Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belajar Kegigihan Berbisnis dari I Wayan Pasek, Bertahan Antar Barang dengan Sistem COD

nur cahaya • Minggu, 24 November 2024 | 09:27 WIB

 

GIGIH: I Wayan Pasek memutar kendaraannya usai mengantarkan barang di salah satu rumah di Cakranegara, Jumat (22/11). HARLI/LOMBOK POST
GIGIH: I Wayan Pasek memutar kendaraannya usai mengantarkan barang di salah satu rumah di Cakranegara, Jumat (22/11). HARLI/LOMBOK POST
 

 

LombokPost-Untung dan rugi hal yang lumrah terjadi dalam dunia bisnis. Semua itu sudah kenyang dirasakan I Wayan Pasek. Pernah sukses mengembangkan Art Shop di Senggigi. Kini ia bertahan menjual kebutuhan dapur dengan sistem Cash on Delivery (COD).

SUHARLI, Mataram

Galon dan tabung gas elpiji tergantung di belakang sepeda motor Revo. Tabung dan galon berisi air ditutupi banner bekas. Menghindari tabungnya basah dari hujan.

I Wayan Pasek yang memiliki barang, membuka penutup barang. Sambil mengusap bekas air hujan yang bercampur dengan keringat di keningnya. ”Gini sudah sekarang yang dikerjakan,” kata Pasek.

Roda kehidupan terus berputar. Mau tidak mau, untuk tetap bertahan, ia harus mengerjakan apa yang berpotensi bisa menghasilkan cuan. ”Hidup terkadang di atas, terkadang di bawah,” ujarnya.

Pria 55 tahun itu, dahulunya pernah sukses berbisnis art shop di kawasan Senggigi, Lombok Barat (Lobar). “Sejak tahun 1990 saya sudah bisnis art shop,” kata dia.

Saat masih menjalani bisnis itu, rezekinya terus mengalir. Kala itu, kawasan wisata Senggigi menjadi andalan. ”Jadi dulu kalau mau cari uang Rp 500 ribu per hari gampang sekali. Apalagi di zaman itu, uang Rp 500 ribu hitungannya sangat besar,” ujarnya.

Apapun bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. ”Jaya rasanya,” kenangnya.

Tetapi, Art Shop yang dirintisnya mati setelah kawasan wisata Senggigi mati. Dia harus kembali pulang merintis di rumahnya, Cakranegara, Mataram. ”Tidak ada lagi yang bisa dikerjakan. Uang tabungan habis. Sekarang hanya bisa bertahan menjalani sisa tabungan,” kata dia.

Meski sudah merasakan jaya, Pasek tetap gigih. Dia tak malu meskipun hanya jadi penjual sembako. ”Kalau malu, tidak bisa makan,” ucapnya.

Menjual sembako di kawasan Cakranegara ini memiliki banyak saingan. Untuk tetap bertahan, Pasek rela berjualan dengan sistem jemput bola. ”Kalau saya jalankan sistem COD (Cash on Delivery),” ujarnya.

Usaha itu dirintisnya sejak tahun 2019. Kebetulan saat itu sedang terjadi Covid-19. ”Kalau saya tidak keliling tentu barang yang saya jual bakal tidak laku,” ujarnya.

Dari situlah, dirinya berinisiatif menjalankan sistem COD. Sepeda motornya dirancang untuk membawa barang. ”Baru bisa bawa air galon, tabung gas, dan kebutuhan lainnya,” tuturnya.

Awalnya, dirinya hanya mengantarkan ke rumah teman dan tetangganya. Baru pertama keliling memang cukup berat dirasakannya. ”Sehari hanya bisa mengantarkan ke lima titik,” kata dia.

Tetapi, pelanggannya terus bertambah. Sehari bisa mengantarkan ke puluhan titik rumah. “Sekarang sehari mengantarkan hingga ke 40 rumah,” bebernya.

Mulai dari kawasan Cakranegara hingga ke wilayah Selagalas Sandubaya full langgananna. Semua barang itu, diantarkan.

”Masing-masing rumah harus mengantarkan tabung gas dan air galon setiap sepekan sekali. Itu rutin saya antarkan,” ujarnya.

Keuntungan yang bisa didapatkan dari sistem bisnis yang dijalankan cukup besar. ”Per hari bisa bersih dapat Rp 200 ribu. Terkadang juga lebih,” kata dia.

Jika dibandingkan pendapatannya dahulu memang jauh lebih besar. Apalagi dengan nilai uang Rp 200 ribu seperti sekarang ini masih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. ”Paling tidak kita bisa bertahan. Bisnis tetap jalan,” kata dia.

Di zaman saat ini, ditambah dengan usianya yang sudah berkepala lima tidak memungkinkan untuk bekerja lebih keras lagi. ”Yang penting pendapatan kita cukup lah sehari-hari,” ungkapnya.

Semua yang pernah dijalani ketika masih jaya menjadi pelajaran bagi dirinya. Seandainya, dia bisa mengelola keuangan lebih baik, mungkin saat ini dirinya masih merasakan kejayaan.

”Ya, namanya hidup. Tidak bisa kita harus memandang yang dahulu,” pungkasnya. (*/r3)

Editor : Rury Anjas Andita
#Senggigi #art shop #BISNIS #mati #cod