari bangunan ini,” sarannya.
Begitu juga dengan gambar yang menyerupai gunung wayang. Baginya semua detail bangunan teras Udayana harus punya makna filosofis agar generasi demi generasi menghargainya bukan karena kemegahan tapi karena kandungan nilai luhurnya.
“Ukuran megah ini kan tergantung waktu. Apa yang kita anggap megah hari ini, pudar seiring waktu dengan munculnya bangunan yang lebih besar dan berbiaya lebih mahal lagi. Tapi, bangunan yang memiliki nilai luhur, tetap akan dihargai dan dihormati sampai kapanpun,” paparnya.
Ki Sadar mengatakan, teras Udayana berpotensi menjadi bangunan yang luhur dan dihormati.
“Asalkan bangunan ini jangan hanya kita bangun fisiknya saja, tetapi jiwanya juga dibangun,” paparnya.
Terlepas dari itu, Ki Sadar mendorong agar warga berterima kasih pada pemimpin Kota Mataram yang telah memperjuangkan lahirnya teras Udayana.
Baginya, bangunan itu merupakan simbol keberpihakan pada seni, budaya, dan nilai luhur suku bangsanya.
“Hajat pemerintah yang telah membangun teras Udayana ini harus kita sambut baik dengan memanfaatkan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (tim/r3)
Editor : Kimda Farida